Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Angka adalah bahasa resmi pemerintah. Semuanya dikalkulasikan: pertumbuhan ekonomi, indeks pembangunan, tingkat kemiskinan, inflasi pangan, efektivitas bansos, rating kepercayaan publik. Pada titik tertentu, angka memang penting — ia memberi ukuran. Namun ketika angka menjadi satu-satunya kebenaran, nasib warga berubah menjadi deret statistik. Kehidupan sehari-hari dipadatkan menjadi “naik 0,4 persen, turun 3 persen,” dan tiba-tiba seluruh kecemasan rakyat terasa seolah tak pernah terjadi.
Setiap akhir tahun, pejabat merilis angka capaian dengan penuh kebanggaan. Seolah angka kemiskinan yang “menurun sedikit” berarti rakyat bisa tidur lebih nyenyak. Padahal di warung, di kontrakan, di bilik kamar kos, kita mendengar cerita yang tidak tercatat statistik: pekerja yang gajinya menipis sebelum tengah bulan, susu anak yang menjadi beban, dan harga beras yang naik seperti tak punya rem. Angka yang membaik tidak otomatis menjelaskan perut yang lapar atau pikiran yang kusut.
Baca juga : Kursi dan Kesadaran
Dalam The Rise and Fall of Nations, Ruchir Sharma mengingatkan bahwa angka makro tidak pernah cukup untuk memahami kesejahteraan: negara sering terlihat stabil di atas kertas tetapi rapuh dalam kenyataan. Ketika indikator ekonomi tunduk pada kepentingan politik, statistik bisa berubah menjadi ilusi yang menenangkan elite sekaligus menyesatkan arah kebijakan. Yang berbahaya bukan angka yang salah, tetapi keyakinan buta bahwa angka tidak pernah salah.
Fenomena itu makin terasa di negeri ini. Ketika kritik publik muncul, pejabat merespon dengan presentasi grafik — bukan introspeksi. Ketika warga mengeluh, jawaban resminya adalah “data menunjukkan tren positif.” Seolah data adalah penangkal rasa sakit, dan grafik bisa menggantikan kebutuhan rakyat untuk didengar. Birokrasi terlalu mencintai angka sampai lupa bahwa angka berasal dari tubuh manusia yang bernapas, berjuang, menangis, dan berharap.
Baca juga : Bangsa Yang Berjiwa
Masalahnya bukan pada statistik, tetapi pada cara negara menjadikannya tameng. Padahal angka seharusnya menjadi alarm, bukan kosmetik. Penurunan kemiskinan tidak berarti apa-apa jika kualitas hidup stagnan; pertumbuhan ekonomi tidak berbobot jika hanya menguntungkan segelintir; laporan efektivitas bansos tidak relevan jika antrean dapur umum makin panjang. Angka bisa menghibur pejabat, tetapi tidak bisa membayar uang sekolah.
Kita membutuhkan kebijakan yang menghargai angka tanpa dipenjara olehnya. Negara boleh menghitung, tetapi harus mendengar. Pemerintah boleh memproyeksikan, tetapi harus menyentuh. Angka bisa menjadi kompas, tetapi arah tetap ditentukan oleh nurani. Yang tak tercatat bukan berarti tak penting, dan apa yang terukur belum tentu yang terpenting.
Baca juga : Pemimpin Yang Mendengar
Arah bangsa tidak boleh ditentukan oleh tabel Excel. Ia hanya bisa ditentukan oleh rasa: rasa keadilan, rasa aman, rasa bahagia hidup sebagai warga negara. Jika angka terus menjadi raja, rakyat akan menjadi angka. Bila rasa kembali diberi ruang, angka akan menemukan arah. Dan ketika itu terjadi, pembangunan bukan lagi presentasi — tapi perbaikan hidup yang benar-benar terasa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.