Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Politik yang kita lihat hari ini terlalu sering menyerupai lomba sprint: cepat, ambisius, melelahkan, dan penuh dorongan untuk menang. Para elite berlari mengejar jabatan, partai mengejar kursi, investor mengejar paket insentif, birokrasi mengejar penyerapan anggaran. Yang jarang dikejar hanyalah kesejahteraan warga yang paling rentan. Padahal inti terdalam dari kekua saan bukan kompetisi — melainkan perawatan.
Negara ini tidak kekurangan program, tetapi kekurangan kepedulian. Intervensi sosial dirancang besar-besaran tetapi jarang diikuti perhatian terhadap apa yang terjadi setelah konferensi pers selesai. Warga menerima bantuan tetapi tetap kesepian. Jalan diperbaiki tetapi pasar rakyat tergusur. Sekolah dibangun tetapi anak-anak tidak mendapat pendampingan psikososial. Seolah pembangunan hanya tentang beton, bukan tentang kehidupan.
Baca juga : Kekuasaan Yang Hadir
Dalam The Care Manifesto (2020), The Care Collective menegaskan bahwa peradaban akan runtuh ketika politik berhenti merawat manusia — ketika kebijakan dibuat untuk menata struktur, bukan untuk menjaga kehidupan. Pembangunan tanpa perawatan hanya menciptakan kelelahan sosial, ketimpangan emosional, dan rasa kehilangan arah di tengah kemajuan fisik. Dalam bahasa sederhana: negara bisa bergerak cepat, tetapi tetap meninggalkan terlalu banyak orang di belakang.
Rakyat tidak menuntut negara sempurna. Mereka hanya menunggu negara yang peduli. Ketika banjir datang, mereka ingin melihat tangan negara, bukan angka anggaran. Ketika harga pangan melonjak, mereka butuh solusi, bukan permintaan “bersabar.” Ketika pelayanan publik mengecewakan, mereka perlu permintaan maaf, bukan pembelaan panjang soal sistem. Koreksi bukan kelemahan; kepedulianlah kekuatan tertinggi politik.
Baca juga : Subsidi Rasa Bersama
Politik yang merawat juga berarti politik yang sabar — sabar mendengar, sabar memahami konteks lokal, sabar menerima kritik tanpa tersinggung. Elite yang terburuburu mengambil keputusan demi pencitraan hanya akan mengulang kesalahan yang sama. Politik yang merawat memilih untuk hadir, merenung, dan memperbaiki, bukan berlomba untuk tampak berhasil di depan kamera.
Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang keberhasilan politik. Bukan dari panjangnya daftar proyek, tetapi dari kecilnya jumlah rakyat yang terluka. Bukan dari jumlah gedung yang diresmikan, tetapi dari berapa banyak senyum yang kembali. Pembangunan yang optimal bukan sekadar memajukan negara, tetapi memulihkan kehidupan.
Jika bangsa ini benar-benar ingin maju, ia harus memastikan bahwa di balik setiap kebijakan ada wajah manusia, dan di balik setiap warga ada negara yang merawat. Politik tidak perlu menjadi keras untuk menjadi kuat. Politik yang merawat adalah kekuatan yang paling tahan lama — karena ia berangkat dari cinta pada bangsa, bukan ambisi atas kekuasaan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.