BREAKING NEWS
 

Rakyat Menunggu Negara

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 12 Januari 2026 08:08 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Awal tahun selalu menghadirkan ironi yang sama: rakyat sudah tiba di kesulitan, negara masih di perjalanan. Harga kebutuhan pokok kembali diuji, biaya sekolah menunggu dilunasi, dan layanan publik pelan-pelan membuka pintu. Kalender berganti cepat, tetapi kehadiran negara terasa tertunda. Rakyat memulai Januari dengan urusan nyata; negara memulainya dengan penyesuaian.

Masalahnya klasik dan berulang. Harga naik lebih dulu sebelum kebijakan menenangkan. Sekolah berjalan sebelum bantuan tiba. Layanan dibuka setelah antrean terbentuk. Dalam jeda itu, warga menambal sendiri: berutang, menunda, mengalah. Negara kemudian datang membawa penjelasan, bukan kepastian. Keterlambatan kecil bagi birokrasi berarti beban besar bagi rumah tangga.

Baca juga : Elite Kembali Nyaman

Yang membuat letih bukan semata kesulitan, melainkan rasa menunggu. Menunggu kepastian harga, menunggu petunjuk sekolah, menunggu respons layanan. Menunggu adalah pekerjaan tak terlihat yang menyita energi. Ia tidak tercatat sebagai pengangguran, tidak masuk indikator kemiskinan, tetapi menggerus martabat. Rakyat menunggu negara bukan untuk dimanja, melainkan untuk ditemani.

Adsense

Pierre Rosanvallon, dalam The Society of Equals, menegaskan bahwa ketidaksetaraan modern sering lahir dari jarak relasional—siapa yang didahulukan dan siapa yang dibiarkan menunggu. Negara yang datang terlambat mengirim sinyal berbahaya: ada warga yang harus bersabar lebih lama. Kesetaraan bukan hanya soal hasil, tetapi soal waktu dan perhatian.

Baca juga : Birokrasi Bangun Lambat

Di lapangan, kehadiran negara dirasakan dari hal sederhana: informasi yang jelas sejak awal, layanan yang bergerak serentak dengan kebutuhan, keputusan cepat yang mencegah kepanikan. Ketika itu tidak terjadi, warga membaca pesan lain: negara tahu, tetapi tidak segera bertindak. Kepercayaan lalu terkikis bukan karena niat buruk, melainkan karena ketidaktepatan waktu.

Menariknya, negara sering hadir penuh saat krisis memuncak. Namun awal tahun jarang dianggap krisis. Padahal bagi banyak keluarga, Januari adalah bulan paling rapuh: sisa tabungan menipis, biaya menumpuk, dan adaptasi baru dimulai. Ketidakhadiran pada momen ini memperlebar jurang antara kebijakan dan kehidupan.

Baca juga : Negara Setelah Janji

Rakyat tidak menuntut keajaiban. Mereka menunggu tanda. Tanda bahwa negara paham ritme hidup warganya dan mau bergerak bersamaan. Kehadiran tepat waktu adalah bentuk penghormatan paling sederhana. Jika negara belajar datang lebih awal—atau setidaknya tidak terlambat—menunggu akan berubah menjadi percaya. Dan dari sanalah, kerja bersama bisa dimulai.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense