Dark/Light Mode

Elite Kembali Nyaman

Jumat, 9 Januari 2026 07:57 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Libur usai, elite kembali nyaman. Meja rapat kembali rapi, agenda konsolidasi disusun, isu reshuffle dibaca sebagai peluang, dan peta koalisi digambar ulang. Kekuasaan cepat pulih—seolah tak pernah lelah. Di luar pagar gedung-gedung itu, rakyat masih menata napas: utang menunggu, harga belum jinak, kerja belum pasti. Dua ritme berjalan berlawanan, namun jarang dipertemukan.

Awal tahun biasanya menjadi musim aman bagi elite. Wacana berputar di lingkaran yang sama: siapa mengisi kursi apa, siapa merapat ke siapa, siapa dijaga dan siapa dilepas. Politik kembali menjadi permainan internal, rapi dan tertutup. Sementara itu, rakyat menilai negara dari hal-hal kecil yang belum berubah: antrean layanan, ongkos hidup, dan ketidakpastian harian. Kenyamanan di atas, kerapuhan di bawah.

Baca juga : Birokrasi Bangun Lambat

Konsolidasi sering dibungkus sebagai stabilitas. Padahal stabilitas yang tidak menyentuh kehidupan warga hanyalah ketenangan elite. C. Wright Mills, dalam The Power Elite, mengingatkan bahwa kekuasaan cenderung menguat pada segelintir jaringan yang saling menjaga kepentingan, sementara kebutuhan publik diperlakukan sebagai latar belakang. Ketika itu terjadi, politik kehilangan daya korektifnya—ia sibuk merawat dirinya sendiri.

Tanda-tandanya mudah dikenali: perdebatan kebijakan kalah ramai dari gosip kursi; solusi struktural kalah cepat dari kompromi jangka pendek. Elite merasa aman karena mesin kekuasaan berfungsi, sementara rakyat merasa sendirian karena mesin itu tidak mengubah hidup mereka. Kenyamanan elite bukan dosa; yang bermasalah adalah ketika kenyamanan itu dibangun di atas penundaan keadilan.

Baca juga : Negara Setelah Janji

Ironisnya, jarak ini sering dikecilkan dengan bahasa optimisme. “Ekonomi membaik”, “investasi masuk”, “program berlanjut”. Semua terdengar baik, tetapi tidak segera terasa. Rakyat lalu dianggap kurang sabar. Padahal kesabaran bukan sumber daya tak terbatas. Ia menipis ketika ketimpangan ritme terus berulang: kekuasaan bergerak cepat untuk dirinya, lambat untuk warganya.

Awal tahun mestinya menjadi momen koreksi, bukan relaksasi. Jika elite benar-benar ingin stabilitas, cara tercepat bukan mengunci koalisi, melainkan membuka telinga. Kebijakan kecil yang meringankan hidup—akses layanan, kepastian harga, kecepatan respons—lebih ampuh meredam kegelisahan daripada pertemuan elit yang berlapis-lapis. Kenyamanan sejati lahir dari kepercayaan publik, bukan dari kursi yang aman.

Baca juga : Negara Yang Bernapas

Rakyat tidak menuntut elite menderita. Mereka menuntut empati yang bekerja. Kekuasaan boleh pulih cepat, tetapi ia harus menunggu rakyat menyusul—atau membantu mereka menyusul. Jika tidak, awal tahun akan kembali dicatat sebagai musim nyaman bagi segelintir, dan musim bertahan bagi banyak. Dan jarak itu, cepat atau lambat, selalu menagih harga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.