Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Desember selalu membawa suasana keagamaan yang pekat. Gereja ramai, masjid penuh dengan kegiatan, tempat ibadah dari berbagai agama hidup dalam kalender suci masing-masing. Tetapi ada kegetiran lain yang ikut terasa: semakin religius ruang publik kita, semakin sering pula kita menyaksikan ujaran kebencian, saling serang di media sosial, dan sikap saling mengukur iman orang lain. Seolah agama semakin besar, tetapi cinta semakin kecil.
Kita sibuk membela Tuhan, tetapi lupa mengasihi sesama. Kita bangga memperbanyak kegiatan ibadah, tetapi gagal menurunkannya menjadi empati terhadap tetangga yang kesulitan. Agama berubah menjadi identitas, bukan sumber belas kasih; menjadi panji perlawanan, bukan ruang penyembuhan. Di titik ini, masalahnya bukan pada agama, tetapi pada manusia yang menggunakan agama sebagai alat, bukan sebagai cahaya.
Karen Armstrong dalam Twelve Steps to a Compassionate Life (2010) mengingatkan bahwa inti semua tradisi suci bukanlah doktrin, tapi kasih. Ritual hanya tangga — puncaknya adalah welas asih. Ketika agama kehilangan kasih, ia kehilangan inti tujuannya. Kita bisa hafal kitab, tetapi gagal memuliakan manusia. Kita bisa marah demi Tuhan, tetapi tak bisa menenangkan hati yang terluka di rumah sendiri.
Hari demi hari, kita lebih sering melihat agama dipakai sebagai pembatas: “kami” dan “mereka”, “paling benar” dan “tersesat”, “umat asli” dan “pendatang”. Dalam model ini, agama berubah menjadi benteng identitas yang dibangun oleh ketakutan, bukan kepercayaan. Padahal agama datang untuk mempersatukan, bukan memisahkan; untuk menyembuhkan batin manusia, bukan menambah luka sosial.
Baca juga : Negara yang Mengasuh
Negara pun perlu berhenti memperlakukan agama sebagai alat stabilitas politik atau ornamen seremoni. Agama punya potensi besar sebagai energi penyembuhan sosial: memperkuat solidaritas, menenangkan hati rakyat, menggerakkan bantuan untuk yang menderita. Tetapi itu hanya terjadi ketika politik membiarkan agama bekerja dalam ruh aslinya — bukan dalam standar kompetisi identitas.
Kita juga harus jujur pada diri sendiri: kedalaman spiritual bangsa ini tidak akan diukur dari seberapa padat rumah ibadah di akhir pekan, tetapi seberapa rendah angka anak kelaparan, seberapa ramah kota bagi kaum disabilitas, seberapa cepat bantuan tiba pada keluarga yang putus pekerjaan. Tidak ada yang lebih suci daripada memberi ruang hidup bagi sesama.
Baca juga : Politik Yang Merawat
Desember ini, mungkin kita tidak butuh lebih banyak perdebatan agama. Kita butuh lebih banyak cinta. Sebab cinta adalah satu-satunya bahasa yang dipahami setiap iman, setiap kitab, setiap jiwa. Jika bangsa ini ingin damai, jangan hanya memperbanyak ajaran — perbanyak kehangatan. Agama tanpa cinta hanya menghasilkan kebisingan. Agama dengan cinta akan melahirkan peradaban.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.