BREAKING NEWS
 

Salah Hitung, Perang Dunia

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Selasa, 20 Januari 2026 06:46 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia hari ini seperti dua orang yang berdiri di atas genangan bensin sambil memegang korek api. Satu percikan saja, entah disengaja atau karena tangan yang gemetar, bisa membakar semuanya.

Itulah bayangan Perang Dunia III. Namun, di balik kengerian itu, ada ala san kuat untuk tetap optimis. Dunia ti dak sedang menuju kehancuran. Kita, terutama para pemimpin, hanya butuh kata hati dan nurani: jangan bertindak bodoh.

Optimisme ini bukan omong kosong. Satu contoh, ekonomi. Sekarang, ekonomi dunia saling mengunci. Memicu atau menyalakan api perang adalah bunuh diri finansial. Juga bunuh diri massal.

Ponsel misalnya. Saat ini tidak dirancang di satu negara. Banyak negara terlibat. Termasuk Indonesia. Bahannya dari banyak negara, lalu dirakit di negara-negara lainnya. Menyerang lawan, sama dengan menembak kaki sendiri.

Kalau pemimpin punya pemikiran seperti itu, bagus. Yang dikhawatirkan hari ini adalah potensi “salah kalkulasi”. Salah menilai. Keliru membaca. Bahkan, kalau pun mengandalkan AI.

Baca juga : Tahu Sama Tahu, Game Changer

Misalnya, mengira lawan tak akan berani menyerang balik, padahal tidak. Atau, drone nyasar dibalas dengan rudal. Atau, latihan perang gabungan dinilai sebagai tantangan atau ajakan perang. Atau, tidak adanya komunikasi.

Salah satu yang tetap diingat dan banyak ditulis buku-buku sejarah yakni krisis rudal Kuba. Kejadiannya tahun 1962. Beberapa channel Youtube, banyak mengangkat hal ini. Terutama dikaitkan dengan situasi dan kondisi mencekam saat ini.

Saat itu, di dalam kapal selam Uni Soviet B-59 yang sesak, dua perwira sudah siap meluncurkan torpedo nuklir. Protokolnya, sebelum menarik tuas, harus disetujui tiga orang. Dua perwira itu panik karena ada dentuman di luar kapal.

Adsense

Mereka mengira perang sudah dimulai di atas sana. Padahal itu hanya peringatan dari armada AS yang mengepung mereka. Dunia tinggal menunggu hitungan detik untuk hangus.

Lalu muncul Vasily Arkhipov, orang ketiga yang harus dimintai persetujuan. Dia bukan presiden. Dia hanya seorang perwira yang berani berkata “tidak” di tengah kepanikan. Dia menolak menarik tuas eskalasi karena memilih untuk berpikir. Bukan sekadar bereaksi.

Baca juga : Berani Menutup “Luka” Lama

Arkhipov adalah bukti bahwa satu orang yang tetap berkepala dingin bisa menyelamatkan miliaran nyawa. Hari ini, kita butuh ribuan “Arkhipov” di ruang-ruang kendali.

Mereka bisa berstatus sebagai “orang kepercayaan”, orang dekat, penasihat, atau cuma “sekrup kecil” yang seolah tak berfungsi, namun memiliki suara dan pikiran jernih.

Ketika penentu kebijakan “salah baca” atau keliru kalkulasi, mau menang sendiri, tak mau mendengar suara-suara jernih, dalam hal apa pun, maka dunia berada dalam ancaman serius.

Salah baca dan keliru kalkulasi itu bisa terjadi di ruangan kecil yang sangat privat, di perbatasan NATO, di Selat Taiwan, Laut Natuna Utara atau Laut Cina Selatan hingga di ruang server perang siber.

Sebuah drone yang nyasar atau serangan peretas bisa saja dianggap sebagai ajakan perang. Kalau salah baca, kemudian dibalas: Booom!!!

Baca juga : Korupsi Dan Orang-orang Biasa

Di sinilah para pemimpin dunia harus bertindak. Mereka butuh “hotline” 24 jam sehari yang tidak boleh mati. Dan yang terpenting: kerendahan hati untuk saling mengklarifikasi sebelum saling menembak.

Dunia ini milik bersama. Bukan milik satu atau dua orang. Dunia tidak bisa lagi hanya mengandalkan keberuntungan seperti di tahun 1962. Apalagi kalau keberuntungan itu hanya datang satu kali.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense