Dark/Light Mode

Bukan Sekadar Gadis Cantik

Kamis, 8 Januari 2026 06:42 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Diplomasi sudah mati. Meja perundingan kini terasa dingin. Yang tersisa hanya “berapa cadangan mineral” dan moncong senjata. Ada pula kapal patroli di laut yang diperebutkan. Ada serangan di arena digital. Begitulah. Dingin. Brutal. Sangat menentukan.

Saat ini, gaya diplomasi bukan lagi sekadar siapa yang paling pintar bicara dan merayu, tapi siapa yang paling kuat menggenggam sumber daya. Di tengah pusaran ini, Indonesia berdiri. Kita bukan sekadar penonton. Kita adalah sasaran, target, sekaligus penentu.

Fenomena global terbaru menunjukkan betapa telanjangnya ambisi kekuasaan saat ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump terang-terangan mengincar Greenland, wilayah otonomi Denmark, setelah sebelumnya meng guncang Venezuela. Alasannya gamblang: lokasi strategis dan kekayaan sumber daya mineral Greenland.

Lagi-lagi, sumber daya alam menjadi pemicu badai. Sebagai negara yang diberkati harta karun bumi yang melimpah, Indonesia dipaksa berlayar di tengah badai kepentingan ini. Dan kita, mau tidak mau, harus mampu bertahan.

Baca juga : Catur Dunia Tanpa Wasit

Saat ini, Indonesia dinilai sebagai “gadis cantik” di pesta geopolitik yang berbahaya. Menariknya, “pesta” itu berlokasi tepat di jalur lintasan konflik yang bisa meledak kapan saja: Laut Natuna Utara. Atau, pihak lain menyebutnya Laut Cina Selatan.

Di laut itu, kedaulatan kita diuji setiap hari oleh bayang-bayang kapal asing. Sementara di daratan, nikel kita menjadi incaran raksasa teknologi dunia.

Kekayaan ini sering kali datang berbarengan dengan “tawaran yang seolah- olah tidak bisa ditolak”. Tawaran yang jika kita tidak waspada, akan menyandera dan menjebak kita menjadi tawa- nan geopolitik. Dalam jangka panjang.

Karena itu, kita tidak boleh hanya menjadi objek serta “gadis cantik” yang diperebutkan. Indonesia harus menjadi tuan rumah yang memegang kendali pesta.

Baca juga : Pasar Rakyat Atau Restoran?

Kekuatan Indonesia sesungguhnya terletak pada ketahanan domestik. Hal ini seringkali diingatkan oleh Presiden Prabowo: jika bangsa ini kuat dan solid, tekanan dari luar tidak akan mudah merobohkan kita.

Namun, jika kita rapuh; karena korupsi, ketidakadilan, serakahnomics, dapur rakyat yang tidak ngebul, hingga pemanfaatan alam yang tidak menyejahterakan seluruh rakyat, maka Indonesia akan sangat mudah “diobok- obok”. Harta karun kita akan dikeruk hanya untuk memakmurkan bangsa lain. Sekarang, dan nanti.

Saat dunia haus akan energi masa depan, mereka harus datang ke Indonesia dengan syarat mutlak: bangun pabrik di sini, transfer ilmunya, dan ciptakan lapangan kerja untuk rakyat Indonesia.

Indonesia harus tetap berdaulat tanpa perlu bermusuhan. Kita menjadi kawan bagi semua, namun kawan yang memiliki prinsip dan “taring” ekonomi. Bukan yang lemah dan dikendalikan.

Baca juga : 2026: Tenang Dan Melumat?

Pada akhirnya, kita berharap, sejarah tidak mencatat kita sebagai bangsa yang hanya duduk manis saat masa depannya dikuras. Kita perlu melukis wajah baru tatanan dunia sebagai subjek yang merdeka.

Indonesia tidak akan mengekor ke blok mana pun, karena Indonesia adalah blok itu sendiri. Di kelas menengah, Indonesia termasuk negara kuat. Bisa menjadi penyeimbang yang memastikan bahwa timbangan dunia tidak hanya berat ke satu sisi.

Mari berhenti menjadi rebutan dan dimanfaatkan orang lain. Saatnya untuk lebih serius menjadi kekuatan yang menentukan. Karena, Indonesia bukan sekadar “gadis cantik”.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.