BREAKING NEWS
 

Layanan Tak Sabar

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 9 Februari 2026 08:14 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Negara meminta sabar, sistem justru terburu-buru. Di awal Februari, lonjakan kebutuhan kembali bertemu dengan kesiapan yang setengah. Antrean memanjang, rujukan berlapis, formulir beranak-pinak. Warga diminta memahami keterbatasan, sementara layanan bergerak dengan ritme panik—cepat menutup, lambat menyelesaikan.

Ketidaksiapan ini bukan peristiwa baru. Ia berulang setiap kali kalender berganti dan program diluncurkan serentak. Beban naik, kapasitas tak disesuaikan. Akibatnya, yang terjadi bukan efisiensi, melainkan penyaringan diam-diam: yang kuat bertahan, yang rapuh tersingkir. Sistem tampak berjalan, tetapi keadilan tergerus.

Baca juga : Ketika Data Ditolak

Paradoksnya jelas. Di podium, kesabaran dipromosikan sebagai kebajikan warga. Di loket, waktu dipangkas, prosedur dipercepat tanpa empati. Ketergesaan administratif melahirkan keputusan kaku—menolak karena tak lengkap, mengalihkan karena kuota. Kesabaran berubah menjadi syarat sepihak.

Adsense

Di garis depan, petugas terjepit. Target ditekan dari atas, keluhan datang dari bawah. Tanpa ruang diskresi yang jelas, layanan memilih aman: patuh pada aturan meski melukai rasa adil. Di sini, masalah bukan pada individu, melainkan pada desain sistem yang tak memberi waktu untuk manusia.

Baca juga : Kebijakan Bertemu Rakyat

Michael Lipsky telah lama mengingatkan bahwa kebijakan publik sesungguhnya dibuat di meja petugas garis depan—street-level bureaucrats—yang bekerja di bawah tekanan waktu dan sumber daya (Street-Level Bureaucracy, 1980). Jika sistem memaksa terburu-buru, maka hasilnya adalah layanan yang defensif, bukan solutif.

Perbaikan menuntut perubahan ritme. Tambah kapasitas saat lonjakan diprediksi, sederhanakan alur tanpa menghilangkan perlindungan, dan berikan diskresi yang akuntabel. Yang paling penting, ukur keberhasilan layanan dari pengalaman pengguna, bukan semata dari kecepatan menutup berkas.

Baca juga : Keberanian Pertama

Kesabaran tidak boleh hanya menjadi permintaan moral kepada warga. Ia harus diwujudkan sebagai desain kebijakan yang memberi waktu, ruang, dan empati. Jika negara ingin didengar saat meminta sabar, sistemnya harus lebih dulu belajar menunggu—mendengar—dan melayani dengan tenang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense