BREAKING NEWS
 

Taruhan Nasib Seratusan Dolar

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Selasa, 10 Maret 2026 06:27 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Debu panas serangan AS–Israel terhadap Iran, akhirnya sampai juga ke Indonesia. Menembus tangki kendaraan.Bahkan menjalar sampai ke dapur.

Penyebabnya: harga minyak dunia yang melambung sangat tinggi. Nembus sampai 100 dolar AS. Bahkan 118 Dolar AS per barel. Ini benar-benar tantangan sesungguhnya. Apalagi, beberapa pakar di Timur Tengah memperkirakan harganya bahkan bisa menembus 150 dolar AS per barel!

Bagi rakyat, satuannya bukan barel. Tapi liter. Pertanyaannya: apakah BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar akan naik?

“Insya Allah tidak ada kenaikan harga BBM subsidi sampai Lebaran,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, di Jakarta, kemarin.

Baca juga : Generasi Perang Di Simpang Jalan

Kalimat itu pendek. Tegas. Dan bagi jutaan rakyat Indonesia, terdengar seperti nyanyian pengantar tidur yang menenangkan di tengah badai.

Tapi, hanya sampai Lebaran? Setelah Lebaran, apakah masih bisa ditunda lagi “sampai akhir Maret”, lalu “sampai pertengahan tahun”, lalu “kita lihat perkembangan”?

Sementara di luar sana perang belum juga menunjukkan tanda-tanda lelah. Trump belum ingin berhenti. Netanyahu sama saja.

Adsense

Iran pun begitu, “ente jual, ane borong”. Dunia seperti sedang memainkan korek api di gudang bensin.

Baca juga : Generasi Perang Di Simpang Jalan

Dan seperti biasa, percikannya jatuh ke tmpat yang jauh. Ke negara-­negara yang sebenarnya tidak ikut bertempur. Ke rakyat yang bahkan tidak tahu letak ladang minyak itu di peta dunia.

Rakyat Indonesia yang tidak pernah ikut rapat perang di Timur Tengah, juga kena. Tapi setiap kali harga minyak melonjak, rakyat selalu diharapkan bisa “memahami situasi global”.

Kalimat itu baik dan bijak. Tapi bagi rakyat, “situasi global” itu terasa sangat lokal. Taruhannya sangat nyata. Satu liter bensin sama dengan satu piring makan malam. Satu kali perjalanan pulang pergi ngantar anak atau cucu ke sekolah. Begitulah ukuran ekonomi rakyat.Bukan grafik. Bukan indeks. Bukan barel.

Karena itu, janji tidak menaikkan BBM sampai Lebaran tentu patut disyukuri. Tapi bangsa ini juga tahu: Lebaran hanya satu titik di kalender. Sementara kehidupan berjalan setiap hari. Setelah ketupat habis. Setelah tamu pulang. Setelah jalanan kembali macet seperti biasa.

Baca juga : Potong Rumput, Piara Monster

Pertanyaannya kembali sederhana: apa rencana berikutnya? Di sinilah pemerintah harus benar­-benar memutar otak. Kencang. Bahkan sangat kencang. Harus ada strategi. Harus ada keberanian. Harus ada kreativitas kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Karena di ujung semua kebijakan energi, selalu ada wajah dan nasib rakyat kecil. Bukan kepentingan sesaat segelintir elite.

Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari cadangan devisa atau stabilitas fiskal­nya. Tapi darisatu hal yang lebih sederhana:

Apakah rakyatnya masih bisa hidup tenang. Apakah dapurnya masih bisa menyala. Apakah kendaraan masih bisa mengaspal. Apakah negaranya berdiri di pihak mereka. Sesederhana itu. Dan, yang pasti, keberpihakan itu tidak hanya sampai Lebaran.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense