RM.id Rakyat Merdeka - Kepercayaan jarang runtuh sekaligus. Ia tidak jatuh seperti tembok yang dihantam badai, melainkan retak perlahan. Sedikit demi sedikit, melalui pengalaman kecil yang berulang: janji yang tak ditepati, layanan yang tak membaik, atau respons yang terasa dingin. Retakan itu lama-lama terlihat, meski pada awalnya hampir tak disadari.
Menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi tidak selalu terlihat dalam angka besar. Ia muncul dalam bentuk yang lebih halus: sinisme di warung kopi, komentar pendek di media sosial, atau kalimat sederhana seperti “percuma”. Negara mungkin masih berdiri kuat secara struktural, tetapi hubungan emosional dengan warga mulai melemah.
Baca juga : Dialog atau Formalitas
Masalahnya bukan pada satu kebijakan atau satu kesalahan. Retaknya kepercayaan biasanya lahir dari akumulasi. Setiap penundaan kecil, setiap jawaban defensif, setiap kebijakan yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari menambah garis retakan baru. Dalam jangka panjang, retakan itu membentuk pola ketidakpercayaan.
Institusi sering mengira kepercayaan bisa dijaga melalui kinerja administratif semata. Padahal kepercayaan juga soal pengalaman moral: apakah warga merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan adil. Ketika pengalaman ini tidak konsisten, angka keberhasilan kebijakan sulit menutupi keraguan publik.
Baca juga : Represif yang Halus
Francis Fukuyama dalam kajiannya tentang trust menunjukkan bahwa kepercayaan sosial adalah fondasi bagi stabilitas institusi modern. Tanpa kepercayaan, sistem formal tetap berjalan, tetapi legitimasi moralnya melemah (Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity, 1995). Negara mungkin masih berfungsi, tetapi tidak lagi diyakini.
Memulihkan kepercayaan jauh lebih sulit daripada menjaganya. Ia tidak bisa diperbaiki dengan kampanye komunikasi atau slogan optimisme. Ia membutuhkan perubahan nyata dalam cara negara bekerja: lebih terbuka terhadap kritik, lebih cepat memperbaiki kesalahan, dan lebih peka terhadap pengalaman warga.
Baca juga : Suara yang Mengganggu
Kepercayaan yang retak adalah peringatan dini. Ia memberi kesempatan bagi negara untuk memperbaiki sebelum keretakan menjadi jurang. Jika kesempatan ini diabaikan, hubungan antara negara dan warga akan terus menipis—dan ketika kepercayaan benar-benar hilang, membangunnya kembali membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.