Dark/Light Mode

Dialog atau Formalitas

Jumat, 13 Maret 2026 08:11 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Dialog selalu terdengar indah dalam bahasa politik. Ia menjanjikan pertemuan, keterbukaan, dan saling memahami. Namun tidak semua dialog benar-benar dimaksudkan untuk mendengar. Banyak yang berlangsung rapi, penuh kata-kata baik, tetapi berakhir tanpa perubahan apa pun.

Dalam beberapa minggu terakhir, undangan dialog bermunculan. Pemerintah mengundang perwakilan masyarakat, kelompok sipil, dan tokoh publik. Forum dibuka, aspirasi dicatat, foto bersama diambil. Dari luar, semuanya tampak sehat—demokrasi berjalan, komunikasi terbuka. Namun setelah forum selesai, kebijakan tetap berjalan seperti semula.

Baca juga : Represif yang Halus

Di sinilah dialog berubah menjadi formalitas. Ia menjadi ritual administratif yang memberi kesan partisipatif, tetapi tidak memengaruhi keputusan. Warga diberi ruang berbicara, tetapi bukan ruang menentukan. Kritik didengar, tetapi tidak benar-benar dipertimbangkan.

Dialog yang sejati menuntut risiko bagi kekuasaan: kemungkinan untuk berubah. Tanpa risiko itu, dialog hanya menjadi panggung legitimasi. Negara tampak terbuka, tetapi sebenarnya hanya memperkuat keputusan yang sudah dibuat sebelumnya.

Baca juga : Suara yang Mengganggu

Jürgen Habermas menyebut bahwa demokrasi deliberatif hanya bermakna jika komunikasi publik benar-benar memengaruhi pembentukan keputusan (Between Facts and Norms, 1992). Tanpa hubungan antara percakapan dan kebijakan, dialog kehilangan fungsi demokratisnya.

Masalahnya bukan pada jumlah dialog, melainkan pada kualitas mendengar. Mendengar berarti memberi ruang bagi argumen yang mungkin mengubah rencana. Ia membutuhkan kerendahan hati institusional—kesediaan menerima bahwa kebijakan bisa salah atau perlu diperbaiki.

Baca juga : Ketika Janji Diuji

Banyak dialog terjadi, sedikit yang benar-benar mendengar. Negara yang matang tidak takut pada dialog yang mengubah arah. Justru di sanalah legitimasi tumbuh—ketika percakapan publik bukan sekadar formalitas, tetapi jalan nyata menuju keputusan yang lebih adil.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.