BREAKING NEWS
 

Alarm Nyaring Dari Bekasi

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Minggu, 3 Mei 2026 06:10 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Tragedi kereta api di Bekasi Timur membuka kembali luka lama tentang rapuhnya sistem keselamatan transportasi kita.

Kecelakaan ini bukan hanya tentang 16 nyawa yang hilang. Ini adalah potret buram yang sudah lama kita tahu, tetapi terlalu sering kita abaikan hingga akhirnya kembali menelan korban.

Respons pemerintah terbilang cepat. Anggaran Rp 4 triliun untuk infrastruktur keselamatan disiapkan. Sebanyak 1.800 titik perlintasan akan diperbaiki. Sinyalnya jelas: negara hadir dan ingin memperbaiki.

Ini penting. Patut diapresiasi. Namun kehadiran tidak boleh berhenti pada reaksi sesaat, melainkan harus menjelma menjadi perubahan nyata yang terasa hingga ke titik-titik paling rentan di lapangan.

Kita berharap momentum ini menjadi langkah awal untuk evaluasi total. Evaluasi yang melahirkan solusi sistemik. Bukan sekadar langkah tambal sulam yang meredup seiring waktu.

Baca juga : Di Dalam Tetap Galak?

Harapan itu bukan tanpa alasan. Karena, pengalaman juga mengingatkan, semangat di tingkat pusat kerap melambat ketika memasuki level menengah birokrasi. Tersendat dalam implementasi, melemah dalam pengawasan, dan kabur dalam koordinasi.

Kita pernah melihatnya sejak Tragedi Bintaro I hingga Tragedi Bintaro II. Terkesan reaktif, sesaat, lalu dilupakan. Sampai ada kabar duka berikutnya. Dan kita tersentak lagi. Bicara perlintasan kereta lagi.

Menyikapi serius tragedi ini sangat penting. Apalagi persoalannya jauh lebih besar dari satu peristiwa.

Adsense

Data kecelakaan lalu lintas nasional menunjukkan puluhan ribu korban meninggal setiap tahun. Sekitar tiga orang setiap jam.

Ini bukan lagi sekadar isu transportasi, tetapi krisis keselamatan publik yang nyata, terutama karena banyak korban berasal dari usia produktif.

Baca juga : Bukan Sekadar Dua Periode

Akar masalahnya sudah jelas. Faktor manusia. Infrastruktur. Kondisi kendaraan. Penegakan hukum. Pengawasan. Semua sudah sering disebut, tetapi jarang disentuh secara utuh, koordinatif, dan konsisten.

Dan yang kerap luput adalah tata kelola. Koordinasi antar lembaga terkesan lemah. Cenderung saling menunggu, hingga praktik lempar tanggung jawab. Akibatnya, kebijakan berhenti di atas kertas tanpa dampak berarti di lapangan.

Karena itu, solusi tidak bisa parsial. Membangun flyoveratau terowongan memang penting. Tetapi, itu hanya satu bagian dari pekerjaan besar.

Tragedi Bekasi Timur, Senin (27/4/26), seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar catatan duka, melainkan momentum untuk memutus siklus lama yang terus berulang.

Setiap nyawa, laki atau perempuan, sama saja, terlalu berharga untuk hilang sia-sia. Terlalu mahal untuk dikorbankan oleh kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah.

Baca juga : Sertifikat Vs Integritas

Arahan dari atas sudah jelas: perbaiki segera. Jangan terjebak dalam siklus reaktif atau pola yang sama: berduka, disorot, bereaksi. Lalu lupa.

Alarm dari Bekasi Timur sudah sangat nyaring. Bangun. Perbaiki. Jangan bangun hanya untuk mematikan alarm, lalu tidur lagi, sampai alarm berikutnya berbunyi lagi. Jangan. Ayo!(*)

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 3 Mei 2026 dengan judul "Alarm Nyaring Dari Bekasi"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense