Dark/Light Mode

Bantuan Oksigen Untuk Rakyat

Selasa, 7 April 2026 06:57 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Keputusan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah bulat: harga BBM subsidi tidak akan bergeser satu rupiah pun sampai akhir tahun 2026.

Ini merupakan langkah kemanusiaan yang layak diapresiasi, walaupun kita perlu menunggu perkembangan geopolitik, terutama di Timur Tengah.

Purbaya menyampaikan tekad dan “janji suci” itu di depan Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026). Pertalite dan Solar dipaku pada harga lama. Tidak naik. DPR menyambut kebijakan itu dengan tepuk tangan. Tentu saja, rakyat juga menyambutnya dengan tepuk tangan.

Dalam situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, kebijakan ini seolah menjadi bantuan oksigen untuk rakyat agar bisa bernapas lebih lega. Termasuk un tuk kelas menengah yang sedang berada di “zona abu-abu”: tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, namun tidak cukup kaya untuk menahan guncangan.

Baca juga : Laboratorium Hari Jumat

Kita menghargai langkah ini, karena, kalau harga BBM naik, inflasi akan menggila secara berantai. Harga pangan, sampai gorengan di pinggir jalan, akan melonjak. Tarif angkutan meroket. Daya beli masyarakat bakal rontok seketika.

Namun, tidak ada makan siang gratis. Tekad tidak menaikkan harga BBM sampai akhir tahun disertai syarat dan ketentuan: kalau asumsi rata­rata harga minyak dunia di angka 100 dolar AS per barel.

Sebuah angka yang optimis, sekaligus mendebarkan. Karena, walaupun kita berharap harga minyak dunia tidak mengalami lonjakan drastis, kita perlu juga bersiap: bagaimana kalau geopolitik dunia memanas dan harga minyak melampaui asumsi? Nah, inilah tantangannya.

Tantangan ini antara lain akan diberikan kepada pemerintah daerah, kementerian dan lembaga. Mampukah mereka tetap inovatif dan produktif di tengah efisiensi atau penghematan yang lebih ketat? Kalau ada dampaknya, bagaimana jalan keluarnya.

Baca juga : Polycrisis: Ujian Kita

Sekali lagi, apresiasi layak diberikan atas keberanian menjaga stabilitas. Namun, jangan sampai kita terlena dalam kenyamanan ini.

Dalam jangka panjang, tekad untuk menciptakan kemandirian dan ketahanan energi perlu benar­benar diseriusi. Misalnya, dengan membangunan tempat penyimpanan atau storage BBM yang lebih memadai.

Karena, kita tidak ingin terkaget- kaget lagi kalau Selat Hormuz atau jalur energi lainnya terputus. Kita tidak ingin terus­menerus dilanda kecemasan setiap kali ada gejolak geopolitik. Sesungguhnya, untuk itu, bangsa ini punya modal, dan mampu.

Dan yang tak kalah pentingnya, kita tetap butuh keseimbangan yang cermat. Pertama, memastikan bahwa tangki motor rakyat tetap penuh dengan harga terjangkau.

Baca juga : Perang Di Piring Kita

Kedua, walau ada penghematan anggaran, pemerintah daerah tetap bisa bernapas lega dan bisa berkarya lebih produktif. Ketiga, memastikan bahwa mesin ekonomi negara tidak kehabisan oli dan terengah­engah di tengah jalan.

Ini tantangan menarik yang layak diperjuangkan serta ditunggu hasilnya. Dan, pada saatnya, rakyat selalu siap memberikan tepuk tangan yang lebih meriah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.