Dark/Light Mode

“Luka Membeku” Di Islamabad

Kamis, 9 April 2026 05:57 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Gencatan senjata antara AS–Israel dan Iran menghadirkan kelegaan bercampur cemas. Empat belas hari ke depan menjadi penentu.

Dunia menanti dengan harap-harap cemas. Apakah perundingan damai di Islamabad, Pakistan yang dimulai besok, akan menghasilkan perdamaian aba di, atau hanya jeda sebelum badai berikutnya?

Apa yang terjadi dalam dua pekan ini penting. Bahkan sangat penting. Dunia berharap, berhasil. Ada perdamaian abadi. Tapi sejarah mengajarkan kita untuk tetap optimistis sembari waspada.

Kita bisa belajar dari Perang Korea. Konflik yang pecah pada Juni 1950 itu melibatkan kekuatan besar: Amerika Serikat di pihak Selatan, China di pihak Utara. Perang berlangsung tiga tahun. Berakhirnya bukan dengan damai, melainkan gencatan senjata pada Juli 1953.

Artinya, sampai hari ini, kedua Korea secara teknis masih berperang. Tidak pernah ada perjanjian damai resmi. Tidak ada titik. Hanya tanda hubung atau garis panjang yang terus ditarik. Sampai sekarang.

Baca juga : Bantuan Oksigen Untuk Rakyat

Garis itu bernama Zona Demiliterisasi (DMZ). Lebarnya sekitar 4 kilometer. Panjangnya 250 kilometer. Itu lahan kosong di tengah, antara dua pagar pembatas di Utara dan Selatan.

Tanpa penduduk. Tanpa senjata berat. DMZ adalah paradoks. Halaman luas ini lahir dari kegagalan diplomasi yang tidak bisa menghasilkan perdamaian. Namun zona ini justru menjadi penyangga stabilitas. Ibarat “luka” yang dibekukan agar tidak kembali berdarah. Sampai hari ini.

Pada 2018, saya melihatnya langsung dari sisi Korea Selatan. Suasananya terasa “damai tetapi tegang”. Tegang yang terkontrol.

Dari observatorium, terlihat ladang- ladang Korea Utara, petani yang bekerja dan tentara yang berpatroli. Ada juga warga yang bersepeda. Di kejauhan terdengar lagu­-lagu mars penuh semangat dari tiang yang sangat tinggi.

DMZ ibarat “halaman kosong” yang memisahkan dua musuh. Zona ini seperti sabuk pengaman yang mencegah gesekan kecil supaya tidak menjadi perang besar.

Baca juga : Laboratorium Hari Jumat

Kunci “keberhasilan” ini sederhana: disiplin. Bukan karena kedua pihak saling percaya. Apalagi saling mencintai. Tidak. Mereka hanya sepakat untuk tidak saling menyentuh. Tidak saling memprovokasi.

Faktor lain yang sangat menentukan, kekuatan besar untuk menahan diri. Saat itu, Amerika Serikat dan China memilih tidak melampaui batas. Para pemimpinnya bijak. Mereka paham risiko.

Hari ini, peran itu ada pada Amerika Serikat, China, dan Rusia. Pakistan hadir sebagai mediator. Pemeran pendukung yang penting dari negara middle power.

Kalau para pemain utama mampu menahan diri, gencatan senjata bisa bertahan. Kalau tidak, semuanya bisa runtuh dalam hitungan jam. Perang akan kembali berkobar. Bahkan lebih dahsyat.

Perundingan di Islamabad perlu belajar dari Korea. Target minimalnya bukan cinta. Bukan persahabatan. Cukup “kebencian yang disiplin”. Tidak saling memancing. Tidak saling gertak. Tidak saling menguji batas kesabaran. Tidak bermain api.

Baca juga : Polycrisis: Ujian Kita

Kalau itu tercapai, kawasan bisa tetap stabil. Selat Hormuz tetap aman. Kalau selat sempit itu aman, dampaknya terasa jauh. Sampai ke pompa bensin dekat rumah kita. Bahkan sampai ke dompet dan dapur kita.

Kalaupun 14 hari ke depan belum ada perdamaian permanen di meja perundingan di Islamabad, Pakistan; minimal, ada luka yang bisa dibekukan dalam waktu yang sangat lama. Seperti di Korea.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.