Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Tidak terasa. “Tiba-tiba”, gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS- Israel, akan berakhir Selasa, 21 April 2026.
Inilah bahayanya: tidak terasa. Perasaan tiba-tiba sudah mau berakhir. Ini tampaknya bukan lagi anomali. Ini bisa menjadi ritme baru dunia. Jadi new normal.
Ini bisa menjadi jebakan baru, termasuk untuk Indonesia. Dunia tampaknya akan hidup bersama perang yang tak akan “diselesaikan”. Konflik yang tetap “hidup” dalam level terkendali. Cukup panas untuk menekan lawan. Tapi tidak cukup untuk menghancurkan semua. Ada di posisi tengah-tengah. Semacam “perang telor setengah matang”.
Perang Rusia-Ukraina misalnya. Dulu, perang ini mengguncang dunia. Sekarang, seperti suara latar. Terasa dan terdengar samar-samar. Padahal, perang Rusia-Ukraina masih berlangsung. Masih memakan korban. Tapi tidak lagi mengejutkan.
Baca juga : Kenapa Tragedi Ini Harus Berulang?
Inilah masalahnya: ketika ketegangan menjadi normal, dunia ikut berubah. Empati menurun. Korban hanya sekadar angka. Kita tidak lagi benar-benar “mera sakannya”.
Standar etika internasional juga bergeser. Ekonomi pun beradaptasi. Konflik tidak hanya jadi tragedi, tapi juga jadi ekosistem.
Di sinilah perlunya perhitungan yang matang, bijak dan akurat.
Di tengah dunia yang rapuh dan sulit diprediksi tersebut, kita perlu memiliki jaring ketahanan yang sangat kuat.
Baca juga : Kuasa Tak Terlihat
Harga energi bisa melonjak sewaktu- waktu. Jalur perdagangan dan rantai pasok bisa terganggu. Rupiah bisa tertekan oleh sentimen global yang tidak stabil. Kondisi seperti ini butuh kesiapan.
Walau Indonesia bukanlah pemain utama dalam konflik global ini, tapi mau tidak mau, kita ikut menanggung akibat. Kita ikut terdampak. Ini tidak bisa dihindari. Kita perlu mengelolanya dengan bijak dan cerdas.
Di sinilah kita perlu belajar dan menemukan jalan keluarnya. Mengelolanya setiap keputusan dan kebijakan dengan cerdas dan menyeluruh. Jangan sampai rakyat “tiba-tiba” kaget dan menjadi korban.
Ini bukan hanya soal kemandirian energi, tapi juga rantai pasok yang terganggu dan harus dicari jalan keluarnya.
Baca juga : Kekebalan Yang Menipu
Penguatan pasar domestik juga penting. Dalam dunia yang tidak stabil, kekuatan internal jadi jangkar. Konsumsi dalam negeri harus tetap hidup. Industri lokal, mulai dari pasar kaki lima sampai usaha-usaha bintang lima harus tahan guncangan.
Investor serta arus modal asing yang gelisah, serta nilai tukar rupiah, juga pelu dicermati serius. Karena itu, kebijakan ekonomi Indonesia perlu didesain untuk skenario bahwa “dunia selalu terganggu”. Modenya: selalu siap siaga.
Dengan demikian, kita akan punya daya tahan. Tidak panik. Tidak terkaget- kaget oleh kondisi global yang tak bisa diprediksi. Sesungguhnya, Indonesia punya kemampuan “adaptasi” seperti itu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.