RM.id Rakyat Merdeka - Operation Epic Fury di Iran dinyatakan berakhir. Terkesan “sudah selesai”, tapi tampaknya hanya perubahan bentuk. Dari operasi militer terbuka menjadi tekanan politik, ekonomi, atau konflik proksi.
Pernyataan berakhirnya operasi di Iran disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih, Selasa (5/5/2026).
Bagaimana selanjutnya? Bagaimana dengan kita di Indonesia, yang jauh dari lokasi peperangan dan tidak ikut perang, tapi merasakan dampaknya?
Dari situasi panas di Asia Barat atau Timur Tengah, kita semakin menyadari bahwa garis depan peperangan tidak lagi hanya di padang pasir atau di Selat Hormuz.
Baca juga : “Keberanian” Menantang Maut
Getaran serta gema peperangan juga terjadi di harga beras, pupuk, BBM, layar ponsel, gemuruh medsos, dan angka inflasi. Bahkan sampai ke harga gorengan di pinggir jalan.
Di sinilah pentingnya mitigasi dan stabilisasi. Termasuk stabilitas nilai tukar rupiah. Rupiah harus diperkuat. Kerjasama antar lembaga, terutama tim ekonomi dan Bank Indonesia sangat diperlukan.
Selain itu, perang yang sudah “selesai” tapi berubah bentuk, justru menimbulkan ketidakpastian dalam jangka panjang. Terasa pelan. Tak terduga. Tapi pasti.
Ibarat lari marathon yang butuh napas panjang, kita perlu siap siaga. Sedia payung sebelum hujan. Setiap saat. Kita tidak boleh terus-menerus tersandera oleh harga minyak dunia yang fluktuatif. Perlu antisipasi serius. Sistematis dan berkesinambungan. Bukan reaktif.
Baca juga : Alarm Nyaring Dari Bekasi
Di sisi lain, perluasan pasar ekspor juga sangat penting. Indonesia perlu mencari mitra dagang alternatif di luar blok yang bertikai. Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tengah perlu penjajakan lebih serius dan intens. Jangan sampai ekonomi nasional goyah karena salah satu mitra besar terkena sanksi.
Perang yang dinyatakan “selesai” tapi tampaknya akan berpindah medan, antara lain ke dunia siber, juga butuh pendekatan baru. Di sinilah perlunya ketahanan siber. Kita tidak ingin, perang siber, disengaja atau tidak, menyasar infrastruktur kritis nasional.
Perang siber, juga butuh ketahanan rakyat sebagai pengguna dan penikmat siber serta pejuang medsos. Literasi informasi sangat dibutuhkan.
Selama perang AS-Israel vs Iran misalnya, kita sempat merasakan adanya polarisasi di masyarakat. Terjadi pro kontra yang tajam. Terutama di media sosial.
Baca juga : Di Dalam Tetap Galak?
Sekarang, perang di Iran mungkin telah “berakhir”. Namun, residunya bercereran. Rutenya masih panjang. Ada fase serta ujian berikutnya yang sangat penting, yakni kuat-kuatan: bangsa mana yang paling mampu bertahan. Dalam segala aspek.
Jangan sampai kita selamat dari ledakan di Timur Tengah, namun justru lemas di pom bensin, di depan tangki bensin kendaraan kita. Atau, justru tumbang di depan piring nasi sendiri.
Karena, salah satu ketahahan dan pertahanan terdekat suatu bangsa, ada di dapur. Inilah “epic operation” paling nyata yang ada di depan mata rakyat. Operasi epik ini harus diperjuangkan dan dimenangi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.