BREAKING NEWS
 

Virus, Waspada Dan Trauma

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Selasa, 12 Mei 2026 06:00 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Apakah dunia sedang menghadapi awal pandemi baru—atau sekadar dihantui trauma pandemi lama?

Pertanyaan itu tiba-tiba terasa relevan setelah muncul laporan mengenai klaster Hantavirus di kapal pesiar Belanda, MV Hondius.

Pertanyaan tersebut bukan semata-mata karena ada korban jiwa. Tetapi karena satu hal yang sangat sensitif setelah Covid-19: dugaan penularan antarmanusia. Dunia segera siaga.

Selama ini Hantavirus dikenal sebagai penyakit akibat virus yang berpindah dari hewan pengerat seperti tikus, ke manusia. Penyebarannya melalui udara yang terkontaminasi urine atau kotoran tikus.

Baca juga : Tragedi: Budaya Yang Hilang

Sekarang ada potensi ancaman dari Andes Virus, salah satu turunan dari Hantavirus. “Anak virus” yang satu ini agak lain. Lebih canggih. Andes bisa menular antarmanusia melalui kontak erat atau percikan air ludah. Begitu penjelasan ahli-ahli kesehatan.

Karena itu, temuan klaster di kapal pesiar itu memicu alarm lama. Alarm yang belum benar-benar padam: ketakutan bahwa dunia kembali terlambat membaca ancaman. Samar-samar bayangan Covid-19 tiba-tiba melintas.

Covid-19 mengubah cara manusia memandang wabah. Dulu, berita tentang virus di negara jauh terasa seperti masalah geografis. “Ah itu tidak akan terjadi di negara tropis”. “Virus itu akan mati tersengat panas menyengat”. Atau, “minum jamu, sembuh”.

Adsense

Itu dulu. Sekarang, dunia sudah belajar bahwa satu infeksi lokal dapat berubah menjadi krisis global hanya dalam hitungan minggu.

Baca juga : Perang “Selesai”, Ujian Dimulai

Akibatnya, respons terhadap wabah, sekarang bergerak jauh lebih cepat. Informasi berlari kencang. Media sosial ikut menanam benih kecemasan.

Di sinilah tantangan terbesar bagi kesehatan publik modern. Pihak-pihak terkait atau pemangku kepentingan harus waspada tanpa menciptakan kepanikan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengonfirmasi: risiko globalnya rendah. Ini bukan awal pandemi. Penjelasan ini membuat masyarakat tenang di tengah banjir informasi yang sering kali belum utuh.

Indonesia tampaknya sudah meningkatkan kewaspadaan secara terukur. Mulai dari perbatasan, bandara sampai rumah sakit. Antisipasi ini sudah tepat. Sebab sejarah menunjukkan, keterlambatan kecil dapat berharga sangat mahal.

Baca juga : “Keberanian” Menantang Maut

Di sisi lain, ada pula sisi kesehatan masyarakat yang tak kalah pentingnya yakni hubungan manusia dengan lingkungan yang semakin rapuh.

Kota kian padat. Sanitasi masih buruk. Populasi tikus smakin tak terkendali. Semua menjadi ruang ideal bagi lahirnya ancaman kesehatan yang baru. Wajar kalau seorang gubernur pernah menggelar sayembara berhadiah menangkap tikus untuk diserahkan ke kantornya. Ini tikus beneran.

Selain itu, kita juga melihat kenyataan bahwa dunia modern ternyata tetap sangat rentan dan rapuh. Walau teknologi kian maju, tetapi seekor tikus yang tampak bersih di sudut gudang yang tertata, bisa membuat dunia gelisah dan kerepotan. Apalagi kalau tikusnya banyak dan berkoloni dimana-mana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense