BREAKING NEWS
 

Kemapanan Yang Mulai Dijual

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Minggu, 4 Oktober 2026 05:52 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Apa jadinya jika orang yang dulu membeli mobil kini harus menjualnya? Orang yang dulu tinggal di rumah cluster kini menumpang di rumah mertua? Bahkan, orang yang dulu punya tabungan kini harus berutang untuk makan?

Jangan buru-buru menyebutnya perubahan gaya hidup. Bisa jadi, itu pertanda ada yang sedang tidak beres dengan ekonomi kita.

Begitu kira-kira pesan yang tersirat dari berita di halaman depan Rakyat Merdeka, Kamis, 1 Oktober 2026. Judulnya menarik: Ekonomi Rakyat Sedang Kurang Baik. Ada Fenomena “Downgrade” Gaya Hidup.

Karena “turun gaya”, ada yang menjual aset. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada pula yang harus menata ulang seluruh kehidupannya. Dulu manajer, sekarang pengemudi ojek daring. Dulu punya beberapa kendaraan, sekarang tinggal satu. Dulu punya rumah dan apartemen, sekarang satu per satu lenyap.

Baca juga : Harapan Yang Ikut Tenggelam

Kalau ini hanya terjadi pada satu atau dua orang, mungkin sekadar nasib. Namun, jika gejala serupa muncul di banyak tempat, kita patut bertanya: ada apa dengan ekonomi rakyat?

Survei Indikator Politik Indonesia yang dikutip Rakyat Merdeka memberikan gambaran yang tidak nyaman. Lebih dari 49 persen responden tidak bisa menabung. Sebanyak 16,4 persen harus berutang untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sementara 11,7 persen terpaksa makan tabungan. Istilahnya menarik. Dari mantab alias makan tabungan, bergeser menjadi maut alias makan utang.

Adsense

Mantab dan Maut hanya cara memperpanjang napas ekonomi rumah tangga. Kalau napas itu terus dipinjam, sampai kapan bisa bertahan?

Baca juga : Sistem Di Balik Pintu

Yang lebih mengkhawatirkan adalah nasib kelas menengah. Mereka sering dianggap sudah cukup sejahtera. Padahal, sebagian hidup dengan cicilan, biaya sekolah, kebutuhan kesehatan, dan pengeluaran rutin yang terus membesar. Tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan. Tidak cukup kaya untuk merasa aman.

Padahal, kelas menengah merupakan salah satu penggerak konsumsi. Kalau mereka mulai mengerem belanja, dunia usaha ikut merasakan. Penjualan turun. Produksi dikurangi. Investasi ditunda. PHK bisa bertambah. Ekonomi pun berputar dalam lingkaran yang tidak sehat.

Maka, jangan hanya sibuk menghitung persentase pertumbuhan ekonomi. Perlu juga menghitung berapa banyak keluarga yang masih bisa menabung. Berapa banyak pekerja yang kerja seadanya. Berapa banyak rumah tangga yang bertahan dengan utang.

Stimulus ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pengendalian harga pangan, dan belanja negara yang produktif harus menjadi perhatian. Sebab, pertumbuhan yang tidak terasa di dapur rakyat hanya akan menjadi angka yang indah di atas kertas.

Baca juga : Mengapa Bukan Kita?

Hidup sederhana itu pilihan. Hidup terpaksa sederhana karena kehilangan daya beli adalah persoalan.

Jangan sampai rakyat terus melakukan downgrade, sementara kita merasa ekonomi baik-baik saja. Karena, ketika kemapanan sudah mulai dijual, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan adalah masa depan bangsa.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 dan 6, edisi Minggu, 4 Oktober 2026 dengan judul "Kemapanan Yang Mulai Dijual"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense