Dark/Light Mode

Mengapa Bukan Kita?

Minggu, 27 September 2026 06:00 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada ironi besar dalam cara kita mencintai Indonesia. Kita sangat bangga pada produk yang kita nilai sebagai “Indonesia banget”. Tetapi kita jarang bertanya: siapa yang menguasai ekosistem dan produksinya.

Lihatlah tempe. Pada 15 September 2026, Amerika Serikat memperingati 45 tahun perdagangan kedelai dengan Indonesia. Selama itu pula kedelai Amerika menjadi bagian penting dari rantai pangan tempe dan tahu yang ada di piring kita.

Empat puluh lima tahun lho! Ini bukan waktu yang pendek. Tempe bahkan telah menjadi ikon Indonesia. Tetapi sayangnya, bahan bakunya masih banyak bergantung pada ladang-ladang di Amerika. Hampir 90 persen!

Tidak ada yang salah dengan impor. Perdagangan internasional adalah keniscayaan. Persoalannya adalah ketergantungan. Kita kuat di produk jadi, tetapi rapuh dalam penyediaan bahan baku, teknologi, dan produksi.

Baca juga : Menunggu Giliran

Hal serupa terlihat dalam industri halal. Indonesia memiliki pasar Muslim terbesar di dunia. Namun Brasil, negara mayoritas non-Muslim, adalah raksasa industri daging halal dunia. Indonesia masih mengimpor puluhan ribu ton daging dari Brasil.

Ini bukan semata soal halal. Ini tentang rantai pasok dan industri. Daging tidak berdiri sendiri. Ada pakan, bibit, teknologi, rumah potong, sertifikasi, logistik, dan pasar. Siapa yang menguasai rantainya, dialah yang menguasai industrinya.

Masih banyak contoh lain yang sebenarnya “Indonesia banget”, tapi sayangnya, tidak kita kuasai.

Kopi misalnya. Kita punya banyak jenis kopi. Tetapi siapa yang menguasai mesin dan mereknya? Kita memiliki kakao, tetapi siapa yang menikmati produk cokelat bernilai tinggi? Kita memiliki ikan, tetapi siapa yang menguasai pengolahan, merek, dan pasarnya?

Baca juga : Negara Dalam Bayangan

Kita memiliki laut yang luas, tetapi apakah kita sudah menguasai industri maritimnya? Kita memiliki garis pantai sangat panjang, tapi kita masih impor garam.

Di sinilah kita harus keluar dari romantisme “tanah kita tanah surga”. Negara harus hadir. Membangun ekosistem yang sehat.

Kita jangan terlalu sibuk dengan slogan “Bangga Buatan Indonesia”. Kebanggaan harus naik kelas menjadi “Bangga Berdaulat dari Hulu ke Hilir.” Bangga kalau menguasai produksi, mata rantai dan ekosistemnya.

Petani misalnya, harus menjadi profesi masa depan yang membanggakan. Terutama bagi Gen Z. Pertanian harus menggunakan teknologi. Drone, sensor, kecerdasan buatan, benih unggul dan data, harus masuk ke sawah, tambak, perkebunan, dan peternakan.

Baca juga : Tren Baru: “Gerebek” KUA

Negara harus membangun ekosistemnya: riset, pembiayaan, infrastruktur, teknologi, kepastian pasar, dan industri pengolahan.

Karena, kita punya semuanya: tanah, laut, manusia, dan pasar. Tetapi jangan sampai kita hanya menjadi bangsa yang kaya bahan baku, besar sebagai konsumen, namun kecil sebagai penguasa produksi.

Kalau kita punya semuanya, mengapa bukan kita yang menguasai industrinya?

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Minggu, 27 September 2026 dengan judul "Mengapa Bukan Kita?"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.