RM.id Rakyat Merdeka - Ratusan bahkan puluhan triliun lenyap, dan kita hanya mengangkat bahu. “Biasa” saja. Apakah bangsa ini sedang mengalami kelelahan?
Pekan ini saja ada kasus bernilai ratusan miliar. Sebelumnya, ada yang sampai triliunan, bahkan mendekati seribu triliun.
Bekas Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah misalnya, sudah mulai disidang. Penyidik menyebut 74 kilogram emas ditemukan di rumahnya. Juga ada uang Rp 543 miliar. Dia menyatakan dirinya dikriminalisasi. Pengadilan yang akan menguji.
Sepertinya, skala dan angka yang kian membesar tersebut semakin biasa kita dengar. Pertanyaannya: apakah bangsa ini sudah terjangkit perasaan “makin besar angkanya, makin sepi reaksi kita. Makin banyak korban, makin kecil kepedulian kita. Apakah satu korban bisa membuat kita menangis, sejuta korban hanya menjadi statistik?”.
Baca juga : Jangan Ada Protes Tahunan
Uang pun begitu. Pungli Rp 50 ribu di jalan membuat kita geram. Rp 10 triliun mungkin terlalu besar untuk dibayangkan, jadi otak memilih tak merasakannya. Atau sulit membayangkannya?
Proses pembesaran ini sudah lama terjadi. Tanpa disadari, kian lama kian meningkat. Tiba-tiba rekornya sudah ratusan triliun, bahkan nyaris menyentuh seribu triliun.
Apa dampaknya? Pertama, uang besar yang mudah diucapkan itu jarang kembali. Yang berhasil dikembalikan ke negara tidak sampai sepuluh persen.
Kedua, angka yang kebal rasa membuat publik berhenti menagih. Terasa biasa saja. Uang negara triliunan disikapi santai, “mau gimana lagi”. Apalagi ada skandal baru yang selalu bisa menutupi skandal lama.
Ketiga, uang itu bukan abstraksi. Bukan sekadar yang terbayangkan. Uang sebanyak itu, seharusnya menjadi makan siang anak sekolah atau pembangunan puskesmas dan sebagainya.
Di sinilah pentingnya “menerjemahkan dan mengkonkretkan” angka-angka tersebut ke ukuran manusia. Ke kehidupan nyata sehari-hari.
Penegak hukum misalnya, perlu menyebut padanannya: uang ratusan miliar atau puluhan triliun itu bisa untuk berapa sekolah, puskesmas, atau beasiswa anak tidak mampu.
Saat ini, mengkonkretkan uang hasil korupsi tersebut, sudah mulai diupayakan. Misalnya, untuk renovasi sekolah, puskesmas atau melakukan digitalisasi pendidikan. Juga ada rencana untuk memperbaiki desa nelayan.
Langkah-langkah untuk program-program pro rakyat tersebut, perlu diapresiasi. Perlu diperbanyak. Dan, lebih tepat sasaran.
Karena, sungguh sangat memilukan kalau uang rampasan hasil korupsi, justru diselewengkan dan dikorupsi lagi. Jangan sampai ada korupsi di atas korupsi.
Dan yang lebih memprihatinkan, kalau bangsa ini tidak lagi marah dan sudah menganggap biasa rangkaian skandal korupsi yang terus membesar tersebut. Karena, di titik abai dan “mati rasa” itulah korupsi mencapai puncak kemenangannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.