RM.id Rakyat Merdeka - Laga pembuka Grup I Piala Dunia FIFA 2026 antara Prancis dan Senegal pada Rabu (17/6/2026) dini hari WIB mendatang bukan sekadar pertandingan sepak bola biasa.
Bagi skuad Les Bleus, duel kru sial yang akan digelar di MetLife Stadium, New Jersey ini adalah panggung pembukaan untuk tarian terakhir pelatih Didier Deschamps. Laga ini sekaligus ujian mental menghadapi bayang-bayang dejavu pahit dua dekade silam.
Ingatan publik sepak bola dunia tentu masih segar pada sejarah menyakitkan di laga pembuka Piala Dunia 2002, di mana sang juara bertahan Prancis ditekuk 0-1 secara memalukan oleh tim debutan Senegal.
Baca juga : Jalani Tiga Laga Uji Coba, Curacao Datang Dengan Bus Sekolah
Kini, memori kelam tersebut kembali menghantui persiapan Prancis yang datang ke Amerika Utara dengan status unggulan utama dan pemegang peringkat satu dunia.
Menariknya, Senegal saat ini dilatih Pape Thiaw, sosok mantan bek yang turut menumbangkan Prancis di lapangan hijau 24 tahun lalu. Singa Teranga yang kini menempati peringkat ke-14 FIFA diprediksi akan kembali mengandalkan permainan fisik yang kuat, kecepatan transisi, dan disiplin taktik untuk mengeksploitasi celah pertahanan raksasa Eropa tersebut.
Bagi Deschamps, turnamen tahun ini memikul beban emosional yang jauh lebih berat dari sekadar membalas dendam masa lalu. Juru taktik berusia 57 tahun itu telah mengonfirmasi secara resmi bahwa ia akan mundur dari jabatannya setelah 14 tahun mengabdi bersama tim nasional.
Baca juga : Jemaah Haji Bergeser Ke Madinah, Hotel Mewah Menanti
Ia berambisi besar membungkam para kritikus yang kerap mencibir pendekatan taktik pragmatisnya dengan mempersembahkan trofi Piala Dunia kedua sebagai pelatih sebelum resmi turun takhta dan menyerahkan tongkat estafet.
Atmosfer perpisahan ini turut dirasakan secara mendalam oleh skuad Ayam Jantan yang ber tekad memberikan kado perpisahan termanis. Gelandang Adrien Rabiot menyadari betul beban emosional sang pelatih di turnamen penghujung kariernya bersama timnas.
“Pelatih telah melakukan pekerjaan luar biasa dan saya harap dia akan dirayakan, karena dia pantas mendapatkannya,” ucap Rabiot.
Baca juga : Timnas Iran Dilarang Nginap di Amerika
Di sisi lain, Deschamps memilih untuk bersikap dingin dan mengesampingkan ego pribadinya jelang turnamen krusial ini. Mantan kapten yang mengangkat trofi juara dunia 1998 itu menegaskan bahwa ia tidak ingin narasi perpisahannya merusak fokus dan harmoni skuad. Ia lebih memilih menyerap energi positif dari para pendukung dalam laga-laga persahabatan terakhir di tanah air, memastikan timnya tiba di Amerika Serikat dengan mentalitas juara yang utuh tanpa terbebani sentimen melankolis.
Untuk mewujudkan ambisi besar tersebut, Prancis dibekali salah satu generasi pemain paling berbakat dan paling mematikan dalam sejarah sepak bola modern mereka. Lini serang akan dipimpin secara langsung oleh Kylian Mbappe yang tengah mengincar rekor gol sepanjang masa Piala Dunia milik Just Fontaine.
Ia akan didampingi oleh pemenang Ballon d’Or 2025 yang juga rekannya, Ousmane Dembele. Kehadiran para penyerang elit yang haus gol ini diyakini mampu membuat barisan pertahanan mana pun di dunia bergidik ngeri. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.