Dewan Pers

Dark/Light Mode

Ultah ke-3, PYC Hadirkan Data Center dan Buku Jasmerah

Minggu, 23 Juni 2019 14:39 WIB
Purnomo Yusgiantoro (tengah) (Foto: Istimewa)
Purnomo Yusgiantoro (tengah) (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) merayakan ulang tahun ke-3 dengan memperkenalkan Data Center dan penerbitan buku terbaru. PYC adalah sebuah lembaga kajian di bidang energi dan sumber daya alam, pertahanan dan keamanan, serta pelestarian nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia.

“Kami membangun data center atas bantuan adik-adik peneliti. Dan, saya sendiri sudah membuat buku berjudul Jasmerah; Menguak Masa Transisi ESDM (2000-2009),” kata Purnomo Yusgiantoro, di PYC Jakarta, Sabtu (22/6).

Pada kesempatan itu, Purnomo didampingi Ketua Dewan Pembina PINKAN Indonesia Lis Purnomo, Pembina PYC Luky A Yusgiantoro, Ketua Umum PYC Filda C Yusgiantoro, dan Pengawas PYC Inka B Yusgiantoro.

Ia mengatakan, pada awalnya, gedung PYC yang berlokasi di Jalan Wijaya IX/12 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan akan digunakan untuk menampung sekitar 15 ribu judul buku, referensi, dokumen,  informasi, koleksi lukisan, dan  cindermata. Seiring bergulirnya waktu serta dilandasi keinginan untuk berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa, PYC berkembang menjadi organisasi nirlaba independen yang aktif melakukan penelitian di sektor energi,  sumber daya alam, pertahanan, keamanan, dan pelestarian nilai-nilai sosial budaya bangsa Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum PYC Filda C Yusgiantoro, memaparkan bahwa PYC telah berkontribusi dan turut serta dalam mengawal perkembangan sektor energi dan sumber daya alam. PYC juga menjalin kerja sama sinergis dengan Universitas Pertahanan (Unhan) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan studi strategis wilayah terdepan NKRI di Natuna, Kepulauan Riau. Selain itu, PYC mendukung penyelenggaraan Festival Mahasiswa ITB (IPFest) dalam meningkatkan prestasi mahasiswa Indonesia.

Berita Terkait : Siap Hadapi Mudik, Pertamina Hadirkan Layanan Pertamina Siaga

“Tahun 2017, PYC menyelenggarakan konferensi energi internasional (International Energy Conference, IEC) yang pertama, dan yang kedua tahun ini akan diselenggarakan bulan November 2019,” jelas Filda.

PYC juga menyelengarakan acara lomba essay, infografis, dan foto. “PYC aktif diundang untuk memberikan pandangan dalam lingkupnya di berbagai perguruan tinggi, dan lembaga pengkajian Lemhannas dan Wantannas,” lanjut Filda.

Sampai saat ini, PYC telah menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga internasional, antara lain IPS untuk pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), ERIA untuk perencanaan sektor energi di Bappenas, dan Climateworks untuk masalah lingkungan hidup. Ke depan, diharapkan PYC dapat terus berkembang dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak sesuai dengan lingkupnya.

Di bidang sosial budaya, PYC mendukung penuh upaya PINKAN Indonesia (Persatuan Insan Kolintang Nasional Indonesia) menjadikan alat musik ansambel kolintang dari Minahasa Sulawesi Utara,  sebagai warisan budaya tak benda di UNESCO. PYC bersama dengan PINKAN Indonesia aktif menampilkan kolintang antara lain di Sydney Opera House Australia; di New Jersey, PBB dan Smithsonian Amerika; di Imperial Hotel Tokyo dalam rangka 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia – Jepang; dan Pagelaran kesenian Nusantara bersama dengan Jaya Suprana School of Performing Arts di KBRI Bangkok. 

Disamping itu, setiap tahun dalam rangka menyongsong peringatan hari kemerdekaan Indonesia PYC menyelenggarakan lomba catur junior, dan aneka ragam kegiatan sosial seperti kunjungan ke panti jompo Bekasi, vaksinasi difteri dan pemeriksaan mammografi.  

Berita Terkait : Menteri Jonan Terharu

Di tempat yang sama, Pengawas PYC Inka B Yusgiantoro menjelaskan bahwa PYC sebagai organisasi penelitian di sektor energi dan sumber daya alam, memahami bahwa ketersediaan dan kelengkapan data memiliki peranan penting dalam memahami kondisi dan perkembangan sektor energi & sumber daya alam. Namun data yang disajikan kepada publik kurang interaktif sehingga minat masyarakat untuk menggali informasi rendah.

Oleh karena itu, PYC berinovasi membuat data center yang memiliki tampilan interaktif dan berharap masyarakat luas dapat mengetahui kondisi saat ini dengan mudah, dan ikut mengawal perkembangan sektor yang menjadi nyawa dari bangsa ini. 

Konten dalam PYC Data Center ini terbagi ke dalam tiga kategori, yakni Ekonomi (economy), Statistik, dan kebijakan. Konten ini berasal dari berbagai sumber yang kemudian diolah kembali oleh Tim Peneliti PYC. Kedepannya, data akan senantiasa diperbarui dan dilengkapi secara berkala. Pembina PYC Luky A Yusgiantoro PhD, menyampaikan buku terbaru terbitan PYC yaitu Ekonomi Energi: Teori dan Aplikasi yang dirilis tahun 2018. Buku itu  ditulisnya bersama dengan Prof Purnomo Yusgiantoro PhD.

“Buku ini merupakan penyempurnaan dari buku sebelumnya, yaitu Ekonomi Energi: Teori dan Praktis (2009), dapat dijadikan referensi bagi para peneliti dan praktisi di sektor energi,” kata Luky.

Menurut Luky, buku ini dipakai sebagai referensi utama pada Program Pendidikan Ketahanan Energi di Universitas Pertahanan dan ITB. Buku ini menguraikan penggunaan ilmu ekonomi sebagai dasar untuk menganalisa masalah energi pada tataran mikro dan makro. PYC juga menerbitkan Buletin Energi dan Prosiding yang berisi ringkasan dari berbagai kegiatan seminar dan hasil penelitian PYC.    

Berita Terkait : Sambut Bulan Puasa, Asabri Adakan Kegiatan Pangan Murah

Pada saat ini,lanjutnya, Prof Purnomo Yusgiantoro dalam tahap finalisasi buku terbarunya yang berjudul “Jasmerah : Menguak Masa Transisi ESDM (2000-2009).” Buku ini nantinya akan diterbitkan oleh PYC. Jas Merah (JAngan Sekali-kali MEninggalkann sejaRAH) tersebut bercerita tentang pengalaman Prof. Purnomo Yusgiantoro selama menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia pada tahun 2000-2009.  

Di dalam buku tersebut juga berisikan pengamatan selepas masa jabatannya dan pandangan terkait masa depan energi Indonesia. Buku tersebut mengandung pesan agar tidak meninggalkan sejarah, khususnya sejarah perjalanan sektor energi dan sumber daya mineral. Setiap masa, pelaku sejarah mempunyai tantangannya masing-masing yang berbeda dari waktu ke waktu, namun sejarah itu menjadi landasan bagi hadirnya masa kini. [FAQ]