Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Banyak Kasus Anak Cuci Darah Kian Memicu Keprihatinan
Jasra Putra: Peringatan Keras Untuk Kita Semua
Kamis, 1 Agustus 2024 07:50 WIB
Sebelumnya
Bagaimana Anda melihat fenomena kasus cuci darah pada anak?
Hasil penelitian para dokter anak di seluruh Indonesia, menjadi peringatan keras untuk kita semua. Bahwa, industri makanan yang didukung perkembangan zat kimia dan olahan makanan, kemudian harga yang sangatmurah, dan industri kemasan yang kekinian, ternyata meninggalkan persoalan untuk anak-anak kita. Apalagi, anak-anak yang belum memahami komposisi gizi seimbang.
Upaya yang dapat dilakukan seperti apa?
Ini tantangan besar untuk lembaga pengawasan obat dan makanan kita. Bagaimana menghadirkan uji lab makanan di tengah masyarakat. Agar ada pengawasan. Kita juga berharap program makan gratis, tidak hanya bicara makanan.
Maksudnya bagaimana?
Baca juga : Kurniasih Mufidayati: Edukasi Bahaya GGL Harus Ditingkatkan
Harus ada mekanisme sistem yang bisa melindungi dan mengendalikan industri makanan kita. Melalui program makan gratis ke depan, sosialisasi gejala ginjal pada anak, bagaimana pengawasan makanan dan uji lab makanan, bisa hadir di tengah masyarakat.
Apa langkah pencegahan yang bisa diterapkan?
Sebagai pencegahan dan deteksi dini, penting segera ada sosialisasi gejala sebelum terganggu ginjalnya dan cuci darah, kemudian konsumsi air putih yang perlu diperhatikan, mengurangi konsumsi zat pembuat manis, garam dan lemak.
Kita juga perlu membudayakan olahraga di keluarga, sekolah dan masyarakat, di tengah kurang bergeraknya anak karena gawai. Kita perlu menggiatkan lagi olahraga dan budaya.
Apa penyebab anak harus cuci darah?
Baca juga : BIN Siap Bertransformasi Jadi World Class Intelligence
Saya kira kemasan makanan sekarang “jadi barang mewah”. Sehingga, menjadi industri viral dengan kemasan-kemasan yang luar biasa menarik untuk anak. Namun, apakah di sana ada uji lab dan pengawasan. Nah, ini PR kita semua untuk memastikannya. Bagaimana memastikan BPOM juga memiliki jejaring kerja pengawasan obat dan makanan di tengah masyarakat, di lingkungan sekolah, lingkungan bermain anak.
Apa dampak negatif mengonsumsi makanan mengandung gula, garam dan lemak berlebih?
Akan mempengaruhi suasana hati mereka, yang berujung mudah cemas dan reaktif. Sehingga, ujungnya bersikap agresif. Ini akan menyebabkan anak tidak memiliki kecerdasan emosi, reaktif, berujung rentan, dan mudah mendapat perlakuan salah
Selain itu?
Begitu juga tren tantangan makan pedas dengan level yang berisiko menganggu pencernaan, dan memicu makan lebih banyak.
Baca juga : PKB Sedang Belanja Masalah
Kita pun membayangkan aktivitas anak-anak yang lebih banyak di medsos, disrupsi informasi yang jarang bergerak. Dan, dipicu reaksi konsumsi makanan berlebihan akibat reaksi rasa, seperti level pedas, asam, manis, asin yang melebihi batas normal.
Penting untuk mengejar ketertinggalan pemenuhan hak kesehatan dalam rangka mempersiapkan modal kesehatan yang tinggi untuk masa depan anak-anak kita. Sehingga, ketegasan Pemerintah dalam pengawasan obat dan makanan perlu terus ditingkatkan. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Kamis, 01 Agustus 2024 dengan judul "Banyak Kasus Anak Cuci Darah Kian Memicu Keprihatinan, Jasra Putra: Peringatan Keras Untuk Kita Semua"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya