Dark/Light Mode

Jadi Kendaraan Dinas Para Menteri, Tepatkah Mobil Maung Menjadi Mobil Nasional?

Dave Laksono: Harus Tangguh Secara Teknis Dan Komersial

Selasa, 28 Oktober 2025 07:15 WIB
Dave Laksono, Wakil Ketua Komisi I DPR. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)
Dave Laksono, Wakil Ketua Komisi I DPR. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)

 Sebelumnya 
Pemerintah berencana menjadikan mobil Maung sebagai mobil nasional. Apakah Anda mendukung langkah ini?

Saya melihat rencana ini bukan hanya kebijakan simbolik, tetapi peluang strategis untuk memperkuat kemandirian industri pertahanan dan otomotif nasional. Dukungan saya bersifat konstruktif, berbasis pada evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan teknologi, rantai pasok, dan keberlanjutan produksi. Saya mendukung karena Maung sudah terbukti tangguh di sektor militer. Namun untuk menjadi mobil nasional, mobil ini harus melewati proses validasi sipil yang ketat.

Validasinya mencakup apa saja?

Dari efisiensi, kenyamanan, hingga daya saing harga. Mobil nasional bukan sekadar produk, tapi cerminan kemampuan bangsa membangun ekosistem industri yang mandiri dan berkelanjutan.

Baca juga : TB Hasanuddin: Kebanggaan Hasil Karya Anak Bangsa

Dari sisi pertahanan dan kemandirian industri, seberapa penting kehadiran mobil Maung bagi Indonesia?

Maung adalah simbol transformasi industri pertahanan menuju dual use capability, yakni produk yang bisa digunakan baik untuk militer maupun sipil. Kehadirannya penting karena memperkuat postur pertahanan nasional sekaligus membuka ruang diversifikasi produk bagi PT Pindad. Ini langkah konkret menuju kemandirian teknologi dan pengurangan ketergantungan impor.

Apa yang harus dilakukan PT Pindad agar mobil Maung benar-benar layak disebut mobil nasional?

Pindad harus memastikan Maung bukan hanya tangguh secara teknis, tapi juga relevan secara komersial. Itu berarti meningkatkan desain ergonomis, efisiensi bahan bakar, dan integrasi teknologi digital. Selain itu, mereka perlu membangun jaringan distribusi serta layanan purna jual yang luas agar Maung tidak hanya menjadi proyek Pemerintah, tetapi juga pilihan masyarakat umum.

Baca juga : Sensus Ekonomi Tentukan Arah Pembangunan Bangsa

Bagaimana kesiapan rantai pasok dan komponen lokal untuk mendukung produksi massal Maung?

Kunci keberhasilan produksi massal terletak pada integrasi komponen lokal. Kita harus mendorong kolaborasi antara Pindad dan industri komponen dalam negeri, termasuk UMKM. Pemerintah perlu memfasilitasi audit rantai pasok dan memberikan insentif bagi pemasok lokal agar kualitas dan kontinuitas produksi terjaga.

Dari sisi perawatan dan ketersediaan komponen purna jual, apa yang perlu diperhatikan?

Mobil nasional harus mudah dirawat dan didukung oleh ketersediaan suku cadang yang merata di seluruh Indonesia. Ini bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga soal kepercayaan publik. Pindad perlu membangun ekosistem layanan yang responsif dan terstandarisasi, termasuk pelatihan teknisi serta penyediaan bengkel resmi.

Baca juga : Ongkos Naik Haji 2026 Diusulkan Turun 1 Juta

Bagaimana DPR melihat perlunya dukungan kebijakan khusus untuk memperkuat posisi Pindad?

Komisi I DPR RI akan mendorong kebijakan lintas sektor yang mendukung penguatan industri strategis. Termasuk insentif fiskal, proteksi pasar, dan dukungan riset. Kami juga akan mengawal agar anggaran pertahanan tidak hanya berfokus pada alutsista, tetapi juga pada pengembangan teknologi sipil berbasis militer. NNM

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Selasa, 28 Oktober 2025 dengan judul "Jadi Kendaraan Dinas Para Menteri, Tepatkah Mobil Maung Menjadi Mobil Nasional? Dave Laksono: Harus Tangguh Secara Teknis Dan Komersial"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.