Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Amerika-Israel Serang Iran, Prabowo Bersedia Ke Teheran Jadi Fasilitator Perdamaian
TB Hasanuddin: Niat Baik Ini Butuh Kalkulasi Matang
Senin, 2 Maret 2026 07:10 WIB
Sebelumnya
Bagaimana Anda melihat dengan niat Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi fasilitator konflik yang terjadi di Timur Tengah?
Niat Presiden ke Teheran, Iran merupakan langkah yang sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif, serta amanat konstitusi dalam menjaga perdamaian dunia. Namun demikian, langkah tersebut harus melalui perhitungan yang matang. Niatan tersebut juga membutuhkan kalkulasi yang matang.
Apa saja yang harus dipertimbangkan oleh Presiden Prabowo?
Ada tiga pertimbangan utama yang harus diperhatikan oleh Presiden.
Apa saja itu?
Baca juga : DPR Janji Perjuangkan Guru Madrasah Swasta Jadi PPPK
Pertama, menjadi fasilitator dialog harus diterima oleh kedua belah pihak yang berkonflik.
Menurut Anda, dengan posisi Indonesia saat ini, apakah kedua belah pihak yang berseteru bisa menerima?
Dengan gerak diplomasi Indonesia yang saat ini dinilai lebih condong ke poros Amerika dan Israel melalui keterlibatan dalam Board of Peace (BoP) sulit rasanya.
Kenapa sulit?
Ya, coba saja membayangkan Iran bisa menerima dengan mudah karena Indonesia bergabung dengan BoP.
Baca juga : Pemerintah Percepat Aturan Perdagangan Karbon Nasional
Selain itu, hal apa lagi yang harus menjadi pertimbangan?
Kedua, fasilitator konflik membutuhkan komitmen serius. Harus meluangkan waktu, tenaga, bahkan anggaran untuk memfasilitasi pihak-pihak yang berselisih. Dialog tidak hanya satu atau dua kali. Pertanyaannya, apakah Presiden atau Menteri Luar Negeri sudah benar-benar siap?
Selanjutnya, apa lagi?
Ketiga, perlu kejelasan mengenai kepentingan nasional dan kalkulasi strategis Indonesia.
Konkretnya seperti apa kalkulasi yang harus menjadi pertimbangan Indonesia?
Baca juga : Rini: Reformasi Birokrasi Dimulai Dari Integritas
Kepentingan nasional Indonesia atau kalkulasi strategis yang menjadi pertaruhan sehingga Indonesia harus turun menjadi fasilitator.
Jadi Pemerintah harus menghitung dampak positif bagi Indonesia juga ya?
Setiap langkah diplomasi besar harus jelas manfaatnya bagi kepentingan nasional. Apabila Indonesia ingin mengambil peran sebagai fasilitator dalam konflik perbatasan Thailand dan Kamboja yang masih bergejolak, langkah tersebut dinilai lebih relevan. Sebab, ASEAN adalah pekarangan kita. Kawasan ini harus damai dan stabil. Itu lebih langsung berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Senin, 2 Maret 2026 dengan judul "Amerika-Israel Serang Iran, Prabowo Bersedia Ke Teheran Jadi Fasilitator Perdamaian, TB Hasanuddin: Niat Baik Ini Butuh Kalkulasi Matang"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya