Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rencana Pemerintah Menaikkan HET MinyaKita Menuai Polemik
Khudori: Tata Kelolanya Harus Diperbaiki
Rabu, 10 Juni 2026 07:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian berencana menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita. Saat ini, HET MinyaKita sebesar Rp15.700 per liter untuk konsumen akhir.
Meskipun pembahasan antarkementerian/lembaga (K/L) telah mengerucut pada kesepakatan untuk menaikkan HET, besaran kenaikan maupun waktu pemberlakuannya hingga kini belum ditetapkan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menyatakan, akan segera berkoordinasi dengan Menteri Perdagangan Budi Santoso untuk menyikapi rencana kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita.
"Nanti, aku baru pulang dari Tanah Suci (melaksanakan ibadah haji). Nanti akan koordinasi dengan Pak Mendag, aku lapor Pak Menko," kata Mentan Amran ditemui usai Rapat Koordinasi Pembahasan Pengembangan dan Upaya Stabilisasi Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Baca juga : Muhammad Hoerudin: Jika Dipaksakan, Jadi Beban Administrasi
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan, besar kecilnya kenaikan HET masih menunggu perkembangan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Saat ini, harga CPO masih berfluktuasi.
Bahkan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani sempat mengalami penurunan tajam seiring pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Bersama komoditas batu bara dan paduan besi, ekspor kelapa sawit nantinya akan dikendalikan melalui DSI.
Pemerintah memilih menunggu hingga harga bahan baku minyak goreng lebih stabil sebelum menetapkan kebijakan baru. Namun, sulit memastikan kapan harga CPO akan benar-benar stabil.
Fluktuasi harga CPO dipengaruhi oleh dinamika penawaran dan permintaan global. Ketidakseimbangan pasokan dari negara produsen utama, yakni Indonesia dan Malaysia, serta perubahan permintaan dunia secara langsung memengaruhi pergerakan harga.
Baca juga : AHY: Mari Kita Perkuat Solidaritas Kemanusiaan
Selain itu, harga CPO juga dipengaruhi harga minyak nabati lain yang menjadi substitusi, seperti minyak kedelai, bunga matahari, dan kanola. Ketika harga minyak substitusi turun, permintaan terhadap CPO biasanya ikut melemah sehingga menekan harga. Sebaliknya, jika harga minyak substitusi naik, harga CPO cenderung terdorong naik.
Faktor lain yang memengaruhi harga CPO adalah kebijakan Pemerintah. Sebelum program mandatori biodiesel diberlakukan, kebutuhan domestik terhadap CPO relatif terbatas. Namun setelah diterapkannya program B40, yakni campuran 40 persen biodiesel berbahan minyak sawit dan 60 persen solar fosil, kebutuhan CPO dalam negeri meningkat signifikan. Selain itu, kebijakan ekspor, pajak ekspor, pungutan ekspor, serta kewajiban pasok pasar domestik (Domestic Market Obligation (DMO)) juga berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga CPO.
Iklim dan gangguan tanaman turut menjadi faktor penting. Fenomena El Nino maupun La Nina dapat memengaruhi produktivitas perkebunan sawit. Penurunan produksi akibat cuaca ekstrem kerap memicu kelangkaan pasokan dan mendorong kenaikan harga. Di samping itu, rendahnya peremajaan kebun sawit rakyat serta serangan penyakit Ganoderma yang dikenal sebagai salah satu penyakit paling mematikan pada tanaman sawit juga berkontribusi terhadap fluktuasi pasokan.
Dengan berbagai faktor tersebut, sulit memastikan kapan harga CPO akan stabil.
Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron meminta Pemerintah mengkaji ulang rencana kenaikan HET MinyaKita. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi membebani masyarakat dan menekan daya beli.
Baca juga : MoU PSEL Jadi Lompatan Besar Atasi Darurat Sampah
Sementara itu, pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menyoroti aspek tata kelola distribusi MinyaKita. Ia menilai pengawasan terhadap penyaluran MinyaKita harus diperkuat agar program subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.
Untuk lebih jelasnya, berikut wawancara Khudori terkait wacana kenaikan HET MinyaKita.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya