Dark/Light Mode

Sudirman: Politik Itu Bukan Karier, Tapi Keterpanggilan

Minggu, 12 September 2021 22:21 WIB
Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said (Foto: Istimewa)
Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said, baru-baru ini menggelar program pengembangan kepemimpinan untuk kaum muda dengan tajuk “Tri-Sectors Leadership Bothcamp (TLSB)”. Sejumlah tokoh diundang untuk memberikan materi dalam program tersebut. Apa tujuan program tersebut, dan apa pandangannya terhadap situasi kepemimpinan di Indonesia?

Bagaimana menurut Anda kepemimpinan bangsa saat ini?

Indonesia adalah bangsa dan negara yang besar, majemuk, dan memiliki kompleksitas tinggi untuk mengurusnya.  76 tahun merdeka, bangsa kita mengalami perjalanan yang cukup panjang, berkali-kali menghadapi tantangan dan melewati krisis. Kita bersyukur, sejauh ini bisa melewati masa-masa sulit itu. Setiap krisis, pada dasarnya adalah ujian bagi kepemimpinan (kolektif) bangsa kita. Bila kita ingin mencapai tujuan kemerdekaan sebagaimana ditulis dalam pembukaan konstitusi kita, Indonesia memerlukan sejumlah besar pemimpin berkualitas; pemimpin yang kuat dalam integritas, memiliki kompetensi dan wawasan yang memadai, dan komitmen kuat dalam memajukan bangsanya.

Anda sering menggagas berbagai gerakan sosial, seperti Forum Solidaritas Kemanusiaan, Gerakan Pulih Bersama, atau Forum Indonesia Damai di tahun 2000-an, apa tujuannya?

Setiap inisiatif adalah persemaian subur bagi lahirnya para pemimpin. Gerakan sosial yang tidak berbasis otoritas formal, sejak dahulu telah melahirkan pemimpin (sejati); pribadi yang mampu menggerakkan perubahan lingkungan meskipun tidak memiliki kekuasaan dan uang. Lihat saja gerakan kebangkitan nasional 1908, gerakan sumpah pemuda 1928, perjuangan kemerdekaan menuju 1945, dan seterusnya, adalah gerakan sosial yang melahirkan pemimpin besar. Karena itu masyarakat sipil sering menjadi sarana persemaian alternatif dari kepemimpinan nasional. Gerakan-gerakan sosial, di samping harus mencapai tujuan pendiriannya, melayani masyarakat, juga harus didorong untuk melahirkan banyak pemimpin di berbagai level, di berbagai lapangan kehidupan. 

Saat ini Anda menjabat sebagai Sekjen PMI, padahal sebelumnya anda bergelut dalam industri tambang, senjata, audit, hingga Menteri ESDM, kenapa bisa banting stir begitu?

Sebenarnya, tidak ada istilah banting stir. Bidangnya memang terlihat berbeda-beda, tapi temanya kan sama, yaitu melayani masyarakat. Bekerja di pemerintahan, BUMN, BUMD dan lembaga-lembaga sosial, pada dasarnya adalah berperan sebagai pelayan masyarakat (public servant). Perjalanan saya sejak lulus kuliah yang dibiayai negara, tidak pernah lepas dari peran itu. Sesekali memang bekerja di swasta, tapi selalu saja saya terpanggil kembali ke public services, seperti sekarang ini.

Kembali tentang kepemimpinan, kabarnya Anda menginisiasi program kepemimpinan untuk milenial, bisa diceritakan?

Iya, benar. Sebagai Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), saya baru saja meluncurkan program pengembangan kepemimpinan untuk kawan-kawan muda dari tiga sektor. Mereka para profesional korporasi, pemerintahan, dan para penggerak organisasi sosial kemasyarakatan. Program ini diberi nama: Tri-Sector Leadership Bothcamp (TLSB). Sengaja para pemimpin muda dari tiga pilar ini dikumpulkan agar mereka saling belajar dan menjalin persahabatan, agar pada waktunya dapat bersinergi. Sesuai dengan tujuannya, kami mengundang sejumlah tokoh dari pemerintahan, dunia usaha, dan akademisi untuk memberi materi. Ketua Umum Kadin, Pak Arsjad Rasjid, Menteri Luar Negeri Ibu Retno Marsudi, sejumlah Direksi BUMN dan BUMD, dan tokoh-tokoh gerakan sosial telah bersedia untuk hadir. Program ini akan berlangsung selama enam bulan ke depan. 
 Selanjutnya