Dewan Pers

Dark/Light Mode

Sudirman: Politik Itu Bukan Karier, Tapi Keterpanggilan

Minggu, 12 September 2021 22:21 WIB
Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said (Foto: Istimewa)
Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Dari jejak digital yang terekam oleh publik, tampaknya Anda juga sering menginisiasi program-program kepemimpinan semacam itu. Apa yang ingin dihasilkan?

Ini sebenarnya kebiasaan saya sejak dulu, terus membangun persemaian bagi pemimpin masa depan. Di ESDM, kami merintis program Patriot Energi, saya terlibat dalam pembentukan Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) ketika di Indika, di Pertamina menjadi dapur dari Transformation Leadership Engine (TLE), di Petrosea, saya membangun Petrosea Academy. Sewaktu mengurus Masyarakat Transparansi Indonesia, kami menyelenggarakan program Leadership for Good Governance (LGG) untuk para aktivis gerakan anti korupsi. Di Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), kami mewajibkan anggota profesi untuk meng-update terus menerus pengetahuannya melalui program Continuing Professional Education (CPE). Benang merah dari semuanya adalah satu: investasi di bidang human capital, dan leadership development. Keterampilan kepemimpinan akan selalu dibutuhkan dalam situasi apa pun.

Menurut Anda, bagaimana kinerja partai politik dalam mencetak pemimpin untuk Indonesia?

Sebagai otokritik pada demokrasi kita, harus kita katakan bahwa partai politik belum berperan banyak sebagai “pabrik” pemimpin politik kita. Kebanyakan partai politik masih memiliki kultur feodal, dan sumber rekrutmen pemimpinnya terbatas pada kekerabatan dan hubungan asal-usul di masa lalu. Partai yang cukup terbuka juga belum berorientasi pada integritas dan kompetensi sebagai kriteria utama dalam merekrut dan mempromosikan pemimpin politik. Popularitas masih megalahkan kapasitas dan integritas. Dalam kultur begini, jangan harap talenta terbaik bisa masuk dalam sistem politik kita, yang sudah di dalam pun bisa dikalahkan oleh kekerabatan dan budaya politik uang. Patut disayangkan, demokrasi kita sedang mengalami krisis substansi dan krisis kepemimpinan sejati. Kalau Indonesia mau kuat, partai politik harus mampu merekrut, menghasilkan, dan mempromosikan talenta pemimpin bangsa yang memiliki kapasitas moral, intelektual, dan manajerial. Pekerjaan rumah kita masih banyak.

Anda bekerja sama dengan Presiden Jokowi, mantan Wapres Jusuf Kalla, dan juga Gubernur Jakarta Anies Baswedan. Menurut Anda, siapa yang memiliki gaya kepemimpinan terbaik?

Setiap pemimpin punya gaya, punya kelebihan, dan punya kekurangan. Saya tidak bisa mengatakan siapa yang lebih baik dari yang lain. Dari interaksi dengan para tokoh dan pemimpin, saya terus mengambil pelajaran, baik dari kelebihan maupun dari kekurangan mereka. Waktu yang nanti membuktikan apakah figur tertentu, memang pas untuk momentum tertentu. 

Apakah Anda tidak memiliki hasrat kembali ke politik? Misalnya, berpasangan dengan Gibran, Wali Kota Solo dalam Pilkada Jateng di 2024 kelak?

Politik dengan "p" kecil, seperti berkompetisi, politik kepartaian, sementara ini, saya libur dulu. Tapi, politik dengan "P" besar, terus mengikuti situasi kenegaraan dan kebangsaan, harus terus dilakukan oleh setiap warga terdidik. Saya memandang, politik itu bukan pekerjaan atau karir, tetapi panggilan. Karier dan pekerjaan kan ada pensiunnya, keterpanggilan untuk menjadi pelayan publik bisa kapan saja. Pesan para senior, orang-orang bijak kepada saya: “Kamu boleh merasa terpanggil untuk suatu jabatan publik, tapi jangan pernah ingin”. Orang terpanggil boleh bersiap, tapi orang yang ingin sering tersesat menghalalkan segala cara. 

Apa saran Anda supaya Indonesia terus memiliki sosok terbaik sebagai pemimpin?

Jangan berhenti memproduksi pemimpin, karena Indonesia membutuhkan banyak sekali pemimpin berkualitas. Caranya, perbanyak inisiatif yang menumbuhkan jiwa dan ketrampilan memimpin. Pendidikan, pelatihan, mentoring, gerakan sosial harus diperbanyak. Komunitas yang merupakan persemaian calon-calon pemimpin harus diperbanyak. Tetapi di atas semuanya, kepemimpinan adalah soal perilaku, bukan posisi atau pangkat. Akan semakin baik bila para pemimpin formal menampilkan nilai-nilai luhur: jujur, tidak korupsi, rela berkorban, berinisiatif, dan terus menjadi pelayan masyarakat. Sikap-sikap ini akan menjadi teladan bagi generasi mendatang, untuk melahirkan sebanyak mungkin pemimpin sejati, bukan sekedar penguasa. [RCH]