Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tim PKM Usakti Kelola Bank Sampah Berbasis Ekonomi Sirkular dengan Teknoplas
Selasa, 17 September 2024 09:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung Depok sudah overload. Kota Depok menghasilkan sampah sekitar 1.500 ton, yang 900-1.000 ton sampahnya dikirimkan ke TPA Cipayung setiap harinya. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sampah jenis plastik menempati urutan terbanyak kedua yaitu sebesar 21,36 persen. Keberadaan sampah plastik ini berdampak negatif pada ekosistem dunia, karena sulit terurai yaitu membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun.
Dampak dari banyaknya sampah plastik dapat merusak ekosistem tanah maupun perairan, serta memicu terjadinya pemanasan global karena bahan baku plastik adalah minyak fosil dan gas alam. Di sisi lain, sebenarnya sampah plastik memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi jika didaur ulang maupun digunakan kembali sebelum akhirnya benar-benar menjadi sampah. Sampah plastik dapat digunakan untuk berbagai jenis kerajinan tangan, ecobrick, bahan bakar cair, dan lain-lain.
Permasalahan sampah di Indonesia tidak dapat diatasi sendiri oleh Pemerintah. Adanya bank sampah dapat membantu permasalahan mulai dari hulu, karena berperan sebagai pemilah awal yang dihasilkan masyarakat sehingga sampah dapat diolah kembali.
Bank Sampah Induk (BSI) Rumah Harum merupakan usaha milik swasta yang berangkat dari kepedulian pemiliknya untuk membantu menanggulangi masalah sampah di Jabodetabek. Bank sampah yang dipelopori Hermansyah ini, berlokasi di Jalan Merdeka Raya Nomor 1 RT05/RW01, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. BSI Rumah Harum didirikan pada 2013 dan memiliki area seluas 400 m2 yang digunakan untuk kegiatan mulai dari pengumpulan sampah, pemilahan, hingga pengolahan.
Baca juga : ISEI Cari Sosok Ketua yang Mampu Lakukan Transformasi Ekonomi Berkelanjutan
Pendiri Bank Sampah Rumah Harum, Hermansyah, mengatakan bahwa saat ini BSI Rumah Harum sudah memiliki beberapa peralatan pengolah sampah plastik, seperti mesin pencacah sampah, mesin press sampah, mesin ektruder, dan mesin pembuat paving block. Sayangnya, dalam pengoperasiannya, masih memiliki keterbatasan yaitu kapasitas mesin pencacah hanya berkisar 200-500 kilogram per hari sedangkan targetnya adalah 5 ton per hari.
Mesin ini juga belum terintegrasi dengan pembersihan hasil cacahan dan pengering sehingga masih dilakukan secara manual yang menyebabkan waktu proses produksinya lama. Kualitas cacahannya juga belum memenuhi kebutuhan industri, karena mesin tidak bisa di-setting ukurannya dan hanya dapat digunakan untuk mencacah sampah botol plastik yang lunak, seperti botol plastik minuman. Selain itu, terdapat permasalahan lain yaitu keterbatasan karyawan yang belum memiliki skill untuk mengolah sampah plastik.
Berlatar belakang dari kondisi ini, tiga ahli dengan keahlian yang saling melengkapi dari Universitas Trisakti (Usakti) membentuk tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yaitu Winnie Septiani, Prof Astri Rinanti, dan Ratna Mira Yojana yang didukung Annisa Dewi Akbari dan mahasiswa Benediktus Prayoga Wijayanto dan Yogi Setyawan.
Tim PKM Universitas Trisakti melakukan pemberdayaan masyarakat kepada BSI Rumah Harum melalui pemanfaatan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik Terintegrasi (Teknoplas). Program ini merupakan hasil pendanaan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi TA 2024.
Baca juga : Perempuan Mesti Pahami Perubahan Iklim
Fokus kegiatan PKM ini selaras dengan PKM unggulan Universitas Trisakti terkait langsung dengan isu keberlanjutan lingkungan berbasis kearifan lokal menuju Green Jabodetabek dengan fokus PKM terkait dengan Green Energy dan Green Society. PKM diarahkan pada peningkatan ekonomi sirkular yang berupa penerapan kegiatan pengolahan sampah plastik sehingga dapat mengurangi jumlah sampah plastik dan meningkatkan daya guna sampah plastik.
Pemanfaatan mesin Teknoplas dengan mitra akan dijalankan dengan sistem co-production. Mitra menyediakan bahan baku untuk sampah plastik lalu memproses sampah menggunakan mesin Teknoplas bertempat di lahan milik Universitas Trisakti yang berada di Nagrak, Cibubur. Setelah menjadi cacahan, mitra dapat menjual hasil cacahan atau memproses menjadi produk jadi (finish goods) dengan menggunakan mesin yang dimiliki mitra.
Dalam pemanfaatan mesin Teknoplas, mitra membutuhkan kontainer untuk menyimpan sementara bahan baku sampah plastik dan hasil cacahannya. Kontainer ini akan digunakan saat penyimpanan maupun pengangkutan sehingga perlu desain kontainer yang portable. Kontainer memiliki spesifikasi sesuai kebutuhan mitra dan terintegrasi dengan desain dan ukuran Teknoplas.
Ketua Tim Hibah PKM Winnie Septiani menjelaskan, dengan adanya PKM ini, sebagai pemberdayaan masyarakat BSI Rumah Harum melalui pemanfaatan mesin pengolah sampah plastik terintegrasi (Teknoplas), diharapkan dapat mendukung berjalannya ekonomi sirkular.
Baca juga : Pernyataan Ketua KPU Soal Penolakan Berkas Dico-Ali Diduga Tak Kolektif Kolegial
“Selain itu, pemberdayaan ini juga bertujuan untuk peningkatan kompetensi karyawan yang dilakukan dengan pelatihan dan pendampingan mengenai cara pengoperasian serta cara Maintenance mesin Teknoplas,” jelas Wnnie.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya