Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Catatan Prof Abuddin Nata
Reformulasi Konsep Pendidikan Anak Usia Dini
Kamis, 28 November 2024 13:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Para pakar pendidikan umumnya sepakat, bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki peranan yang amat strategis. Saat masa kanak-kanak sering disebut sebagai golden age (masa keemasan), karena nilai-nilai yang ditanamkan pada diri anak akan terhunjam kuat hingga masa dewasa dan seterusnya. Pepatah Arab mengatakan: “Al-ta’lim fi al-shighar ka al-naqsi ‘ala al-hajar (Mendidik anak pada usia dini, seperti melukis di atas batu)”. Untuk itu, pendidikan anak usia dini tidak boleh terlambat, keliru atau asal-asalan.
Seiring dengan terjadinya perubahan pola hidup masyarakat agraris ke urbanis, menyebabkan pendidikan anak usia dini makin dibutuhkan. Waktu, tenaga, pikiran dan perhatian masyarakat urbanis sudah tidak cukup lagi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, termasuk mendidik, membimbing, melatih dan memberikan teladan pada anaknya. Dalam kondisi Ketika masyarakat akan terus berubah menjadi urbanis, keberadaan pendidikan anak usia dini makin dibutuhkan.
Namun demikian, dalam realita masih dijumpai adanya konsep PAUD yang belum seragam, bahkan saling bertentangan. Di satu pihak, ada PAUD yang hanya menekankan pada kesiapan mental dan adaptasi untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Di pihak lain ada PAUD yang selain melatih kesiapan mental dan adaptasi, juga melatih berbagai potensi anak: fisik, kognitif, emosi, bahasa, moral, sosial, imajinasi/fantasi. Hal ini dilakukan antara lain melalui latihan pancaindra, permainan, keterampilan dasar membaca, menulis dan berhitung (Calistung).
Lebih dari itu, terdapat PAUD di mana para siswanya selain dilatih kesiapan mental dan beradaptasi, serta latihan dasar pengembangan berbagai macam potensi dan Calistung, juga diberikan keterampilan dasar berbahasa asing dan mengoperasikan komputer dan teknologi digital. Tamatan PAUD seperti ini nampak lebih siap untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang berikutnya yang menerapkan standar yang unggul dan berwawasan global. Penelitian tentang dampak buruk dari penerapan PAUD model ini juga belum ditemukan.
Baca juga : Bappenas Tekankan Pentingnya Tata Kelola Pedesaan Adaptif
Jika demikian halnya, maka di masa sekarang dan yang akan datang diperlukan adanya reformulasi konsep pendidikan PAUD yang memadukan antara konsep pendidikan PAUD klasik sebagaimana dikembangkan Dr. Maria Montessori, Dr. Frederick Frobel, Karl Grose, Herbet Spencer, Stanley Hall, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain dengan konsep pendidikan PAUD modern berwawasan global. Yaitu PAUD yang disertai dengan memberikan kemampuan dasar Calistung, bahasa asing dan IT yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa anak. Yaitu dengan menerapkan model pembelajaran PAUD yang dikemas dalam bentuk olah fisik, olah pikir, dan olah mental melalui olahraga, bermain peran, berkreasi, berinovasi, bernyanyi, rekresasi, cerita, dongeng, main musik, dan lainya; dalam suasana yang menyenangkan, menggembirakan, menyasyikan dan tidak membosankan.
Konsep PAUD yang terpadu itu juga hendaknya tidak meninggalkan hal-hal yang prinsip dan tidak boleh berubah di pendidikan. Komaruddin Hidayat dalam artikelnya “Yang Tak Berubah di Pendidikan” dalam Kompas, Sabtu, 2 November 2019:6, mengatakan tentang perlunya memberikan sentuhan kasih sayang, kemerdekaan berekspresi, suasana gembira, pembentukan karakter, penanaman nilai spiritualitas, berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, serta kecerdasan sosial dalam pendidikan anak-anak. Perlunya memadukan konsep pendidikan model klasik dan modern yang berwawasan global ini didasarkan pada beberapa pertimbangan sebagai berikut.
Pertama, bahwa dalam menentukan metode, pendekatan dan bahan ajar bagi pendidikan pada umumnya, dan pendidikan kanak-kanak dewasa ini pada khususnya, tidak hanya didasarkan pada grand theory klasik seperti Nativisme dari Arthur Chopenhaur yang menekankan potensi bawaan dari dalam diri anak; Empirisme dan behaviorisme dari John Locke, Pavlop, Skinner dan lainnya yang menekankan pengaruh lingkungan dan stimulus guru; serta konvergensi dari William Stern yang memadukan kedua-dunya, tetapi juga didasarkan pada temuan-temuan baru hasil penelitian di bidang penelitian psikologi. Daniel Goleman misalnya memperkenalkan hasil penelitiannya tentang kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional (ESQ); Howard Gardner tentang multiple intelligence (kecerdasan jamak) yang meliputi kecerdasan linguistik, logika matematika, kinestetik, spasial, interpersonal, intrapersonal, musik dan naturalis, serta lainnya. Selain itu, PAUD di masa sekarang juga harus menggunakan bahan ajar yang melimpah yang disediakan media sosial, memperhatikan perubahan pola hidup masyarakat yang semakin menuntut agar diperlakukan secara lebih humanis, adil, demokratis, egaliter transparan, dan sebagainya.
Kedua, bahwa siswa yang hidup di masa sekarang telah memiliki karakter sebagai generasi Alfa. Yaitu generasi yang paling melek teknologi, jauh melebihi generasi generasi sebelumnya. Mereka akrab dengan peranti dan platform multimedia, seperti IPad, Instagram, TikTok, serta aneka aplikasi lainnya. Jari mereka sudah begitu akrab dengan gawai. YouTuber memengaruhi gaya hidupnya. Mainan serta aktivitas yang dapat dimainkan di ponsel cerdas jauh lebih menarik bagi mereka ketimbang mainan konvensional. Bahkan ada yang asyik bermain Mikro 3, robot cerdas yang mampu mengenal emosi anak dan menawarkan lebih dari 50.000 pembelajaran yang tersebar di ribuan game, video pendidikan, coding, STEAM (science, technology engineering, art, and mathematic), musik, kebugaran dan lainnya. (Lihat Ella Yulaelawati, “Mengajar Generasi Alfa,” dalam Kompas, Rabu, 26 Juli, 2023:7). Berbagai kemampuan generasi Alfa yang demikian itu bahkan sudah muncul secara otodidak dan naluriah pada anak yang belum masuk PAUD.
Ketiga, fakta yang umum terjadi di masyarakat muslim khususnya, terdapat tradisi mengajarkan anak-anak tentang tilawah (bacaan) dan tahfidz (hafalan) Al-Qur’an pada anak anak usia dini. Hal ini berkaitan erat dengan kewajiban yang harus dilakukan anak ketika memasuki usia baligh. Orang tua sangat cemas, jika anaknya sudah baligh belum bisa membaca dan menguasai hafalan surat-surat dalam Al-Qur’an. Hal ini berkaitan erat dengan kewajiban melaksanakan shalat yang menggunakan hafalan Al-Qur’an. Fakta ini menunjukkan, bahwa baik dari segi pancaindra maupun kemampuan psikologisnya, bahwa seorang anak usia dini (antara 4 sd 7 tahun) sudah siap belajar mengenal dan membaca huruf. Jika kemampuan membaca huruf-huruf Al-Qur’an saja seorang anak sudah dapat dilatih, maka kemampuan membaca huruf-huruf Latin akan lebih memungkinkan lagi, karena membaca huruf Latin lebih mudah daripada membaca huruf Arab. Di dalam Al-Qur’an terdapat huruf-huruf tertentu yang dalam melafalkannya membutuhkan teknik tersendiri yang berkaitan dengan berbagai organ mulut, seperti lidah, tenggorokan, bibir dan sebagainya. Jika anak-anak PAUD sudah mampu melafalkan huruf-huruf tersebut, maka mereka akan lebih mampu lagi mengenal dan melafalkan huruf-huruf Latin.
Baca juga : Gunawan Sumodiningrat: Revisi UU Koperasi Demi Asta Cita
Ketiga, bahwa anak-anak di masa sekarang, sejak usia dini sudah dilatih untuk menjalani kehidupan dengan bantuan media sosial. Mereka harus sudah dikenalkan dengan cara menggunakan handphone dengan menu, fitur-fitur dan sistem kerjanya secara sederhana. Anak-anak usia dini misalnya sudah harus mampu memanggil mamah atau papahnya melalui hp; merespon panggilan, mencari gambar, informasi dan sebagainya. Keadaan tersebut sudah mengharuskan anak mengenal huruf.
Keempat, bahwa berbagai teori yang digunakan sebagai landasan PAUD yang bertumpu pada pemberian kebebasan menggunakan pancaindra dan bermain dalam rangka pembentukan sikap mentalnya sebagaimana digagas para psikolog klasik sebagian besar didasarkan pada hasil penelitian psikologis yang bersifat empiris rasionalis. Padahal selain itu, masih ada teori pembelajaran PAUD yang didasarkan pada pendekatan keridhaan guru, penyucian diri, dan penampilan akhlak al-karimah. Syaikh Ibrahim bin Islam dalam buku Syarah Ta’lim Muta’allim, Thuruq al-Ta’aalum: Pengajaran bagi Pembelajar tentang Cara Belajar (2006:15) karangan Burhan al-Din al-Zarnuji misalnya, selain mensyaratkan adanya enam hal, yakni zukain (kecerdasan), hirshin (keingintahuan-curiosity), isthibarin (sabar), bulghatin (biaya), irsyad al-ustad (guru yang cerdas dan memiliki passion), dan thuulu al-zaman (waktu yang cukup), juga mensyaratkan adanya akhlak mulia, seperti santun pada guru, qana’ah (mencukupkan dengan yang ada), wara’ (menjauhi perbuatan yang haram dan subhat dan sebagainya). Melalui akhlak mulia ini, maka jiwa akan bersih dan hidayah dari Tuhan berupa kemudahan dalam memahami ilmu, dan lainnya akan datang (Q.S. al-Nuur, 24:35).
Kelima, konsep pendidikan PAUD yang seimbang ini amat diperlukan sehubungan dengan adanya perubahan pola kehidupan yang berjalan demikian cepat. Anak tamatan PAUD di era global ini di samping memiliki kesiapan fisik, mental, sosial dan keterampilan dasar Calistung, juga harus menguasai dasar-dasar IT, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa dunia, bersikap kreatif, inovatif dan mandiri. Penerapan konsep pendidikan yang ditawarkan ini sesungguhnya bukan hal baru, melainkan sudah ada sejak zaman penjajahan pra kemerdekaan. Pada masa itu Belanda menggunakan istilah Frobelschool dengan visi baru yang tidak sepenuhnya sama dengan gagasan Frobel yang asli. Melalui PAUD, Belanda menginginkan agar anak-anak lekas pintar, pandai membaca dan menulis serta dapat berbahasa Belanda. Dalam konsep pendidikan PAUD yang menggabungkan antara kebebasan anak dengan “intelektualisme” ini, menyebabkan ibu-ibu saat itu tertarik menyekolahkan anaknya ke PAUD yang didirikan Belanda. Tujuannya antara lain agar anak-anaknya dapat melanjutkan ke sekolah Belanda jenjang berikutnya yang menggunakan bahasa Belanda. (Lihat Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan (1962:279).
Tidak hanya itu, di masa sekarang ini, telah lahir pula berbagai penelitian tentang anak. Dalam bukunya yang berjudul The Child and The Curriculum, John Dewey misalnya mengatakan bahwa pendidikan anak di masa sekarang harus bersifat “drawing out” yakni menggali dan mengeluarkan potensi anak dari dalam, dan bukan “pouring in” yakni mengisi bejana. Menurutnya pula, bahwa anak adalah makhluk yang aktif sekali. Ia memiliki minat untuk berkembang, menyelidiki, mengkonstruksi, dan untuk berekspresi artistik atau keunikan. Pendidikan harus menyesuaikan dengan minat dan insting anak. Mudah-mudahan anak-anak kita menjadi orang yang religius, berakhlak mulia, berilmu, cerdas, sehat jasmani dan rohani, terampil, berwawasan rahmatan lil alamin (global) serta berguna bagi agama, masyarakat, bangsa dan negara, dan bahagia dunia akhirat. Amin.
Baca juga : KPK Tetapkan 4 Sekolah Terbaik dalam Implementasi Pendidikan Antikorupsi
Prof Abuddin Nata
Guru Besar Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya