Dark/Light Mode

PGRI Dukung Kemendikdasmen Hidupkan Penjurusan IPA, IPS & Bahasa di SMA

Minggu, 13 April 2025 22:01 WIB
Siswa SMA belajar jaringan listrik di Laboratoriun Digital Pertamina. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Siswa SMA belajar jaringan listrik di Laboratoriun Digital Pertamina. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berencana menghidupkan kembali penjurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun ajaran 2025/2026. Rencana ini mendapat dukungan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan praktisi pendidikan.

Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi mengatakan, harapan agar siswa menguasai semua ilmu itu baik. Tapi, jika tidak siap yang terjadi malah siswa tidak mendapatkan ilmu apa-apa atau hanya sedikit.

“Dengan adanya penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa itu bagus agar siswa bisa mempelajari ilmu sesuai dengan minatnya dan menjadi ahli,” ujar Unifah, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (13/4/2025).

Baca juga : Dukung Kelancaran Mudik 2025, PTPP Rampungkan Pelebaran Tol Cipali

Berdasarkan pemantauan yang dilakukan praktisi pendidikan Heriyanto, saat ada penghapusan penjurusan SMA, di lapangan tidak sepenuhnya dapat dijalankan dengan baik. “Ada beberapa mata pelajaran yang perlu diambil dan dilepaskan, padahal itu adalah mata pelajaran dasar yang sangat diperlukan,” ungkap Heri.

Contohnya, jika siswa yang memilih kedokteran, dapat melepaskan fisika, dan konsentrasi pada biologi dan kimia. Namun, persoalan yang sering muncul adalah ketika pilihan profesi siswa bisa saja berubah di kelas XII menjadi Teknik. “Sedangkan dalam 2 atau 3 semester sebelumnya, mereka tidak mempelajari fisika,” jelasnya.

Ia menambahkan, belum ada sinkronisasi antara pendidikan SMA dengan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), pada tahun pertama mahasiswa baru harus lulus dalam perkuliahan bersama untuk mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi walaupun jurusannya bukan teknik.

Baca juga : Pelita Air Dukung Kebijakan Penurunan Harga Tiket Pesawat Lebaran 2025

“Sehingga mata pelajaran tersebut tetap diajarkan sebagai bekal di PTN nantinya, termasuk untuk pilihan IPS. Karena apabila siswa yang memiliki cita-cita menjadi akuntan dapat melepaskan geografi atau sosiologinya. Namun apabila berubah menjadi ahli hukum diberikan syarat kedua pelajaran tersebut akan dipelajari saat di perguruan tinggi,” pungkas Heri.

Senada dengan hal itu, Guru Geografi SMA Pangudi Luhur II Servasius Bekasi Ignasius Sudaryanto menjelaskan, para siswa menghadapi kebingungan dalam pemilihan mata pelajaran peminatan, sehingga banyak yang tidak sesuai saat melaksanakan perkuliahan.

“Hal itu juga dialami sekolah yang menemukan kesulitan dalam membagi jam mengajar guru, karena ada mata pelajaran yang peminatnya sedikit. Akan tetapi juga ada mata pelajaran yang kelebihan minat siswa,” terangnya.

Baca juga : Dukung Kebijakan Penempatan DHE SDA, Pelaku Usaha Minta Insentif

Dia sangat setuju jika penjurusan/pemilihan mata pelajaran dikembalikan seperti dulu yaitu jurusan IPA, IPS dan Bahasa. “Hal ini akan membuat siswa lebih fokus belajar dan sekolah lebih mudah mengelola tenaga pendidik,” tutur Sudaryanto.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.