Dark/Light Mode

Penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa Sejalan Kebutuhan Zaman

Rabu, 16 April 2025 09:13 WIB
Pemerhati Pendidikan, Alumnus Doktor Education Leadership and Management, Southwest University China, Nabila Ghassani. Foto: Istimewa
Pemerhati Pendidikan, Alumnus Doktor Education Leadership and Management, Southwest University China, Nabila Ghassani. Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Menyelaraskan Sistem Pendidikan

Konsep merdeka belajar sebelumnya dirancang untuk memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada siswa dalam memilih mata pelajaran sesuai minat dan bakat mereka, namun kenyataannya pendekatan ini belum sepenuhnya efektif diterapkan secara merata di seluruh sekolah di Indonesia.

Fleksibilitas tanpa struktur yang kuat justru berpotensi membuat siswa kehilangan arah dalam memilih jalur pendidikan dan kariernya.

Baca juga : Aktivis Pendidikan Nilai Positif Penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA

Dalam konteks ini, sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa memiliki keunggulan yang signifikan karena memberikan kerangka yang lebih terstruktur dan jelas bagi peserta didik.

Penjurusan membantu siswa memfokuskan diri pada bidang keilmuan tertentu, memungkinkan mereka untuk mendalami materi secara lebih intensif, dan secara bertahap membentuk kesiapan akademik yang relevan dengan jenjang pendidikan tinggi maupun dunia kerja.

Siswa yang memilih jurusan IPA, misalnya, akan mendapatkan penguatan dalam mata pelajaran sains seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi, yang menjadi bekal penting untuk masuk ke program studi teknik atau kedokteran.

Baca juga : PGRI Dukung Kemendikdasmen Hidupkan Penjurusan IPA, IPS & Bahasa di SMA

Begitu pula dengan jurusan IPS dan Bahasa yang mempersiapkan siswa dalam pemahaman sosial, ekonomi, budaya, dan bahasa secara mendalam.

Dalam sistem Merdeka Belajar, meskipun siswa bisa memilih lintas mata pelajaran, tidak semua sekolah memiliki kapasitas, guru, maupun infrastruktur untuk mendukung pilihan yang beragam, sehingga justru menimbulkan ketimpangan akses dan kualitas pembelajaran antar daerah.

Selain itu, dalam praktiknya, banyak siswa yang masih bingung menentukan kombinasi mata pelajaran yang tepat karena minimnya pendampingan akademik. Hal ini menunjukkan bahwa struktur penjurusan justru memberi kepastian dan arah yang dibutuhkan dalam tahap perkembangan remaja SMA yang sedang mencari identitas dan minat jangka panjangnya.

Baca juga : GMKI Nilai Pengamanan Polri Saat Mudik Lebaran Berjalan Optimal

Oleh karena itu, mengembalikan sistem penjurusan bukan berarti menolak inovasi pendidikan, melainkan menyelaraskan kembali antara kebebasan memilih dan kebutuhan akan arah pembelajaran yang terencana dan terukur.

Kombinasi antara struktur penjurusan dan ruang pilihan terbatas (misalnya mata pelajaran lintas jurusan sebagai tambahan) bisa menjadi solusi bijak yang menggabungkan nilai-nilai positif dari kedua pendekatan tersebut.

Dalam jangka panjang, kebijakan pendidikan harus berpijak pada kebutuhan nyata siswa dan kesiapan infrastruktur sekolah, bukan semata-mata pada idealisme kebebasan belajar yang belum tentu aplikatif di seluruh konteks lokal Indonesia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.