Dark/Light Mode

Ekonomi Islam: Jalan Tengah di Tengah Krisis Kapitalisme

Selasa, 22 April 2025 22:58 WIB
Ilustrasi krisis (Foto: Safeloan.com)
Ilustrasi krisis (Foto: Safeloan.com)

Ekonomi Islam bukan sekadar sistem keuangan tanpa bunga, tapi sebuah konsep pembangunan yang adil, spiritual, dan manusiawi.”

Kapitalisme Membawa Kita ke Mana?

Sudah puluhan tahun kita hidup di bawah sistem ekonomi kapitalis. Pertumbuhan ekonomi terus dikejar, angka-angka diperindah, namun kenyataannya: kesenjangan tetap menganga, kemiskinan membandel, dan moralitas pasar makin kabur. Bahkan krisis ekonomi global silih berganti, seakan memberi sinyal bahwa ada yang keliru dengan sistem ini.

Kapitalisme terlalu menekankan pada kebebasan individu dan kepemilikan tanpa batas. Sementara itu, mereka yang lemah dibiarkan bertarung dalam sistem yang tidak selalu adil. Maka muncul pertanyaan: apakah ada sistem alternatif yang lebih manusiawi dan tetap produktif?

Ekonomi Islam: Sistem dengan Arah yang Jelas

Baca juga : Pertamina Gas Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Palestina di Tengah Krisis

Dalam Jurnal Al-Mawarid, Asmuni menawarkan refleksi penting: ekonomi Islam hadir bukan sekadar pelengkap, tapi sebagai alternatif sistemik atas kegagalan kapitalisme dan sosialisme.

Ekonomi Islam dibangun di atas nilai:

● Tauhid: Kesadaran bahwa segala aktivitas ekonomi harus bertanggung jawab secara spiritual kepada Tuhan.

● Keadilan (‘Adl): Bukan sekadar distribusi uang, tetapi juga pemerataan kesempatan dan perlindungan terhadap yang lemah.

● Kepemilikan terbatas: Dalam Islam, harta adalah titipan. Maka penggunaannya harus bermanfaat dan tidak boleh menimbulkan kerusakan sosial.

Baca juga : Diplomasi Bermartabat Jalan Tengah Kemanusiaan

Lebih dari itu, Islam juga ada mekanisme distribusi seperti zakat, infak, dan wakaf untuk menghapus ketimpangan ekonomi.

Apa Bedanya dengan Sistem Lain?

Kalau kapitalisme berbicara tentang kompetisi bebas, dan sosialisme tentang pemerataan oleh negara, maka ekonomi Islam memadukan keduanya secara seimbang. Islam memberi ruang pada kepemilikan pribadi dan kreativitas usaha, namun tetap mengikatnya dengan nilai-nilai spiritual dan sosial.

Tidak ada riba, tidak ada eksploitasi. Bahkan praktik spekulasi (maysir) dan ketidakjelasan (gharar) dalam transaksi dilarang. Semua aktivitas ekonomi harus transparan, etis, dan memberi manfaat nyata.

Penutup: Saatnya Ubah Arah?

Baca juga : Ini Jurus BNI Jaga Kinerja Di Tengah Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

Banyak negara mulai melirik sistem keuangan Islam. Bukan karena alasan agama semata, tapi karena prinsip-prinsip yang ditawarkan terbukti tahan terhadap krisis dan lebih adil terhadap masyarakat kecil.

"Jika kita sepakat bahwa ekonomi bukan sekadar angka, maka saatnya kita memilih sistem yang menyentuh nurani."

Ekonomi Islam bukan hanya solusi teknis, tapi jalan hidup yang membawa keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara kekayaan dan keberkahan.

Mohammad Haikal Khaliez
Mohammad Haikal Khaliez
Mahasiswa Universitas Pamulang Semester IV, Prodi Ekonomi Syari’ah

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.