Dark/Light Mode

Mendidik dengan Nilai-nilai Kurban: Pelajaran Penting untuk Orang Tua Masa kini

Minggu, 8 Juni 2025 13:41 WIB
Ilustrasi anak sedang belajar. (Gambar: Istimewa)
Ilustrasi anak sedang belajar. (Gambar: Istimewa)

Pendidikan merupakan hal penting untuk masa depan seorang anak. Setiap orang tua pasti menaruh harapan kepada anaknya soal masa depannya. Pertanyaan orang tua soal kelak anaknya jadi apa, kemudian profesi, jabatan, penghasilan dan status sosial di tengah masyarakat akan selalu menjadi impian setiap orang tua. Menilai anak dari alat ukur tersebut tentu sah-sah saja. Akan tetapi, jangan kita hanya membentuk generasi yang berprestasi secara lahiriyah, tapi kosong secara ruhani atau batiniyah.

Sebaliknya, pertanyaan yang jauh lebih esensial namun jarang diajukan adalah: “Anakku nanti hidup untuk apa atau siapa?” Pertanyaan ini menuntun kita ke ranah yang lebih dalam, yakni makna hidup. Tidak lagi sebatas pencapaian, tetapi tujuan hidup itu sendiri. Anak bukan sekadar harus “menjadi sesuatu”, melainkan “menjadi seseorang” yang hidupnya memiliki arah, makna, dan kontribusi dalam pandangan Allah.

Dalam konteks ke-Islaman, tujuan hidup seorang Muslim telah sangat jelas sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Maka, pendidikan sejati adalah pendidikan yang mengarahkan anak untuk menjalani hidupnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Ini bukan berarti mengabaikan aspek duniawi, tetapi menempatkannya di posisi yang proporsional.

Hari Raya Idul Adha menjadi momentum reflektif yang sangat tepat untuk mengubah paradigma ini. Sebab, hari raya ini bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi tentang meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjawab panggilan Allah. Sebuah pengabdian total yang lahir dari misi hidup, bukan obsesi duniawi.

Obsesi Orang Tua

Obsesi terhadap masa depan anak sering kali tidak muncul begitu saja. Ia adalah manifestasi dari masa lalu orang tua. Mungkin kita dulu tumbuh dalam tekanan, kegagalan, atau kekurangan. Maka secara tidak sadar, kita berharap anak-anak kita menjadi versi ideal dari diri kita. Anak dijadikan proyeksi atas cita-cita yang belum tercapai, bukan individu dengan jalan hidupnya sendiri.

Baca juga : Gyeongju Bersolek Jadi Tuan Rumah APEC 2025

Obsesi juga bisa muncul dari kebutuhan sosial: pengakuan, gengsi, dan status. Saat anak sukses dalam dunia akademik atau professional, orang tua merasa puas secara personal, karena anak merepresentasikan ambisi pribadi orang tuanya. Anak tidak dibiarkan tumbuh sesuai dengan minat dan bakatnya, tetapi dipaksa agar memenuhi selera dan ekspektasi orang tuanya yang tak pernah selesai.

Persoalannya, obsesi ini berpotensi akan menciptakan tekanan dan keretakan hubungan. Anak yang berkembang dalam bayang-bayang obsesi orang tuanya cenderung kehilangan arah jati dirinya. Ia belajar untuk menyenangkan hati orang tua, bukan untuk memahami dan mencintai Allah. Konsekuensinya, mereka barangkali menjadi anak yang berhasil di mata dunia, tetapi hampa dalam batin dan kehilangan makna jati diri.

Dalam pandangan Islam, setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Tugas orang tua adalah menjaga fitrah itu tetap utuh, bukan memaksakan dengan ambisi pribadi. Pendidikan bukan tentang menggiring anak untuk menjadi apa yang kita mau, tetapi menuntun mereka menuju apa yang Allah kehendaki.

Pendidikan Berbasis Misi

Pendidikan berbasis misi lahir dari kesadaran spiritual orang tua. Misi dalam mendidik berarti menyadari bahwa anak adalah amanah dari Allah, bukan milik mutlak kita. Misi ini berakar dari cinta yang matang: cinta yang tidak menuntut, tapi menumbuhkan. Orang tua yang mendidik dengan misi akan berorientasi pada proses, bukan sekadar hasil; pada nilai, bukan semata prestasi.

Mendidik dengan misi menuntut kesabaran dan kesadaran. Kita menanam nilai iman, adab, akhlak, dan cinta kepada kebaikan dalam keseharian. Pendidikan membutuhkan proses Panjang, kita tidak berharap bahwa anak langsung menjadi sempurna, dan ini merupakan investasi masa depan anak dari dunia hingga akherat.

Baca juga : Menkeu Pastikan Gaji Ke-13 ASN Cair Bulan Juni, Pensiunan Juga Dapat

Islam menganjurkan betapa pentingnya niat dalam segala tindakan kita, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, jika kita luruskan niat dalam mendidik anak karena Allah, niscaya setiap upaya kita akan bernilai ibadah di mata Allah. Inilah makna mendidik dengan misi, tidak ada langkah yang sia-sia selama kita selalu tunduk dan patuh di jalan-Nya.

Ketaatan total kepada sang pencipta menjadi pelajaran penting dari Idul Adha, bahkan kita berpotensi bertentangan dengan akal dan pikiran kita. Nabi Ibrahim tidak pernah mendidik anaknya menjadi penguasa, namun menjadi pribadi yang tangguh keimanan dan ketakwaannya, dibuktikan dengan Ismail menerima perintah Allah yang paling berat dalam hidupnya.

Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Mendidik Anak

Hari Raya Idul Adha tidak hanya rutinitas tahunan umat Islam dengan penyembelihan hewan kurban, tetapi merupakan momentum sakral untuk memaknai spiritual dari hikmah pembelajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah ini memberikan keteladanan yang luar biasa tentang kepatuhan, dan kecintaan kepada Allah segala-galanya melebihi apapun di dunia ini.

Di tengah dunia yang makin materialistis, banyak orang tua terjebak dalam obsesi terhadap prestasi duniawi, namun lalai menanamkan nilai-nilai abadi. Padahal, sebagaimana ditunjukkan dalam kisah Ibrahim dan Ismail, pendidikan anak bukan hanya soal perintah dan larangan, tetapi tentang membentuk kesadaran, keyakinan, dan misi hidup yang terarah kepada Allah SWT. Berikut empat pelajaran penting yang bisa kita ambil dari kisah tersebut.

Pertama, ajarkan anak berpikir dan berdialog, bukan sekadar mematuhi. Saat mendapat perintah untuk menyembelih Ismail, Nabi Ibrahim tidak langsung melaksanakan perintah itu tanpa melibatkan anaknya. Ia berkata: “Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (QS. As-Saffat: 102). Ini bukan hanya bentuk kasih sayang, tapi juga metode pendidikan luar biasa. Anak diajak berdialog, diberi ruang berpikir, sehingga ketaatan lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan.

Baca juga : Bos OJK Pastikan Nilai-nilai Pancasila Dalam Pengawasan Sektor Jasa Keuangan

Kedua, tanamkan nilai sebelum hasil. Ketaatan Nabi Ismail tidak muncul tiba-tiba. Ia telah dibesarkan dalam suasana iman, kedekatan dengan ayah, dan teladan nyata. Maka saat diuji, ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102). Pendidikan yang berbasiskan niklai pasti akan menghasilkan karakter yang Tangguh, bukan hanya kepatuhan semu.

Ketiga, iman dan doa adalah warisan terbaik. Nabi Ibrahim tidak mewariskan harta benda dan kekuasaan, warisan paling berharga adalah doa dan nilai keimanan. Dalam QS. Ibrahim: 40, Ia berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat.” Warisan ini akan mengantarkan manusia tidak hanya sampai gerbang kesuksesan dunia semata, tetapi juga hingga akherat yagn kekal.

Keempat, pendidikan anak harus berorientasi pada misi ilahiah, bukan ambisi pribadi.
Iduladha mengajarkan kita untuk bertanya ulang: "Untuk siapa anak ini hidup?" Apakah demi memenuhi ambisi orang tua, atau untuk menjalankan misi sebagai hamba Allah? Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa keberhasilan sejati bukan pada capaian dunia, tapi pada arah hidup yang lurus menuju Allah. Maka mari kita jadikan pendidikan anak sebagai ladang amal, bukan alat kebanggaan.

Dalam suasana Iduladha ini, mari kita evaluasi kembali orientasi pengasuhan kita. Oleh karena itu, kita perlu bertanya apakah kita mendidik anak dengan visi jangka panjang, atau hanya sekadar sukses di dunia yang fana dengan kebanggaan sesaat saja.

Anak-anak tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi mereka harus memiliki kompas yang tepat. Kompas itu adalah Allah SWT. Mendidik dengan misi membutuhkan kesabaran, keikhlasan, keteladanan dan doa yang disiapkan untuk meneruskan cahaya keimanan hingga akhir zaman. Oleh karena itu, iduladha adalah momentum memaknai pengorbanan dengan misi dan misi yang panjang dan kekal.

MUHAMAD ROSIT
MUHAMAD ROSIT
Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.