Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
TKA sebagai Pilar Evaluasi Pendidikan yang Objektif dan Kolaboratif
Rabu, 30 Juli 2025 11:54 WIB
Sistem Evaluasi Pembelajaran melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA) hadir sebagai inovasi penting dalam mendorong kualitas pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Dalam konteks pendidikan nasional, TKA bukan sekadar alat ukur, melainkan bagian dari upaya strategis untuk membangun kepercayaan terhadap sistem evaluasi capaian belajar yang selama ini terasa timpang antar-sekolah. Tidak adanya penilaian individu yang terstandar secara nasional menimbulkan perbedaan makna atas nilai rapor antar-sekolah. Nilai 90 di satu sekolah belum tentu setara dengan nilai yang sama di sekolah lain. Hal ini menyulitkan proses seleksi ke jenjang pendidikan lanjutan yang adil dan objektif.
Hadirnya TKA memberikan solusi konkret atas ketimpangan ini. Sebagai instrumen evaluasi yang dikembangkan secara nasional, hasil TKA memberikan gambaran yang lebih terstandar mengenai kemampuan akademik siswa. Ia menjadi instrumen pengendali mutu yang mendorong perbaikan berkelanjutan di tingkat satuan pendidikan.
Dalam empat tahun terakhir, sistem pendidikan kita telah memiliki dua pilar evaluasi: Asesmen Nasional yang memotret kinerja sistem secara makro, dan evaluasi harian guru yang menilai capaian belajar secara mikro. Kini, TKA hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti. TKA bukan reinkarnasi Ujian Nasional, melainkan opsi sukarela yang memperkuat sistem evaluasi yang ada.
Secara yuridis, kebijakan TKA memiliki dasar yang kuat sebagai bagian dari upaya reformasi pendidikan nasional. Secara historis dan filosofis, keberadaannya merefleksikan semangat untuk menjadikan pendidikan sebagai hak publik yang berkualitas dan adil. Sementara secara sosiologis, TKA menjawab tantangan untuk menyediakan sistem seleksi yang transparan, setara, dan berbasis prestasi. (Marzuki, 2024)
Aspek positif lain dari kebijakan TKA adalah pendekatan kolaboratifnya. Untuk jenjang SMA/SMK, seluruh soal disusun oleh kementerian, sementara pada jenjang SD dan SMP, pengembangan soal dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Ini bukan hanya tentang teknis penyusunan soal, melainkan juga peningkatan kapasitas daerah dalam menyelenggarakan evaluasi pendidikan yang bermutu. Pendekatan ini memperkuat rasa memiliki terhadap kebijakan di tingkat lokal, sekaligus memperkaya perspektif pusat dengan konteks daerah.
Sebagai layanan sukarela, TKA tidak menentukan kelulusan. Justru kehadirannya memberikan refleksi objektif bagi sekolah dan guru. Sekolah dengan integritas tinggi dalam pelaksanaan ujian internal biasanya menunjukkan korelasi yang baik antara hasil TKA dan nilai ujian sekolah. Sebaliknya, kesenjangan mencolok antara keduanya menjadi alarm untuk meninjau ulang proses evaluasi dan pembelajaran di sekolah tersebut.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Pendidikan Bermutu
Baca juga : DPR: Bikin Tata Kelola Terbaik
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh stakeholder pendidikan. Dalam konteks TKA, kolaborasi lintas sektor menjadi keharusan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan inklusif. Partisipasi aktif dari pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, hingga masyarakat menjadi fondasi keberhasilan program ini.
Pentingnya keterlibatan daerah dalam pengembangan instrumen TKA mencerminkan semangat desentralisasi pendidikan. Jika pemerintah daerah merasa menjadi bagian dari proses, maka implementasi kebijakan akan lebih kuat karena didukung oleh rasa memiliki dan kepemimpinan lokal. TKA tidak lagi dilihat sebagai program pusat yang memaksa, melainkan sebagai hasil karya bersama yang kontekstual dan adaptif.
Data menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen pemerintah daerah menyatakan kesiapan mereka untuk terlibat dalam penyusunan soal TKA di jenjang SD dan SMP. Ini adalah indikator positif bahwa pendekatan kolaboratif memiliki dampak nyata. Pemerintah pusat juga telah mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung pelatihan guru dan pengembangan soal berbasis konteks lokal, sebagai bentuk penguatan kapasitas daerah (Databook, 2025).
Di sisi lain, kolaborasi ini juga menjamin keberlanjutan program. Ketika satu kebijakan didukung oleh berbagai sektor, maka akan lebih tahan terhadap pergantian pejabat atau perubahan politik. Pendidikan yang bermutu tidak dapat dicapai dengan intervensi sepihak, tetapi harus melalui sinergi multipihak secara berkelanjutan.
Selain itu, TKA juga berpotensi memperkuat budaya akuntabilitas dalam sistem pendidikan. Dengan hasil TKA yang dapat dibandingkan antar-individu dan antar-sekolah, sekolah terdorong untuk menjaga integritas dalam pelaksanaan ujian internal. Proses ini membantu memetakan kualitas pendidikan tidak hanya antarwilayah, tetapi juga antarjenis satuan pendidikan.
Kebijakan Strategis dalam Menjamin Mutu Pendidikan untuk Semua
Baca juga : The Jayakarta Villas Anyer Resort Hadirkan Sajian Kuliner Istimewa
TKA merupakan bagian dari rangkaian kebijakan strategis yang dirancang oleh Kemendikbudristek untuk mempercepat terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua. Di antara program prioritas lainnya adalah Kurikulum Merdeka, Asesmen Nasional, dan Program Sekolah Penggerak. Ketiganya memiliki benang merah yang sama: meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.
Kurikulum Merdeka, misalnya, memberikan ruang bagi guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. TKA dapat menjadi instrumen pelengkap yang membantu guru memetakan kekuatan dan kelemahan siswa secara lebih objektif. Dengan demikian, proses pembelajaran bisa lebih tepat sasaran dan berorientasi pada pengembangan potensi individu (Hartono, 2023).
Di sisi lain, Asesmen Nasional tetap diperlukan untuk membaca kualitas sistem pendidikan secara menyeluruh. Namun, dalam konteks seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, TKA menyediakan informasi kuantitatif yang dapat digunakan sebagai referensi tambahan. Hasil TKA tidak berdiri sendiri, melainkan melengkapi data nilai rapor dan ujian sekolah.
Penting untuk menekankan bahwa integrasi TKA dalam proses seleksi harus bersifat proporsional. Ia bukan satu-satunya komponen penentu, melainkan bagian dari sistem seleksi berbasis prestasi yang lebih adil. Tujuan akhirnya adalah membangun sistem yang menghargai keberagaman satuan pendidikan namun tetap menjamin keadilan dalam akses pendidikan lanjutan.
Untuk mengantisipasi potensi kesenjangan, pemerintah telah menyiapkan skema dukungan, seperti program pelatihan gratis, modul pembelajaran mandiri, serta penyediaan akses internet dan perangkat belajar bagi siswa kurang mampu. Upaya ini penting agar TKA tidak menjadi alat diskriminatif, melainkan menjadi sarana inklusif yang memberikan kesempatan belajar yang setara.
Baca juga : Usut Digitalisasi Pendidikan, KPK Tak Bisa Jalan Sendiri
Komunikasi publik yang jernih juga menjadi elemen kunci. TKA bukan ancaman, melainkan peluang untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Oleh karena itu, semua pihak perlu terus menyosialisasikan bahwa TKA bersifat sukarela, tidak menentukan kelulusan, dan hadir untuk mendukung, bukan menggantikan peran guru dalam menilai siswa.
Penutup
Tes Kemampuan Akademik (TKA) membawa angin segar dalam iklim pendidikan Indonesia. Di tengah tantangan pemerataan mutu pendidikan, TKA hadir bukan sebagai pengganti peran guru, tetapi sebagai penguat dalam proses evaluasi yang lebih objektif, transparan, dan terstandar. Ia memberikan peluang yang setara bagi setiap anak bangsa, tanpa membedakan asal sekolah maupun latar belakang ekonomi.
Melalui pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, dan para pemangku kepentingan pendidikan lainnya, TKA menandai babak baru transformasi sistem pendidikan nasional. Kolaborasi ini memperkuat rasa memiliki terhadap kebijakan pendidikan, sekaligus menciptakan ruang pertumbuhan kapasitas daerah dalam menyusun evaluasi yang kontekstual.
Dengan hasil yang dapat dibandingkan antar-individu dan antar-sekolah, TKA menjadi cermin mutu pembelajaran dan pemicu perbaikan berkelanjutan. Bagi murid, TKA adalah bentuk penghargaan terhadap usaha belajar mereka. Bagi sekolah, TKA menjadi alat reflektif atas integritas sistem pengajaran dan evaluasi yang selama ini dibangun.
fikri ahmad faadhilah
Mahasiswa Ekonomi Islam UIN SAIZU Purwokerto
Mahasiswa Ekonomi Islam UIN SAIZU Purwokerto
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya