Dark/Light Mode

LKS Gamifikasi Membuat Kelas di SMA Plus Muthahhari Makin Hidup

Selasa, 2 Desember 2025 23:36 WIB
Pembelajaran menggunakan LKS kreatif berbasis gamifikasi di SMA Plus Muthahhari Bandung. (Foto: Istimewa)
Pembelajaran menggunakan LKS kreatif berbasis gamifikasi di SMA Plus Muthahhari Bandung. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kelas-kelas di SMA Plus Muthahhari Bandung mendadak terasa berbeda. Jika biasanya pelajaran diisi ceramah guru dan tugas tertulis, kini siswa disuguhi cara belajar baru yang lebih berwarna: Lembar Kerja Siswa (LKS) kreatif berbasis gamifikasi, storytelling, emotional design, dan teknologi Augmented Reality (AR).

Inovasi ini lahir dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang digagas dosen Universitas Presiden. Program yang dilaksanakan pada 19–20 September 2025 itu melibatkan 16 guru dan menghasilkan enam LKS digital interaktif, melampaui target awal lima LKS.

Ketua tim PKM, Remandhia Mulcki, yang juga Kepala Program Studi Desain Komunikasi Visual President University, mengatakan langkah ini menjawab tantangan pendidikan di era Generasi Z yang dikenal sebagai digital native.

“Gen Z mudah bosan kalau hanya mendengar ceramah. Mereka terbiasa dengan media visual, interaktif, dan serba cepat. Karena itu, kami hadirkan media belajar yang sesuai karakter mereka. Ada game, cerita, bahkan animasi 3D yang bisa dipindai lewat QR Code,” ujarnya.

Workshop Guru, dari Ceramah ke Media Interaktif

Workshop dua hari itu menghadirkan suasana baru bagi guru-guru SMA Plus Muthahhari. Tidak hanya mendengarkan teori, para guru langsung praktik membuat LKS kreatif menggunakan aplikasi Assemblr untuk menyematkan konten AR. Workshop bertajuk “Peningkatan Kualitas Pengalaman Belajar (Learning Experience) Siswa Generasi Z di SMA (Plus) Muthahhari Bandung melalui Perancangan Media Pembelajaran Berbasis Gamifikasi, Emotional Design, dan Storytelling” ini diikuti 10 guru yang aktif merancang prototipe LKS.

Mata pelajaran yang berhasil dilengkapi media kreatif antara lain Biologi, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Sejarah Indonesia, Sosiologi, Bahasa Indonesia, dan Ekonomi.

Baca juga : Komisi III DPR Mulai Garap RUU Penyesuaian Pidana

“Awalnya agak canggung, tapi lama-lama asyik. Kami belajar mendesain halaman, menambahkan cerita, sampai memasang QR Code untuk animasi 3D. Rasanya seperti naik level,” ujar salah satu guru peserta workshop.

Guru-guru senior yang semula kesulitan pun akhirnya mampu beradaptasi berkat dukungan guru muda. Situasi ini menciptakan peer support yang memperkuat kolaborasi di sekolah.

Uji Coba di Kelas, Siswa Lebih Fokus dan Antusias

Tiga kelas—X-1, X-2, dan X-3—mendapat kesempatan mencoba langsung LKS digital tersebut. Hasilnya menggembirakan. Data observasi dan kuesioner menunjukkan tingkat kepuasan siswa berada di angka 4,3–4,6 dari skala 5. Hampir semua siswa merasa lebih fokus, lebih bersemangat, dan menilai pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta bermakna.

“Biasanya cepat bosan, tapi kali ini seru banget. Ada QR Code, muncul gambar sel 3D, terus ada tantangan soal yang bikin penasaran. Semoga bisa dipakai di pelajaran lain juga,” kata salah satu siswa kelas X-2.

Ada pula reward sederhana berupa cokelat bagi siswa yang meraih nilai sempurna—menambah motivasi belajar di kelas.

Kepala SMA Plus Muthahhari Bandung, Dewi Listia, menegaskan manfaat inovasi ini. Kata dia, LKS ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Baca juga : Adaptasi Mulus, Julio Cesar Makin Betah Di Bandung

"Isi LKS sangat lengkap. Ada capaian pembelajaran, visualisasi menarik, dan quiz berjenjang dari level 1 hingga level 5. Lewat gamifikasi dan storytelling, anak-anak jadi lebih fokus, lebih kritis, dan mampu memecahkan masalah dengan cara yang menyenangkan,” tuturnya.

Namun, ia mengingatkan adanya persoalan yang masih dihadapi sekolah. “Sekolah kami heterogen, baik kemampuan maupun gaya belajar siswanya. Jumlah kelas tidak besar, tapi guru harus bisa menciptakan lingkungan belajar yang memfasilitasi semua. Dukungan yang paling kami butuhkan adalah perangkat pembelajaran yang sesuai zaman, serta pelatihan guru membuat media interaktif.”

Beberapa guru ikut memberi testimoninya:

  • Aya Sofia Martini, Guru Sejarah Indonesia: “Siswa antusias, jadi lebih fun, dan akhirnya lebih serius di kelas.”
  • Mulyadi, Guru PPKN: “Pembelajaran berjalan lancar sesuai rencana. Murid bahagia, tidak terbebani LKS.”
  • Reza Restu Rohmawati, Guru Biologi: “Saya jadi paham membuat media sesuai perilaku Gen Z. Setelah kelas selesai, suasananya lebih berkesan dan meninggalkan memori baik bagi siswa.”

Jawab Masalah Strategis Sekolah

Program PKM ini tak hanya menambah variasi metode belajar, tapi juga menjawab persoalan strategis sekolah: lemahnya promosi digital. Dokumentasi pembelajaran kreatif melalui foto, video, dan testimoni siswa diproyeksikan menjadi konten media sosial sekolah.

“Sekolah jadi punya bahan promosi yang otentik. Bukan sekadar iklan, tapi menunjukkan kelas yang hidup dan sesuai kebutuhan zaman,” ujar Hadi Jaya Putra, anggota tim PKM.

Tim Universitas Presiden menargetkan keberlanjutan program ini hingga akhir 2025 melalui langkah strategis:

  • Panduan Media Pembelajaran: Dokumen praktis tentang pembuatan LKS kreatif.
  • Konten Promosi Digital: Lima konten kreatif untuk akun resmi sekolah.
  • Publikasi Ilmiah dan Media Massa: Artikel akan dimuat di jurnal nasional terakreditasi dan media daring.
  • Pendaftaran Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI): Lima LKS terbaik diajukan sebagai karya berhak cipta.

Baca juga : Belanda Vs Malta, Oranje Mau Dominan

“Target kita bukan hanya menghasilkan produk, tapi membangun kapasitas guru. Harapannya, LKS inovatif ini bisa masuk kurikulum rutin sekolah dan jadi daya tarik utama bagi masyarakat,” tegas Remandhia Mulcki.

Remandhia juga menyampaikan terima kasih. “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan Hibah Skema Pengabdian Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun 2025. Tanpa dukungan ini, program tidak akan berjalan sebaik ini.”

Meski masih ada tantangan seperti keterbatasan perangkat laptop guru dan variasi kualitas desain, program ini terbukti memberi dampak positif. Siswa lebih antusias, guru naik level kompetensi, dan sekolah makin kuat secara promosi digital.

Dengan semangat kolaborasi antara dosen, guru, siswa, dan kepala sekolah, SMA Plus Muthahhari Bandung kini punya modal baru untuk tetap kompetitif: pembelajaran kreatif yang interaktif, menyenangkan, dan relevan bagi Generasi Z. “Belajar itu seharusnya menyenangkan. Kalau siswa senang, guru juga ikut bahagia. Itulah inti inovasi ini,” tutup Fransiska Rachel, anggota tim PKM Universitas Presiden.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.