Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kesejahteraan Guru: Jangkar Kokoh Pendidikan Berkualitas
Selasa, 27 Januari 2026 10:13 WIB
Sebelumnya
Dari Guru ke Siswa ke Bangsa
Berbicara kesejahteraan guru yang akhir-akhir ini ramai didiskusikan, kerap kali sering melupakan hal penting yaitu dampak multiplier-nya. Ketika guru sejahtera, mereka tidak hanya lebih fokus mengajar, mereka juga menjadi role model yang lebih baik bagi siswa.
Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang guru ajarkan, tetapi juga dari apa yang guru representasikan. Guru yang hidup layak, yang dihormati secara ekonomi maupun sosial, mengirimkan pesan kuat kepada siswa bahwa pendidikan adalah investasi yang berharga.
Baca juga : Dies Natalis ke-26, Swiss German University Hadirkan Pendidikan Kualitas Global
Tiar Krisnawan mengatakan bahwa tunjangan membuatnya "merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk berkembang." Ini adalah statement yang profound. Motivasi intrinsik guru memang penting, tetapi motivasi ekstrinsik berupa pengakuan material juga sama pentingnya.
Ketika kedua motivasi ini bersinergi, hasilnya adalah guru yang tidak hanya survive, tetapi thrive. Oleh karena itu, kita sering mendengar bahwa "SDM adalah kunci daya saing bangsa di abad 21."
Pernyataan ini sejatinya bukan retorika kosong. Dalam ekonomi berbasis pengetahuan, kualitas sumber daya manusia pada dasarnya menentukan nasib bangsa. Dan kualitas SDM ditentukan oleh kualitas pendidikan. Dan kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas guru.
Baca juga : Kedubes AS Gelar Lokakarya Perkuat Kemitraan Pendidikan RI–Amerika Serikat
Di titik ini, rantai kausalitas tersebut sangat sederhana namun sering diabaikan dalam debat kebijakan. Kita sering terjebak dalam dikotomi palsu, bahwa kesejahteraan guru versus infrastruktur sekolah, tunjangan versus teknologi pendidikan.
Padahal ini bukan pilihan either-or, tetapi both-and. Namun jika dipaksa memilih prioritas, investasi dalam guru adalah fondasi yang harus kokoh terlebih dahulu. Dan Kebijakan Kemendikdasmen yang kita diskusikan hari ini adalah langkah ke arah yang benar.
Tentu masih ada pekerjaan rumah besar seperti meningkatkan nominal tunjangan secara konsisten, mempercepat sertifikasi guru, memperbaiki sistem distribusi agar lebih tepat sasaran. Tetapi mari kita apresiasi progress yang telah dicapai, sambil terus menuntut improvement yang berkelanjutan.
Baca juga : Persita Vs Bhayangkara FC, Pendekar Turun dengan Kekuatan Penuh
Karena harus ditegaskan bahwa kesejahteraan guru bukan charity, ini adalah investasi strategis dalam masa depan bangsa. Dan seperti semua investasi yang baik, returnnya tidak instan tetapi butuh peracikan yang penjang.
Guru yang sejahtera hari ini akan menghasilkan siswa yang berkualitas besok, yang pada gilirannya akan membangun Indonesia yang lebih majudi masa yang akan datang. Ini adalah legacy yang kita bangun, satu tunjangan, satu guru, satu siswa pada satu waktu.
Penulis adalah Pemerhati Kebijakan Pendidikan dan Alumnus Doktor jurusan Education Leadership and Management Southwest University China, Nabila Ghassani.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya