Dark/Light Mode

Kesejahteraan Guru: Jangkar Kokoh Pendidikan Berkualitas

Selasa, 27 Januari 2026 10:13 WIB
Pemerhati Kebijakan Pendidikan dan Alumnus Doktor jurusan Education Leadership and Management Southwest University China, Nabila Ghassani. Foto: Dok Pribadi
Pemerhati Kebijakan Pendidikan dan Alumnus Doktor jurusan Education Leadership and Management Southwest University China, Nabila Ghassani. Foto: Dok Pribadi

 Sebelumnya 
Mengapa Kesejahteraan Guru Penting?

Dalam teori ekonomi pendidikan, ada konsep yang disebut "teacher quality premium", bahwa kualitas guru adalah faktor tunggal paling penting dalam menentukan hasil belajar siswa. Bahkan lebih penting dari ukuran kelas, fasilitas sekolah, atau kurikulum itu sendiri.

Hal ini dibuktikan dengan hasil studi Eric Hanushek dari Stanford University, menunjukkan bahwa perbedaan kualitas guru dapat menciptakan gap pembelajaran hingga satu tahun penuh bagi siswa.

Lalu kita bertanya, bagaimana menarik dan mempertahankan guru berkualitas? Jawabannya sederhana namun sering diabaikan, tidak lain dan tidak bukan adalah kompensasi yang kompetitif.

Baca juga : Dies Natalis ke-26, Swiss German University Hadirkan Pendidikan Kualitas Global

Hal ini persis seperti yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, "Guru yang sejahtera adalah guru yang dapat memberikan dirinya sepenuhnya untuk pendidikan, tanpa dibebani oleh kekhawatiran ekonomi yang menggerogoti konsentrasi dan dedikasinya."

Oleh karena itu, regulasi dan kebijakan Kemendikdasmen yang baru saja ini sejalan dengan filosofi tersebut. Ketika Ismi Ifarianti mengatakan bahwa tunjangan memberinya "ketenangan" dan membuatnya "lebih fokus mengajar", ini bukan sekadar testimoni individual. Ini adalah konfirmasi empiris dari teori bahwa kesejahteraan ekonomi guru berkorelasi positif dengan kualitas pengajaran.

Andreas Schleicher, Director of Education and Skills OECD, pernah menyatakan, "The quality of an education system cannot exceed the quality of its teachers." Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik seperti Finlandia, Singapura, dan Korea Selatan memiliki satu kesamaan, yakni memperlakukan guru sebagai profesional elite dengan kompensasi yang kompetitif.

Kebijakan Indonesia saat ini, meskipun masih dalam perjalanan, menunjukkan arah yang benar. Semoga. Meskipun begitu, atas kebikan tersebut tentu ada yang akan berargumen, "Rp 400 ribu per bulan untuk guru non-ASN masih jauh dari cukup, terutama di kota-kota besar dengan biaya hidup tinggi."

Baca juga : Kedubes AS Gelar Lokakarya Perkuat Kemitraan Pendidikan RI–Amerika Serikat

Animo atau tanggapan ini pada dasarnya adalah kenyataan dan tidak boleh diabaikan. Namun ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan menjadi elemen evaluasi. Bahawa kebijakan publik adalah proses bertahap, bukan revolusi instan.

Kenaikan dari Rp 300 ribu ke Rp 400 ribu adalah peningkatan 33 persen, dalam konteks APBN yang harus mengalokasikan sumber daya untuk berbagai sektor, ini adalah komitmen yang signifikan. Yang penting adalah trajectory-nya, apakah ada tren kenaikan konsisten? Maka data  yang akan menunjukkan.

Dan Dirjen GTKPG Nunuk Suryani telah menegaskan komitmen untuk "meningkatkan kesejahteraan guru secara berkelanjutan." Selain itu, program ini tidak berdiri sendiri. Kemendikdasmen juga meluncurkan Program Peningkatan Kualifikasi Akademik S-1/D-4 Guru. Sebuah kebijakan yang berupa investasi dalam human capital yang akan meningkatkan daya saing dan earning potential guru dalam jangka panjang.

Dalam pendekatan holistic, kesejahteraan jangka pendek melalui tunjangan, dan peningkatan kapasitas jangka panjang melalui pendidikan. Dan akhirnya, jika dibandingkan dengan era sebelumnya. Sepuluh tahun lalu misalnya, banyak guru honorer yang hanya menerima Rp 200-300 ribu per bulan tanpa jaminan sosial apapun.

Baca juga : Persita Vs Bhayangkara FC, Pendekar Turun dengan Kekuatan Penuh

Hari ini, dengan berbagai program tunjangan yang terintegrasi, situasinya jauh lebih baik. Ini bukan alasan untuk berpuas diri, tetapi kita harus mengakui bahwa progress sedang terjadi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.