Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Universitas Mercu Buana Kukuhkan 2 Guru Besar Perempuan di Hari Kartini
Sabtu, 25 April 2026 05:45 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dua Guru Besar perempuan Universitas Mercu Buana (UMB) resmi dikukuhkan bertepatan dengan peringatan Hari Raden Ajeng Kartini (Kartini) pada Selasa (21/4/2026).
Momentum ini tidak hanya menandai capaian akademik tertinggi, tetapi juga menghadirkan kembali semangat emansipasi Kartini dalam wajah pendidikan tinggi masa kini.
Prosesi pengukuhan berlangsung di Auditorium Lantai 7 Gedung Tower, Kampus Universitas Mercu Buana, Meruya, Jakarta Barat, dan dihadiri antara lain oleh Tri Munanto selaku Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah III, Ketua Yayasan Menara Bhakti, dan tamu undangan lainnya.
Pengukuhan tersebut dinilai menjadi simbol konkret bahwa perjuangan Kartini telah melampaui isu akses pendidikan, menuju peran strategis perempuan sebagai pemimpin pemikiran dan penentu arah perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam prosesi yang berlangsung khidmat, kedua Guru Besar yaitu Prof. Nurhayani Saragih (Bidang Media dan Komunikasi) dan Prof. Augustina Kurniasih (Manajemen Keuangan), dinilai memiliki peran sentral dalam membentuk arah masyarakat kontemporer.
Baca juga : HUT ke-5 WiLAT Indonesia, Tegaskan Peran Perempuan di Tengah Krisis Global
Rektor Universitas Mercu Buana Prof. Andi Adriansyah menegaskan, bahwa jabatan Guru Besar bukan sekadar capaian akademik tertinggi, melainkan amanah intelektual dan moral.
“Guru Besar adalah penjaga api keilmuan sekaligus penjaga arah peradaban. Mereka tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, etika, dan kebijaksanaan bagi generasi mendatang,” ujar Andi dalam keterangannya, Jumat (24/4/20026).
Lebih lanjut, Andi menjelaskan, kehadiran dua perempuan sebagai Guru Besar di bidang-bidang tersebut menunjukkan pergeseran peran perempuan dari sekadar partisipan menjadi pemimpin pemikiran (trought leader).
Hal ini sejalan dengan gagasan Kartini yang menempatkan perempuan sebagai agen perubahan, pendidik, sekaligus penjaga nilai dalam masyarakat.
“Peran Guru Besar dinilai tidak hanya sebagai penghasil pengetahuan (knowledge producer), tetapi juga sebagai penyebar nilai (value distributor). Di tengah percepatan perubahan dan disrupsi teknologi, sosok Guru Besar diharapkan mampu menjembatani antara pengetahuan dan kebijaksanaan, serta membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan moral,” tegas Profesor peneliti Robot Humanoid tersebut.
Baca juga : Seruan Tobat Ekologis Menggema dari Gunung Padang di Hari Bumi
Andi menambahkan, pengukuhan yang bertepatan dengan Hari Kartini dinilai bukan sekadar kebetulan, melainkan refleksi konkret dari gagasan emansipatif yang diperjuangkan Kartini.
Semangat kesetaraan, akses pendidikan, dan kebebasan berpikir yang ia wariskan dinilai terus hidup dan menemukan relevansinya dalam dunia akademik modern.
Dalam bidang media dan komunikasi, salah satu sorotan utama adalah pergeseran mendasar dari media massa ke platform digital yang mengubah ekologi komunikasi.
Jika sebelumnya sistem komunikasi bersifat terpusat dan dikendalikan oleh institusi media, kini berkembang menjadi jaringan partisipatif yang melibatkan publik secara aktif.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Nurhayani Saragih menegaskan, bahwa transformasi ini mengubah posisi publik dari sekadar penerima informasi menjadi produsen makna.
Baca juga : Universitas Esa Unggul Wisuda 1.343 Lulusan, Siap Bersaing di Kancah Global
Arus komunikasi tidak lagi linear, melainkan berlangsung dalam jaringan yang dinamis, informasi diproduksi, didistribusikan, dan dinegosiasikan secara kolektif.
Menurut Nurhayani, perubahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Arus informasi yang masif, termasuk disinformasi dan fenomena hiperrealitas, menuntut peran akademisi dalam menjaga kualitas wacana publik.
"Literasi media dan etika komunikasi menjadi krusial agar komunikasi tidak hanya efektif, tetapi juga berkeadaban,” kata Nurhayani.
Sementara itu, dalam bidang manajemen keuangan, menurut Prof. Augustina Kurniasih mengatakan, pendekatan yang berkembang tidak lagi terbatas pada efisiensi dan perhitungan angka semata.
“Keberlanjutan, serta orientasi pada nilai kemanusiaan menjadi bagian penting dalam pengelolaan sistem ekonomi modern,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya