Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 7 Poin Penjelasan BMKG Soal Gempa Kepulauan Seribu, Tak Berpotensi Tsunami
- Gempa M5,9 Guncang Kepulauan Seribu Jakarta, Getaran Terasa Hingga Mentawai
- Sunderland Vs Arsenal, The Gunners Siap Buru Kemenangan Keempat
- US Open 2026, Sabalenka Dihadang Rybakina
- Muenchen, MU dan Como Pesta Gol di Liga Champions 2026/27
Program Magister Biologi UNAS Gelar Talkshow Nasional tentang Orangutan
Jumat, 28 Agustus 2026 19:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia 2026, Pusat Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar dan Program Magister Biologi Universitas Nasional (UNAS) menyelenggarakan talkshow nasional untuk membahas strategi inovatif dalam mengatasi fragmentasi habitat satwa liar yang mengancam kelangsungan hidup metapopulasi satwa arboreal, seperti orangutan di Sumatera dan Kalimantan. Acara digelar di Auditorium Universitas Nasional, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Acara yang digelar luring dan daring ini menghadirkan berbagai pembicara lintas sektor mulai dari Pemerintah, LSM, akademisi, dan publik. Di antaranya, dari Kementrian Kehutanan yang diwakili Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Budi Mulyanto, Biodiversity, Wildlife & Forest Conservation Coordinator - Forest & Wildlife Program WWF Indonesia Fenky Wirada, Kepala Konservasi Insitu Yayasan Ekosistem Lestari (YEL-SOCP) Julius P. Siregar.
Lalu, Manajer GIS Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL/OIC) Ferry Aulia Hawari, West Toba Landscape Manager Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa (TAHUKAH) Lina Rita Silaban, Biodiversity Conservation Coordinator Yayasan Konservasi Indonesia (KI/CI) Diah Fitri Ekarini, Direktur Javan Wildlife Institute (JAWI) Dennis Albihad, Head of Research and Animal Welfare Division Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOSF) Nadine Adrianna Sugianto.
Budi Mulyanto mengatakan, Orangutan merupakan hewan endemik bangsa Indonesia yang dilindungi, namun polupasinya terus mengalami penurunan. Isu yang dibahas adalah fragmentasi habitat yang mengancam kelangsungan hidup metapopulasi satwa arboreal, seperti orangutan di Sumatera, Kalimantan bahkan kelangsungan hidup orangutan dan satwa liar di Indonesia.
"Dengan Talkshow ini diharapkan akan melahirkan rekomendasi kebijakan untuk mengintegrasikan koridor orangutan ke dalam perencanaan pembangunan nasional, serta memperkuat kolaborasi multipihak" jelasnya, seperti keterangan yang diterima redaksi, Jumat (28/8/2026).
Studi terbaru pada tahun 2026 menyatakan, populasi orangutan Sumatera (Pongo abelii) hanya tersisa 11.694 individu, menurun 15,5 persen dibandingkan survei yang dilakukan pada rentang 2011–2013. Orangutan tersebut tersebar dalam 8 metapopulasi di Aceh dan Sumatera Utara. Lebih jauh lagi, populasi orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) bahkan lebih kritis, hanya 716 individu yang terbagi menjadi 3 metapopulasi di Batang Toru, dengan penurunan 6,7 persen dalam 12 tahun terakhir.
Di Kalimantan, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) masih tersebar luas, namun hanya 20 persen habitatnya berada di kawasan konservasi formal. Sisanya terfragmentasi oleh perkebunan sawit, tambang batubara, dan hutan produksi. Lanskap di Kalimantan Tengah menjadi contoh nyata, ketika orangutan sering terlihat di area konsesi industri akibat terdesaknya habitat inti.
Baca juga : Mitigasi Risiko Kemarau, Kemenhut Selamatkan & Translokasikan Orangutan Kalbar
Koridor ekologis dan jembatan kanopi buatan terbukti efektif digunakan oleh orangutan dan satwa arboreal lain. Namun, belum tersedianya standar desain, material, dan kebijakan pendukung yang menjamin manfaat jangka panjang.
Bukti Ilmiah: Efektivitas Jembatan Kanopi Buatan
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam Folia Primatologica (2022), penggunaan jembatan kanopi buatan (artificial arboreal bridge) telah terbukti secara ilmiah sebagai solusi efektif untuk menghubungkan kembali habitat yang terpisah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jembatan buatan digunakan oleh orangutan Tapanuli, Owa, Siamang, Lutung Sumatera, dan satwa arboreal lainnya. Temuan ini juga telah dikonfirmasi pada beberapa studi yang dilakukan di Sumatera Utara, Aceh, Kalimantan, dan pulau Bintan.
Tantangan: Apakah jembatan kanopi buatan adalah solusi inovatif menghubungkan habitat terfragmen?
Saat ini terdapat paling tidak lima tipe jembatan kanopi buatan untuk satwa arboreal, memliki tingkat efektifitas sedang hingga tinggi, namun belum terdapat studi mengenai kelayakan dan keselamatan dari desain yang digunakan. Belum tersedianya standar desain jembatan kanopi, material yang digunakan, perencanaan lokasi, dukungan publik dan dukungan kebijakan, manfaat ekonomi masyarakat, merupakan bahan diskusi yang harus segera dicarikan jalan terbaiknya.
Menurut direktur Pusat Studi Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar Didik Prasetyo, penyelamatan satwa tidak cukup hanya melalui perlindungan kawasan inti, tetapi harus mencakup pemulihan konektivitas antar habitat melalui koridor ekologis yang didukung oleh pembangunan jembatan kanopi pada area yang tidak memungkinkan lagi untuk dihubungkan secara alami.
Selain itu, menurut Julius Paolo Siregar Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Konservasi Lanskap terfragmentasi merupakan salah satu tantangan utama bagi konservasi satwa kunci seperti orangutan (Sumatera dan Tapanuli) di Sumatera Utara, karena dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya luas habitat, tetapi juga terputusnya konektivitas untuk pergerakan populasi pada habitat yang penting menjadi petak-petak habitat (terisolir), konflik satwa dalam penggunaan ruang dengan masyarakat serta terputusnya aliran genetik sehingga mengancam keberlangsungan populasi orangutan dalam jangka panjang.
Berdasarkan pengalaman dan pembelajaran YEL di lapangan, termasuk dalam upaya konservasi di Lanskap Batang Toru, perlindungan habitat yang tersisa, pencegahan fragmentasi baru, dan penguatan pengelolaan serta pemulihan konektivitas alami harus tetap menjadi fondasi utama konservasi. Jembatan kanopi buatan dapat menjadi salah satu solusi inovatif pada lokasi tertentu ketika keterhubungan alami sudah tidak memungkinkan, namun tidak dapat menggantikan fungsi ekosistem hutan yang utuh dan saling terhubung.
Baca juga : Lindungi Habitat Orangutan, Menhut Pantau Penanganan Karhutla di Berau
Karena itu, YEL mendorong pendekatan konservasi berbasis lanskap yang mengintegrasikan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, restorasi habitat, penguatan konektivitas ekologis, pemantauan berbasis data, serta mendorong kebijakan dan regulasi tata kelola ruang yang mempertimbangkan kebutuhan ruang bagi satwa liar kunci secara jangka panjang Lebih jauh lagi.
Fenky Wirada dari WWF Indonesia menambahkan, kondisi metapopulasi orangutan pada lanskap terfragmentasi, atau habitat yang kini terpisah dari yang dahulunya merupakan satu kesatuan, memerlukan keberadaan koridor ekologis sebagai bagian dari strategi konservasi untuk memastikan dispersal dan keberlangsungan populasi satwa liar. Untuk memastikan keberadaannya dalam jangka panjang, koridor ekologis tersebut juga mesti diakomodasi melalui ragam kebijakan pada berbagai tingkatan dan dipatuhi oleh semua pemangku kepentingan. Fragmentasi lanskap merupakan tantangan utama dalam menjaga keberlangsungan habitat orangutan.
Menurut YOSL-OIC, jembatan kanopi buatan dapat menjadi solusi strategis untuk memulihkan konektivitas antar kantong habitat yang terpisah, namun keberhasilannya bergantung pada keselamatan dan manfaat jangka panjang bagi satwa. Karena itu, desain dan lokasi harus ditentukan secara tepat, disertai dengan monitoring penggunaan, perlindungan dari gangguan maupun perburuan, serta pemeliharaan berkelanjutan.
Jembatan kanopi memang menjanjikan sebagai inovasi, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka strategi pemulihan konektivitas lanskap secara menyeluruh, bukan dipandang sebagai solusi tunggal terhadap fragmentasi habitat,” ujarnya.
Secara lebih detail, TAHUKAH menguatkan bahwa efektivitas jembatan kanopi buatan bagi satwa arboreal, secara konsisten dimanfaatkan oleh orangutan Sumatera dan satwa arboreal lain untuk melintasi area habitat yang terfragmentasi oleh jalan yang menghubungkan Ibukota Kabupaten ke Desa; dan menjadi orangutan Sumatera pertama yang menggunakan canopy bridge di atas jalan umum. Seperti yang disampaikan oleh direktur Pusat Studi Pengelolaan Hutan dan Hidupan Liar bahwa pemulihan konektivitas antar habitat menjadi kunci penyelamatan satwa di area yang tidak lagi memungkinkan dihubungkan secara alami.
Berdasarkan pengalaman TAHUKAH mendampingi pemasangan dan pemantauan jembatan kanopi, tingkat pemanfaatan oleh satwa sangat dipengaruhi oleh ketepatan pemilihan lokasi (kontur, temuan sarang, ketersediaan pohon pakan, pohon pengikat), kualitas material, dan keberlanjutan pemeliharaan, sehingga TAHUKAH mendorong agar hasil-hasil pemantauan lapangan ini turut menjadi rujukan dalam penyusunan standar desain dan kebijakan pendukung jembatan kanopi yang akan didiskusikan dalam talkshow ini.
Biodiversity Conservation Coordinator Konservasi Indonesia Diah Fitri Ekarini mengatakan, pengembangan jembatan kanopi perlu mempertimbangkan berbagai aspek secara terpadu, mulai dari kebutuhan ekologis spesies sasaran, kondisi lanskap, aspek teknis dan keselamatan, kepatuhan terhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku, hingga efektivitas jangka panjangnya. Pendekatan yang terstruktur tersebut dapat menjadi fondasi bagi pengembangan praktik terbaik (best practices) dan acuan implementasi yang lebih konsisten, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik spesifik setiap lokasi dan konteks konservasi yang berbeda.
Baca juga : Kunjungi Berau, Menhut Pastikan Habitat Orangutan Aman dari Karhutla
Melalui pendekatan yang berbasis bukti, kolaboratif, dan adaptif, pilot ini diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran mengenai kapan, di mana, dan dalam kondisi seperti apa intervensi konektivitas semacam ini dapat memberikan manfaat bagi satwa.
"Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat memperkaya praktik konservasi di Indonesia, sekaligus berkontribusi pada pengembangan kerangka acuan dan praktik terbaik bagi pembangunan artificial arboreal bridge di masa mendatang, sehingga setiap intervensi dapat dirancang secara lebih efektif, aman, dan relevan dengan kebutuhan konservasi di lapangan,” ujarnya.
Direktur JAWI menambahkan, fragmentasi habitat tidak hanya berarti hilangnya hutan, tetapi juga terputusnya konektivitas yang memungkinkan satwa liar bergerak, mencari makan, dan mempertahankan populasi dalam jangka panjang. Melalui pengalaman pengembangan dan pemantauan jembatan kanopi untuk bintan langur, kami melihat bahwa infrastruktur sederhana dapat menjadi salah satu solusi untuk menghubungkan kembali habitat yang telah terpisah, khususnya bagi satwa liar arboreal.
Namun, jembatan kanopi tidak seharusnya dipandang sebagai solusi tunggal atau pengganti perlindungan habitat alami. Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa setiap jembatan dibangun berdasarkan kebutuhan ekologis, keamanan satwa, karakter landskap, serta didukung pemantauan jangka panjang dan keterlibatan para pihak.
Karena itu, diskusi tentang canopy bridge seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “apakah satwa mau menggunakannya?”, tetapi berkembang menjadi bagaimana merancang, menempatkan, mengelola, dan menjadikan konektivitas satwa sebagai bagian dari perencanaan pembangunan. Pengalaman di Bintan menunjukkan bahwa ketika fragmentasi tidak lagi dapat dihindari, kita tetap memiliki ruang untuk memulihkan konektivitas dan inovasi seperti jembatan kanopi dapat menjadi salah satu bagian dari solusi tersebut.
Menurut Head of Research and Animal Welfare Division dari BOSF Dr. Nadine Adrianna Sugianto, pihaknya memiliki enrichment serupa dengan jembatan kanopi berupa arboreal pathways di dalam area enclosure dan “Forest School” yang dipakai oleh orangutan untuk berpindah antar area setiap harinya. Design yang digunakan di BOSF disesuaikan dengan behavioural ecology orangutan dan struktur kanopi hutan, sehingga mampu memfasilitasi perilaku pergerakan arboreal yang alami. "Dari pembelajaran kami, inter-connectivity, penggunaan multiple supports, dan pemilihan material merupakan aspek penting dalam desain," ucapnya.
Pelaksana kegiatan Talkshow Nasional UNAS Dr. Fitriah Basalamah berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman publik mengenai hubungan antara fragmentasi habitat dan risiko penurunan metapopulasi orangutan. Lahirnya rekomendasi kebijakan untuk mengintegrasikan koridor orangutan ke dalam perencanaan pembangunan nasional. Terbangunnya kolaborasi antara Pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan lembaga konservasi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya