Dark/Light Mode

Belajar dari WorldSkills Shanghai, Ketika Skill Menjadi Bahasa Dunia

Sabtu, 26 September 2026 14:54 WIB
Didik Suhardi, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Kemendikdasmen di WorldSkills Competition (WSC) 2026 di Shanghai, China.
Didik Suhardi, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Manajemen dan Kelembagaan, Kemendikdasmen di WorldSkills Competition (WSC) 2026 di Shanghai, China.

 Sebelumnya 
Keterampilan Harus Dilihat, Dicoba, dan Dialami

Ada pelajaran lain yang menarik dari Shanghai: keterampilan tidak cukup hanya diceritakan. Keterampilan perlu diperlihatkan, dicoba, dan dialami.

Puluhan ribu pelajar datang ke National Exhibition and Convention Center (NECC), menyaksikan langsung para kompetitor bekerja dengan presisi dan kesungguhan.

Setelah melihat kompetisi, mereka dapat mencoba sendiri berbagai keterampilan melalui WorldSkills Expo yang menghadirkan lebih dari 400 stan dan aktivitas interaktif. Terdapat 64 areaTry-a-Skill, satu untuk setiap bidang kompetisi.

Baca juga : Mansur: Belum Ada Kebijakan Khusus Bagi Guru Swasta

Pengunjung muda dapat mencoba berbagai pengalaman, mulai dari keterampilan tradisional hingga teknologi masa depan. Ada eksperimen instalasi listrik, teknologi mekatronika danIndustry 4.0, hingga penggunaan kecerdasan artifisial dalam bidang kecantikan.

Pengalaman ini memberikan pesan yang sederhana tetapi penting:minat terhadap keterampilan sering kali tumbuh setelah seseorang melihat dan mencobanya sendiri.

Apa yang terlihat mudah di tangan seorang ahli sesungguhnya merupakan hasil latihan bertahun-tahun. Ketika seorang anak melihat proses itu dari dekat, lalu diberi kesempatan mencoba, keterampilan tidak lagi tampak sebagai sesuatu yang abstrak. Ia dapat berubah menjadi gambaran tentang masa depan:“Saya mungkin bisa melakukan ini.”

Bagi pendidikan vokasi Indonesia, pendekatan semacam ini patut menjadi refleksi. Mengenalkan profesi kepada murid tidak cukup hanya melalui penjelasan di kelas.

Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Nasib Guru Swasta Kerap Dipinggirkan

Murid perlu bertemu dengan pekerjaan nyata, melihat standar profesional, mencoba teknologi, berinteraksi dengan praktisi, dan mengalami sendiri proses menciptakan sesuatu.

Dengan demikian, sekolah bukan hanya tempat belajar keterampilan, tetapi juga tempat anak mudamenemukan masa depannya.

Kembali kepada Manusia

Di tengah gegap gempita teknologi, salah satu pelajaran terkuat datang dari kompetisi yang berhubungan langsung dengan manusia. Pada bidangHealth and Social Care, peserta menghadapi simulasi pasien dan lansia.

Baca juga : Bertemu Siswa Papua, Wamen Fajar Tanamkan Semangat Persatuan dan Kepemimpinan

Ketepatan prosedur tentu dinilai, tetapi kompetensi tidak berhenti pada prosedur. Bagaimana peserta berbicara, mendengarkan, menunjukkan empati, dan membangun kepercayaan juga menentukan kualitas pekerjaannya.

Pemandangan itu terasa semakin relevan ketika dunia sedang ramai membicarakan AI dan otomatisasi. Ketika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan rutin, kualitas yang sangat manusiawi justru memperoleh makna baru:empati, komunikasi, kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan membangun kepercayaan.

Masa depan pekerjaan, dengan demikian, bukansemata-mata pertarungan antara manusia dan teknologi. Tantangannya adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik tanpa kehilangan kualitas kemanusiaannya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.