Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Inggris Vs Spanyol, Kenangan Final Euro 2024
- Jelang GP Azerbaijan, McLaren Rombak MCL40
- Tindak Lanjuti Temuan Ombudsman, Kemenimipas Investigasi Lapas Cibinong
- ASDP Hadir Dalam Duka Sampaikan Tali Kasih Bagi Keluarga Korban KM Arupadhatu I
- Safrizal Dorong Penguatan NTPD 112: Bukan Sekadar Nomor, Tapi Kecepatan Respons
Belajar dari WorldSkills Shanghai, Ketika Skill Menjadi Bahasa Dunia
Sabtu, 26 September 2026 14:54 WIB
Sebelumnya
Batas Antarprofesi Semakin Cair
Dunia kerja tidak lagi hanya mencari seseorang yang “bisa mengerjakan sesuatu”. Dunia membutuhkan orang yang mampu memahami masalah, menghubungkan berbagai pengetahuan, bekerja lintas keahlian, lalu menemukan penyelesaiannya. Ini memberi refleksi penting bagi pendidikan vokasi.
Selama ini kita sering bertanya: kompetensi apa yang harus dikuasai murid? Ke depan, pertanyaannya perlu diperluas: bisakah murid menggunakan berbagai kompetensinya untuk menyelesaikan persoalan nyata? Sebab, dunia kerja sesungguhnya jarang memberikan soal dengan jawaban yang sudah tersedia.
Semakin Canggih, Semakin Fundamental
Kontras lain terlihat ketika peserta bekerja dengan alat berat dan kendaraan tanpa awak. Pada bidangHeavy Vehicle Maintenance, mereka dihadapkan dengan mesin yang beratnya dapat mencapai lebih dari 10 ton.
Baca juga : Mansur: Belum Ada Kebijakan Khusus Bagi Guru Swasta
Namun, justru pada mesin sebesar itu, detail kecil menjadi sangat menentukan. Diagnosis, prosedur keselamatan, ketepatan tindakan, dan kemampuan membaca sistem menjadi bagian penting dari pekerjaan.
Pada bidang Unmanned Aerial Systems, peserta tidak hanya diminta menerbangkan drone. Mereka harus membongkar dan merakitnya, melakukansoldering, mengatur flight control, memprogram penerbangan otomatis, memperbaiki kerusakan, serta mengintegrasikan sensor dan algoritma.
Ada paradoks menarik di sini. “Semakin canggih teknologi, keterampilan fundamental justru semakin penting.” Ketelitian tetap dibutuhkan. Numerasi tetap diperlukan. Logika semakin penting. Kemampuan membaca instruksi dan memahami sistem tetap menjadi dasar.
Disiplin dan keselamatan kerja tidak dapat dinegosiasikan. Teknologi tidak menghapus keterampilan manusia.Teknologi justru menaikkan standar keterampilan manusia.
Ketika Otak Menjadi Alat Produksi
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Nasib Guru Swasta Kerap Dipinggirkan
Perubahan yang lebih mencolok terlihat pada kompetisi digital. Tidak ada mesin besar pada bidang lomba ini, peserta lebih banyak duduk di depan komputer. Namun, di balik layar berlangsung pekerjaan yang kompleks.
Ada 3D Digital Game Art yang mempertemukan teknologi dengan kreativitas. AdaCloud Computing yang menuntut kemampuan membangun dan mengelola infrastruktur digital.
AdaCyber Security yang menguji pertahanan sistem, simulasi serangan, hingga respons terhadap kondisi darurat. Ada pulaSoftware Testing yang memastikan aplikasi dapat bekerja secara andal dan aman.
Pada kondisi ini, kita sedang menyaksikan perubahan makna alat produksi. Mesin tidak selalu berbentuk besi. Cloud adalah infrastruktur. Data menjadi bahan baku. Software menjadi alat produksi.
Sementara itu, kemampuan berpikir menjadi modal kerja dan literasi digital tidak dapat lagi dianggap sebagai pelengkap pendidikan kejuruan. Kemampuan memahami data, berpikir komputasional, memecahkan masalah, serta menggunakan kecerdasan artifisial secara cerdas dan bertanggung jawab akan semakin melekat pada banyak pekerjaan.
Baca juga : Bertemu Siswa Papua, Wamen Fajar Tanamkan Semangat Persatuan dan Kepemimpinan
Namun, WorldSkills juga memberi pesan yang tampaknya berlawanan. Di tengah drone,cloud, keamanan siber, danIndustry 4.0, bata masih disusun satu per satu.
Kompetisi Bricklaying tetap menuntut peserta membaca gambar, mengukur, memotong, menyusun, dan melakukan finishing dengan presisi. Landscape Gardening tetap membutuhkan keterampilan tangan, perencanaan, dan kepekaan estetika.
Teknologi baru ternyata tidak otomatis menghapus keterampilan lama. Yang berubah adalah standarnya. Inilah pelajaran penting bagi SMK. Modernisasi pendidikan vokasi tidak selalu berarti membuka sebanyak mungkin program keahlian baru.
Dalam banyak hal, yang jauh lebih penting adalah menaikkan kelas keterampilan yang sudah kita miliki: lebih presisi, lebih produktif, lebih digital, lebih aman, dan lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya