Dewan Pers

Dark/Light Mode

Jadi Penggerak Ekonomi Di Asia, Indonesia Makin Tangguh

Sabtu, 12 November 2022 17:29 WIB
Foto: Ilustrasi ekonomi/Ist
Foto: Ilustrasi ekonomi/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi mengatakan, meski dunia sedang tidak kondusif saat ini, dia optimis kawasan Asia tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia. 

Hal itu dikatakan Jokowi, saat bertemu dengan Presiden Asian Development Bank (ADB) Masatsugu Asakawa di sela-sela rangkaian KTT ASEAN ke-40 dan ke-41, Phnom Penh, Kamboja, Kamis (10/11). 

Indonesia, kata Jokowi, masuk bagian dari kawasan Asia pada tahun ini berhasil memacu perekonomian di sekitar 5 persen. Jokowi juga optimis di tahun 2023 juga akan terus meningkat. 

"Di tengah ancaman resesi global, stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga. Ekonomi diperkirakan tumbuh 5,4 persen pada 2022 dan 5,0 persen pada 2023, didukung menguatnya konsumsi domestik, surplus neraca perdagangan dan kapasitas fiskal yang cukup sehat," kata Jokowi.

Pada empat kuartal terakhir, ekonomi Indonesia selalu berada pada posisi sangat baik, meski di kuartal II-2022 terjadi inflasi di beberapa daerah akibat kenaikan harga bahan pokok. Namun, Pemerintah mampu meredam inflasi tersebut dengan penyaluran subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat.

Kekuatan ekonomi Indonesia ini diakui oleh Ekonom senior Dana Moneter Internasional (IMF) Yan Carrière-Swallow.

Berita Terkait : Jabar Dan Jateng Wakili Indonesia Ke Unified Football Di Bangkok

Dia menilai, Indonesia akan selamat dari ancaman resesi dan inflasi yang diprediksi akan meningkat di tahun 2023. 

Meski demikian, ekonomi Indonesia yang saat ini berada di angka 5,72 persen akan sedikit turun akibat resesi dan inflasi di negara lain. “Namun, Indonesia masih lebih baik dari negara lain,” katanya.

Menanggapi pujian itu, pakar ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Abdul Muthalib mengaminkan pernyataan ekonom IMF itu. Pasalnya, ekonomi Indonesia saat ini sangat tangguh dan Indonesia bisa dibilang kebal dari resesi tahun depan. 

“Betul sekali yang disampaikan oleh orang-orang IMF. Saya sedikit mengulik kembali beberapa data, tapi intinya seperti ini,” kata Muthalib saat dihubungi, Sabtu (12/11).

“Kalau ekonom senior IMF bilang ekonomi Indonesia saat ini memang tangguh, kalau saya bilangnya ekonomi Indonesia saat ini kebal resesi,” sambungnya.

Dikatakan dosen Ekonomi dan Bisnis itu, di tengah banjir informasi terkait ancaman resesi dan inflasi tahun depan dan ditambah dengan perang antara Rusia dan Ukraina, makin menambah kekhawatiran seluruh negara, termasuk Indonesia. 

Berita Terkait : Penguatan Ekonomi Desa, Refleksi Implementasi Tujuan SDGs

Namun, dengan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) soal ekonomi Indonesia di kuartal III-2022 memberikan angin segar dan menghilangkan ketakutan. 

Dijelaskan Muthalib, arus dasar harga konstan berdasarkan data yang beberapa hari lalu itu sebesar Rp 2976,8 triliun. 

Sebagai catatan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,4 persen dan secara tahun ke tahun sebesar 3,72 persen.

Dibandingkan dengan kuartal I-2022, ekonomi Indonesia cuma tumbuh 5,1 persen. Secara tahun ke tahun. Tetapi terkontraksi 0,95 persen secara kuartal ke kuartal.

“Angka pertumbuhan ini menunjukkan Indonesia dapat dikatakan sebagai negara yang sangat tangguh,” jelasnya.

Menurut dia, angka tersebut bisa menjadi modal kuat untuk Indonesia menghadapi resesi dunia yang diperkirakan akan mulai di tahun 2023. 

Berita Terkait : Yandri Ngarep Perempuan Indonesia Teladani Para Pejuang

“Data yang diungkap BPS itupun meyakinkan, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Secara year on year. BPS mencatat, angka pertumbuhan triwulan III 2022 menyerap 4,25 juta tenaga kerja,” paparnya.

Dengan demikian, lanjut Muthalib, secara keseluruhan bisa dikatakan ada 135,3 juta orang yang bekerja dari tambahan 4,25 per Agustus 2022.

“Itu juga sebetulnya berdasarkan survei yang dilakukan Maret 2022. Di situ dikatakan, angka orang-orang yang bekerja per Agustus 2022 mengalami peningkatan,” tutupnya.■