Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pasca KTT G20, Indonesia Jaga Perekonomian Tetap Kondusif

Jumat, 25 November 2022 09:43 WIB
Foto: ilustrasi bahan pangan yang dijual di pasar/Istimewa
Foto: ilustrasi bahan pangan yang dijual di pasar/Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom INDEF Andri Satrio Nugroho mengatakan, Indonesia beruntung memiliki ekonomi domestik kuat. Ditambah dengan citra positif dan pencapaian kerja sama perekonomian dengan negara-negara G20.

“Ini menjadi momentum balik kepada kita di kancah internasional. Karena sebetulnya kita fokus ke dalam negeri ketimbang keluar,” ungkap Andri, Kamis (24/11).

Pernyataan Andri tersebut menanggapi klaim yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa kesuksesan Presidensi G20 membawa dampak positif terhadap citra Indoneia di mata internasional. Baik dalam sektor hubungan internasional maupun ekonomi.

"Mereka, negara-negara besar, sudah melihat bahwa ekonomi terbesar di dunia ini yang masih positif atau istilahnya the bright spot in dark adalah Indonesia dan ASEAN. Dengan demikian, alternatif investasinya, melihat Indonesia stabil secara politik dan ini stabil untuk regulasi, rule of law dari investment. Ini kesempatan bagi Indonesia berada dalam panggung dunia," kata Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar ini. 

Berita Terkait : PKB Bertahan, Tak Mau Cerai

Andri mengatakan, saat ini Indonesia sudah menjadi perhatian dunia. Asia dikenal sebagai negara yang memiliki pasar yang besar. Bahkan akan menghadapi bonus demografi ketika banyak dari anak muda mendominasi jumlah penduduk di Indonesia.

“Jumlah penduduk tinggi, pangsa pasar besar, daya beli baik, maka investor tertarik masuk ke Indonesia. Namun, apakah hanya berpuas diri sebagai pasar saja, tentu tidak,” ujar Andri. 

Untuk itulah, kata dia, perlu ditarik investasi yang berorientasi ekspor. Dengan begitu, kualitas barang produksi Indonesia bersaing di kancah dunia, sehingga kondisi perekonomian tetap impresif di tengah tekanan krisis ekonomi global.

Ketahanan Pangan

Berita Terkait : Apresiasi IOB 2022, Peran Merek Asli Indonesia Mampu Dongkrak Roda Ekonomi Indonesia

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet lebih menyoroti ketersediaan pangan untuk ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan ekonomi global.

Menurut Yusuf, pemerintah perlu mewaspadai ancaman krisis pangan global yang bisa berdampak pada harga pangan dalam negeri.

“Pemerintah perlu tetap waspada terkait kondisi ketidakpastian global. Terutama dalam konteks gejolak pangan, karena ini akan mempengaruhi pergerakan harga pangan juga di domestik," jelasnya.

Yusuf menggarisbawahi, pangan berkait erat dengan inflasi. Saat ini, harga pangan tercatat cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Berita Terkait : HNW: Indonesia Negara Hukum, Bukan Negara Kekuasaan

Apabila kenaikan harga pangan terjadi, bukan tidak mungkin inflasi juga akan ikut meningkat, atau bertahan pada level yang tinggi baik di tahun ini maupun di tahun depan.■