Dewan Pers

Dark/Light Mode

Inflasi Melandai, Momentum Bagus Jelang Nataru 2023

Sabtu, 3 Desember 2022 09:44 WIB
Foto: Ilustrasi/Istimewa
Foto: Ilustrasi/Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Inflasi November 2022 melandai dari tingkat inflasi bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi November 2022 tercatat 5,42 persen (year on year/yoy), menurun dibanding inflasi pada Oktober 2022 sebesar 5,71 persen (yoy). 

Penurunan ini ditopang inflasi Volatile Food (VF) yang menurun karena extra effort pengendalian inflasi seluruh pihak di tengah inflasi Administered Prices (AP) yang masih tinggi. Sementara secara bulanan, November tercatat mengalami inflasi sebesar 0,09 persen( mtm).

“Pencapaian inflasi Indonesia masih tetap terkendali di tengah tren inflasi tinggi di berbagai negara. Seperti Uni Eropa saat ini inflasinya 10 persen (yoy) pada November 2022. Kemudian India dan AS realisasi inflasinya masing-masing tercatat sebesar 6,77 persen (yoy) dan 7,7 persen (yoy),” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai, pelandaian inflasi pada November 2022 menjadi modal yang baik jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2023. Pasalnya, akhir tahun identik dengan kenaikan harga berbagai macam kebutuhan.

“Ini modal yang cukup baik, mengingat akhir tahun sudah mulai naik harga-harga kebutuhan secara umum. Harga telur udah mulai menanjak," katanya, Jumat (2/12).

Berdasarkan komponen, volatile food tercatat mengalami deflasi sebesar -0,22 persen (mtm) atau 5,70 persen (yoy). 

Berita Terkait : Zulhas Jamin Stok Bapok Aman Jelang Natal Dan Tahun Baru

Beberapa komoditas pangan yang menyumbang terhadap inflasi November yakni telur ayam ras, tomat, beras, tempe, tahu mentah dan bawang merah. Sementara komoditas yang menyumbang andil deflasi m-to-m yakni cabe merah dan cabe rawit masing-masing sebesar -0,08 persen dan -0,03 persen. 

Harga telur mengalami kenaikan disebabkan pasokan terbatas di tengah peningkatan permintaan sepanjang November. 

Nailul mengungkapkan, inflasi November 2022 lebih utama disumbang oleh sektor transportasi dibanding sektor pangan.

“Inflasi November masih disebabkan oleh transportasi yang inflasinya masih di angka 15 persen. Sedangkan inflasi makanan, minuman, dan tembakau berada di angka 5,87 persen," ujarnya.

Menurutnya, kenaikan BBM beberapa saat lalu masih menyisakan dampak ganda pada sektor transportasi.

“Memang dampak domino kenaikan harga BBM sudah mereda, namun efek ke transportasi masih terjadi hingga kini," pungkasnya.

Berita Terkait : Inflasi Jakarta Terendah, Pemprov DKI Didorong Tingkatkan UMKM

Dampak Positif Nataru

Ekonom dari Universitas Airlangga Rudi Purwono mengatakan, ada dampak positif dari hari raya Nataru untuk perekonomian Indonesia. Masyarakat yang bergerak, meningkat konsumsinya akan membuat perekonomian berputar meski harga sudah pasti akan naik. 

“Kondisi pada Desember, ada Natal dan Tahun Baru akan menunjang proses peningkatanpermintaan, dan akan menggerakkan ekonomi. Konsekuensinya, harga agak naik,” kata Rudi, Jumat (2/12). 

Bagi Rudi, pergerakan masyarakat di moment Nataru menjadi pendorong perekonomian yang bagus, dan bisa dinikmati semua pihak. 

“Sisi positif, ekonomi bergerak. Harapannya, ekonomi yang bergerak juga dinikmati UMKM. Tidak hanya usaha besar. Contoh hotel, bukan cuma hotel besar, losmen juga. Potensi usaha kecil makanan, oleh-oleh,“ sebut Rudi. 

Selain itu, produsen maupun pengusaha juga jangan main harga terlalu besar, untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang sedang tumbuh. 

Berita Terkait : Target Tinggi Sandy Walsh Di Pentas Piala AFF 2022

Rudi juga meminta pemerintah terus menjaga ketersediaan bahan pokok jelang libur Nataru. Terutama berkaitan dengan volatile food, misal beras, daging, bumbu dapur dan minyak goreng.

Selama barang tersedia, daya beli masyarakat juga akan terus ada. Soal inflasi, Rudi mengatakan pada Desember, inflasi bisa berada sampai 6 persen. Ini angka yang moderat dan dapat dikelola. 

Menurutnya, mobilitas mulai makin baik. Dengan adanya peningkatan permintaan, dicirikan dari inflasi yang bergerak, masih dalam koridor yang bisa dikendalikan oleh otoritas yaitu Bank Indonesia dan pemerintah.■