Dewan Pers

Dark/Light Mode

Top, BNI Kantongi Laba Bersih Tahun 2022 Hingga 18,31 T

Selasa, 24 Januari 2023 18:48 WIB
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (tengah) saat public exposeI secara virtual, Selasa (24/1).(Foto: Dok. BNI)
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar (tengah) saat public exposeI secara virtual, Selasa (24/1).(Foto: Dok. BNI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di sepanjang tahun 2022, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI sukses meraup laba bersih konsolidasi sebesar Rp 18,31 triliun, tumbuh signifikan 68 persen year on year (yoy).

Raihan laba tersebut bahkan melebihi konsensus pasar. Laba ini juga menjadi laba bersih tertinggi sepanjang sejarah BNI.

Berita Terkait : PTPP Presisi Kantongi Kontrak Rp 5,24 T Sepanjang 2022

“Kami berhasil menutup 2022 dengan mencetak kinerja impresif. Kinerja yang prima ini terwujud melalui kerja keras seluruh insan BNI dalam menjalankan kebijakan strategis yang ditetapkan. Apalagi di tengah periode pemulihan ekonomi 2022, serta upaya memastikan agenda transformasi perusahaan terus berjalan sesuai dengan blueprint,” ungkap Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam public expose secara virtual, Selasa (24/1).

Melonjaknya laba BNI, berkat didorong oleh raihan total kredit yang disalurkan di tahun 2022 tumbuh 10,9 persen yoy, dan telah mencapai Rp 646,19 triliun. Tumbuh di atas target awal perusahaa. Kemudian diikuti dengan Net Interest Margin (NIM) yang terjaga di posisi 4,8 persen.

Berita Terkait : Top, BRI Tutup Tahun 2022 Dengan Kinerja Kinclong

“Pertumbuhan kredit yang sehat ditopang oleh ekspansi bisnis dari debitur top-tier dan bisnis turunannya yang berasal dari value chain debitur,” kata Royke.  

Dari sisi likuiditas, BNI berhasil mencatatkan pertumbuhan Current Account Saving Account (CASA) yang kuat sebesar 10,1 persen, yang dihasilkan dari strategi perseroan untuk membangun transaction-based CASA, melalui penyediaan solusi keuangan dan transaksi yang komprehensif dan reliable.

Berita Terkait : Top, Lifter DKI Gondol Tiga Emas Di Piala Menpora 2022

Pertumbuhan fee-based income (FBI) pun tercatat sebesar 8,7 persen menjadi Rp 14,8 triliun. Hal ini dicapai dengan melakukan pergeseran pola pertumbuhan FBI untuk mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan biaya transfer melalui program BI Fast sejalan dengan trend menurunnya transaksi transfer antar bank.
 Selanjutnya