Dark/Light Mode

Menggali Emas dari Limbah Pertanian untuk Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan

Kamis, 18 April 2024 20:46 WIB
Budidaya BSF Oleh HMTL ITB (Foto: Dok. Pribadi)
Budidaya BSF Oleh HMTL ITB (Foto: Dok. Pribadi)

Sebagai negara agraris, pertanian khususnya beras menjadi salah satu sektor utama di Indonesia. Dilansir dari laman Republika (2021), Rektor IPB University, Arif Satria mengatakan produktivitas beras Indonesia mencapai 5,13 ton – 5,24 ton per hektar yang sedikit lebih rendah dibandingkan produktivitas Vietnam. Hal ini didukung dengan hasil riset Sensus Pertanian 2023 oleh BPS. Dalam risetnya, BPS mengatakan padi sawah inbrida menjadi komoditas yang paling banyak diusahakan UTP di Indonesia, yakni mencapai 32,08% pada tahun 2023. Namun, tingginya produktivitas pertanian di Indonesia ternyata tidak sejalan dengan harga beras yang terus melonjak tinggi.  

Dalam survei Litbang Kompas, 64,2% dari 512 responden menilai petani beras umumnya masih tergolong miskin. Beberapa penyebab utamanya adalah biaya produksi beras yang tinggi serta iklim yang tidak menentu sehingga meningkatkan resiko gagal panen. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menekan biaya produksi beras. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembuatan kebijakan pupuk bersubsidi yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 15 tahun 2011 tentang Pupuk Bersubsidi untuk Sektor Pertanian sebagai Barang Dalam Pengawasan. Namun, berdasarkan penuturan Peneliti Litbang Kompas yang dilansir dari Kompas.id (2024), Yohanes Mega dalam laporan surveinya mengatakan terjadi kelangkaan pupuk subsidi sepanjang tahun 2023 hingga saat ini.

Berbagai kebijakan lain telah dilakukan untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan. Mulai dari pemberian pupuk sintetis, hingga pengadaan sarana dan prasarana pertanian. Solusi-solusi tersebut—selain biayanya yang mahal—juga memiliki banyak kelemahan. Penambahan pupuk sintetis berlebih dapat memicu limpasan nutrisi ke badan air. Di samping itu, pupuk kimia tidak sepenuhnya dapat diserap oleh tanaman, sehingga sisa zat kimia akan terakumulasi yang lama-kelamaan dapat mengganggu keseimbangan hara pada tanah. 

Limbah Pertanian dan Permasalahan yang Muncul

Di samping mahalnya biaya pertanian dan rendahnya kesejahteraan petani, sektor pertanian juga merupakan salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK), emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian pada tahun 2018 mencapai 131.642 gigagram equivalen karbon dioksida (CO2e) yang setara dengan 8% dari total emisi gas rumah kaca di Indonesia pada tahun yang sama. Menurut UNEP,  hal tersebut dapat menyebabkan hilangnya biodiversitas, kenaikan suhu global, perubahan iklim, hingga tenggelamnya beberapa negara bagian pesisir.

Baca juga : Timteng Memanas, Kemlu Imbau WNI Tak Lakukan Perjalanan Ke Iran Dan Israel

Akibatnya, pertanian berperan sebagai “pelaku” sekaligus “korban” dari kerusakan lingkungan. Jika dibiarkan, bukan hanya kesejahteraan petani yang terganggu, tetapi ketahanan pangan Indonesia juga dapat terancam. Maka, inilah saat yang tepat untuk peralihan konsep pertanian dengan memprioritaskan restorasi dan peremajaan ekosistem. 

Potensi Limbah Hasil Tani

Menjawab persoalan tingginya biaya produksi pertanian, sekaligus timbulan limbah pertanian, penulis mengajukan inovasi berupa budidaya BSF atau Black Soldier Fly seperti yang pernah penulis implementasikan di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan. Adanya gagasan untuk mengembangkan budidaya BSF berawal dari pencemaran saluran air dan timbulnya bau di daerah tersebut. Setelah ditelusuri, pencemaran tersebut bersumber dari kegiatan peternakan sapi perah dan pertanian yang dikelola pribadi oleh masyarakat. Seperti yang kita ketahui, salah satu komoditas utama Pangalengan adalah susu sapi dan hasil tani. Sayangnya, kedua sektor ini tidak dikelola secara langsung oleh pemerintah, sehingga masyarakat terpaksa membuang limbah ke saluran air.

Di sisi lain, Kecamatan Pangalengan memiliki daya tarik pariwisata tersendiri karena keindahan alamnya. Oleh karena itu, Pangalengan berpotensi untuk merambah komoditas baru yaitu komoditas pariwisata dan komoditas makanan. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan angka budidaya ayam pedaging di kecamatan tersebut. Peningkatan kapasitas budidaya secara tidak langsung berpengaruh terhadap meningkatnya kebutuhan pakan. Harga pakan yang terus melonjak tinggi menjadi salah satu tantangan bagi peternak.

Melihat peluang tersebut, penulis dan beberapa rekan satu organisasi mengembangkan budidaya BSF sebagai solusi pakan ternak ayam pedaging sekaligus menyelesaikan permasalahan limbah organik. Limbah organik dari peternakan dan pertanian dapat digunakan sebagai media tumbuh dan nutrisi bagi telur maggot sebelum menetas menjadi pupa dan indukan.

Baca juga : Jurus Menhub Urai Kepadatan Di Merak: Maksimalkan Pelabuhan Panjang

Setelah menetas, indukan akan dipisahkan dan dibesarkan menjadi lalat untuk menghasilkan telur maggot. Sementara itu, pupa maggot akan dibiarkan menetas menjadi larva maggot. Larva maggot ini dapat digunakan sebagai campuran pakan ternak ayam pedaging tanpa adanya efek negatif terhadap pencernaan karena mengandung protein yang cukup tinggi yaitu 40-50% dengan kandungan lemak berkisar 29-32%. Kemampuannya dalam mengurai limbah organik sebagai media perkembangbiakan menjadikan BSF mudah diproduksi dalam skala massal. 

Namun, pada implementasinya tidak semua limbah pertanian dapat didegradasi oleh larva maggot. Oleh karena itu, sisa limbah organik dapat dikomposkan sehingga menekan biaya kebutuhan pupuk untuk pertanian. Dengan demikian, budidaya BSF dapat menjadi salah satu alternatif permasalahan limbah organik sekaligus menjadi sirkular ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Renewable Energy dari Limbah Jerami

Selain limbah hasil tani, pertanian beras juga menghasilkan limbah Jerami yang tinggi. Pada tahun 2018, produksi padi di Indonesia mencapai 59,2 juta ton dengan pemanfaatan jerami padi untuk dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk sebesar 36-62% (Rhofita, E. I., 2016). Jerami mengandung 33-44% selulosa, 20-25% hemiselulosa, dan 15-20% lignin, ketiga zat kimia tersebut merupakan bahan baku utama dalam proses pembuatan bioetanol (Khaidir, 2016). Limbah jerami dikonversi menjadi gas sintesa melalui gasifikasi dan dilakukan pemurnian gas untuk kemudian dikonversi menjadi etanol melalui proses katalisis. Melalui reaksi termokimia ini, potensi etanol dari jerami padi menurut Kim & Dale (2004) adalah 0,28 liter/kg.

Jika meninjau produksi limbah jerami dan konsumsi bahan bakar minyak bumi di Indonesia, maka pemanfaatan 18% limbah jerami saja dapat berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan tingginya biaya pertanian, sekaligus menjadi potensi energi terbarukan.

Baca juga : Real Madrid Mau Permanenkan Bintang Espanyol

Penutup

Beberapa gagasan yang penulis ajukan di atas sejatinya berangkat dari keresahan pribadi terhadap permasalahan pertanian yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap krisis ekonomi dan penerapan beberapa poin SDGs. Jika dibiarkan terus-menerus, permasasalahan ini akan memperpanjang jarak Indonesia dengan terciptanya pertanian yang berkelanjutan.

Untuk menghindari hal tersebut, melalui budidaya BSF dan pengolahan jerami menjadi bioetanol penulis berharap adanya sinergi maksimal antara pemerintah, stakeholders, dan masyarakat Indonesia. Dengan adanya langkah kerja sama, maka realisasi poin SDGs ke-3 (kesejahteraan dan kesehatan yang baik), poin SDGs ke-12 (produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab), serta poin SDGs ke-13 (tindakan iklim) bukanlah sebuah hal yang mustahil, sehingga lingkungan berkelanjutan di masa yang akan datang dapat terwujud.

Nasywa Dhiya Kamila
Nasywa Dhiya Kamila
Nasywa Dhiya Kamila

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.