Dark/Light Mode

Patok Produktivitas Petani Tebu 8 Ton Per Hektar

Dirut PTPN Kejar Target Swasembada Gula 2028

Kamis, 26 September 2024 07:05 WIB
Direktur Utama PTPN III, M. Abdul Ghani dan  Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia, Panji W Ruky.
Direktur Utama PTPN III, M. Abdul Ghani dan Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia, Panji W Ruky.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN III dan PT Pupuk Indonesia (Persero) tengah berupaya mewujudkan swasembada pangan Indonesia melalui program peningkatan produktivitas petani. Salah satunya, menggenjot pertanian tebu untuk mengejar target swasembada gula pada 2028.

Direktur Utama PTPN III Abdul Ghani mengatakan, ada lima komoditas utama yang di­anggap strategis untuk mencapai kemandirian pangan, yaitu kelapa sawit, gula, kopi, teh dan karet.

Dia menyebut, lima komoditas tersebut menjadi fokus usaha PTPN dalam lima tahun ke depan.

“Yang salah satu targetnya kami bisa swasembada gula pada 2028,” ujar Ghani dalam diskusi Penguatan BUMN Menuju In­donesia Emas, di Jakarta, Senin (23/9/2024).

Menurut Ghani, swasem­bada gula tidak hanya akan berdampak pada ketersediaan produk di pasar, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan petani.

Baca juga : Bakal Join CPTPP, Airlangga Gercep Lobi Negara Anggota

Bahkan, hal ini juga akan mengurangi ketergantungan pada impor dan menghemat devisa negara.

Untuk itu, pihaknya tengah berupaya meningkatkan produk­tivitas tebu petani yang saat ini hanya 5 ton per hektare (ha).

Sebagai informasi, pada 100 tahun lalu atau pada 1930, produktivitas tebu di Indonesia, khu­susnya di Pulau Jawa, terdapat 102 ribu ha tanaman tebu dengan produksi 3 juta ton.

Artinya, kata dia, produktivi­tas tanaman tebu bisa mencapai 15 ton per hektar per tahun.

“PTPN sudah mempunyai program meningkatkan produk­tivitas petani, dari 5 ton per hektar, menjadi 8 ton per hektar pada 2028,” katanya.

Baca juga : IPA Buaran III Siap Pasok Air Ke 300 Ribu Keluarga

Untuk mencapai target itu, pi­haknya akan memasok varietas tebu terbaik ke petani-petani lokal, menerapkan teknologi pertanian, perbaikan Pabrik Gula (PG) dan sebagainya.

Saat ini ada 120 ribu hektar lahan milik petani yang dikolaborasikan dengan PTPN. Sedangkan luas tanaman tebu PTPN di atas 500 ribu ha.

Bila berkaca pada 100 tahun lalu, kata dia, dengan luas 500 ribu ha maka produksinya men­capai 7,5 juta ton.

“Kalau produktivitas kita sekarang sama dengan 100 ta­hun lalu, kita tidak perlu impor gula, bahkan kita bisa ekspor,” tegasnya.

Ia meyakini, bila produktivi­tas petani tebu bisa meningkat, maka biaya pokok produksi juga bisa ditekan hingga 50 persen.

Baca juga : AS Roma Vs Athletic Bilbao, Uji Nyali Pelatih Baru

“Kalau ini tercapai, struktur biaya petani turun dari Rp 12 ribu ke Rp 6 ribu. Pada akhirnya, harga gula di tingkat konsumen juga bisa menurun,” katanya.

Selain gula, perseroan juga akan fokus pada komoditas ke­lapa, guna mendukung produksi minyak goreng dan biodiesel. Dia mengingatkan, Indonesia pernah dilanda masalah keterse­diaan minyak goreng. Untuk an­tisipasi kejadian itu tak berulang, PTPN berupaya memproduksi 1,8 juta ton minyak goreng.

“Jumlah ini, sama halnya dengan memenuhi 40 persen kebutuhan nasional,” bebernya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.