Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Good News, Sektor Jasa Keuangan Stabil Di Tengah Tren Pelonggaran Moneter
Selasa, 1 Oktober 2024 18:44 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menegaskan, stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga stabil di tengah sentimen positif akibat periode cut cycle bank sentral, dan melemahnya prospek aktivitas perekonomian dunia. Di tengah situasi tersebut, pasar keuangan juga dilaporkan menguat.
Mahendra menjelaskan, pertumbuhan ekonomi terindikasi mengalami penurunan di mayoritas negara utama (syncronised slowdown).
Di Amerika Serikat (AS), The Fed menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi di tahun 2024, diikuti kenaikan level pengangguran dan penurunan inflasi.
Di China, perekonomian kehilangan momentum pemulihannya, setelah sisi produksi yang selama ini menopang pertumbuhan mulai menghadapi tekanan. Hal ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang melambat, sehingga mendorong tingkat pengangguran naik ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Tingkat pengangguran muda (youth unemployment) pun dilaporkan meningkat.
Baca juga : Jokowi Sukses Jaga Stabilitas Ekonomi, Pengamat: Sangat Luar Biasa!
Tekanan perekonomian Eropa yang semakin dalam, terlihat dari penurunan outlook pertumbuhan dan proyeksi inflasi yang meningkat.
"Perkembangan tersebut mendorong bank sentral global memulai siklus penurunan suku bunga yang cukup agresif," kata Mahendra dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Dalam situasi ini, Bank Sentral AS The Fed menurunkan Fed Funds Rate sebesar 50 bps, yang secara historis pernah dilakukan pada saat global financial crisis tahun 2008 dan pandemi Covid tahun 2020.
Di China, Bank Sentral People's Bank of China (PBoC) cukup agresif dalam mendukung perekonomian, dengan menurunkan suku bunga kebijakannya.
Baca juga : Semangati Dai Berdakwah di Daerah Terpencil, BMH Sulteng Berikan Motor
Gubernur PBoC berjanji akan mengambil kebijakan akomodatif lanjutan seperti menurunkan GWM 50 bps untuk meningkatkan likuiditas perbankan, penurunan uang muka pembelian rumah, serta memperpanjang dukungan ke sektor properti selama 2 tahun.
Selain itu, kebijakan fiskal di China juga akomodatif.
Di Eropa, Bank Sentral European Central Bank (ECB) dan Bank Sentral Bank of England juga telah memulai siklus penurunan suku bunga. Kebijakan moneter global yang akomodatif mendorong kenaikan likuiditas di pasar keuangan.
Hal ini tercermin dari penguatan pasar keuangan global di mayoritas negara.
Baca juga : ISFO 2024, OJK Komit Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah Di Kalangan Generasi Muda
"Aliran modal cukup besar ke pasar keuangan emerging market mulai terjadi, termasuk ke pasar keuangan Indonesia," ujar Mahendra.
Di domestik, kinerja perekonomian masih terjaga stabil di tengah penurunan pertumbuhan ekonomi global. Inflasi terpantau terjaga stabil seiring mulai terkendalinya inflasi pangan, serta neraca perdagangan mencatatkan peningkatan surplus sejak Juli 2024.
"Langkah Bank Indonesia menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps ke level 6 persen, diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perekonomian domestik dan memperkuat kapasitas lembaga jasa keuangan (LJK) dalam menyalurkan pembiayaan," pungkas Mahendra.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya