Dark/Light Mode

The Circulate Initiative Bersama Swasta dan Pemerintah Atasi Permasalah Sampah Laut

Jumat, 11 Oktober 2024 10:25 WIB
Peluncuran Inisiatif Pengadaan Bertanggung Jawab untuk mengatasi masalah sampah plastik di laut. (Foto: Istimewa)
Peluncuran Inisiatif Pengadaan Bertanggung Jawab untuk mengatasi masalah sampah plastik di laut. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - The Circulate Initiative, sebuah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk mengatasi permasalahan polusi plastik di lautan pada negara berkembang, mengumumkan bahwa Indonesia akan menjadi negara kedua untuk penerapan Inisiatif Pengadaan Bertanggung Jawab. Ini adalah program global tahunan yang dirancang untuk mengatasi tantangan hak asasi manusia yang paling mendesak dalam value chain daur ulang plastik.

Inisiasi proyek implementasi di Indonesia dilakukan setelah peluncuran di Viet Nam awal tahun ini, mendahului proyek serupa yang direncanakan di India dan Kenya. Dengan tujuan untuk meningkatkan penghidupan pada sekitar 50.000 pekerja informal sektor limbah pada 2026 di beberapa pasar tertentu, inisiatif global ini juga bertujuan untuk memastikan komitmen dari lebih dari 50 merek global, investor, pengolah daur ulang, dan pengumpul untuk mengadopsi sebuah kerangka kerja terpadu, yang menawarkan pendekatan praktis dalam menerapkan praktik sourcing yang bertanggung jawab.

Di Indonesia, pekerja informal sektor limbah memainkan peran penting dalam pengelolaan limbah plastik, dengan mengumpulkan sekitar 1 juta ton limbah per tahun. Pada 2025, Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan limbah sebesar 30 persen dan pengurangan sampah plastik di laut sebesar 70 persen, sebuah target ambisius yang tidak dapat dicapai tanpa kontribusi dari sektor informal.

Baca juga : DPN Beri Gelar Menteri Soeharto Bapak Peternak Sapi Perah Rakyat

The Coca-Cola Company dan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) akan bermitra dengan Yayasan Mahija Parahita Nusantara untuk mendukung penerapan praktik sourcing yang bertanggung jawab dan membantu meningkatkan penghidupan para pekerja informal sektor limbah dalam value chain mitra daur ulang, PT Amandina Bumi Nusantara di Indonesia.

Pengumuman ini disampaikan saat perwakilan dari pengolah dan pengumpul daur ulang lokal, asosiasi pekerja limbah, pemerintah, dan perusahaan global berkumpul di Jakarta pada 3-4 Oktober 2024 untuk memperdalam pemahaman tentang rantai pasokan yang bertanggung jawab serta kebutuhan dan perspektif pekerja informal sektor limbah di Indonesia, yang dikenal secara lokal sebagai “pemulung.”

Program Director di The Circulate Initiative, Annerieke Douma, mengatakan bahwa menciptakan pendekatan yang dapat mengubah sistem ini bertujuan untuk memastikan rantai pasokan yang bertanggung jawab yang membutuhkan kolaborasi dan komitmen dari semua pemangku kepentingan di sepanjang value chain daur ulang plastik.

Baca juga : Nelayan Tradisional Ngarep Pemerintah Atasi Pembuangan Limbah Ke Laut

"Di Indonesia, pemulung memiliki peran penting dalam membantu mengatasi krisis polusi plastik dan kami berharap dapat bekerja sama dengan mereka dengan tujuan mengatasi tantangan serta memastikan hak-hak mereka dihormati,” ucapnya, seperti keterangan yang diterima redaksi, Jumat (11/10/2024).

Senior Vice President, Global Human Rights, Labor, and Employee Relations di The Coca-Cola Company, Paul Lalli, mengatakan kontribusi sektor pengumpulan limbah informal sangat penting untuk mendorong ekonomi sirkular dan membantu memastikan pasokan plastik daur ulang berkualitas tinggi yang konsisten di Indonesia. Penghormatan terhadap hak asasi manusia pada mereka yang bekerja di sektor ini sama pentingnya.

"Kami bangga mendukung Inisiatif Pengadaan Bertanggung Jawab dari The Circulate Initiative dan berharap dapat bekerja sama dengan mitra lokal seperti Yayasan Mahija Parahita Nusantara dan PT Amandina Bumi Nusantara dalam proyek-proyek yang membantu memperdalam pemahaman industri tentang rantai pasokan yang bertanggung jawab," ujarnya.

Baca juga : Promosikan Pembangunan Berkelanjutan, Jakarta Dukung Forum Pemerintah Kota Negara ASEAN

Direktur Utama PT Amandina Bumi Nusantara, Suharji Gasali, mengatakan bahwa pihaknya sangat bergantung pada keterampilan dan kontribusi pekerja informal sektor limbah, yang memasok limbah plastik berkualitas tinggi untuk didaur ulang. "Kami sangat senang bisa menjadi bagian dari inisiatif ini, untuk menerapkan praktik di dalam rantai pasokan kami sendiri yang dapat meningkatkan kondisi mereka dan menjadi model bagi rantai pasokan lainnya di Indonesia maupun negara lain,” ujarnya.

Ketua Yayasan Mahija Parahita Nusantara, Ardhina Zaiza, berharap dapat terus melanjutkan kolaborasi dan kemitraan yang erat dengan masyarakat yang tergabung dalam komunitas pemulung untuk mengeksplorasi peluang baru guna meningkatkan kesejahteraan mereka. "Inisiatif ini merupakan kesempatan bagi kami untuk menyelaraskan upaya dalam mendukung mata pencaharian para pemulung, karyawan, dan keluarga mereka,” imbuhnya.

Peluncuran ini selaras dengan rilis terbaru The Circulate Initiative berjudul Kerangka Kerja Terpadu untuk Pengadaan Plastik Daur Ulang yang Bertanggung Jawab (Kerangka Terpadu), sebuah upaya global pertama yang bertujuan untuk menetapkan serangkaian indikator yang terpadu dan dapat diterapkan bagi pembeli plastik daur ulang dan organisasi lainnya dalam menerapkan praktik rantai pasokan yang bertanggung jawab. Dengan menggunakan kerangka kerja ini, hasil dari proyek di Indonesia dapat dievaluasi, dengan wawasan yang akan dibagikan dan diterapkan ke pasar lainnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.